Akhirnya, hari ini tiba. Hari yang memasuki pintu-pintu hidup selanjutnya. Hari dimana kemungkinan-kemungkinan baru terbuka. Dan kami memutuskan untuk memasuki kemungkinan-kemungkinan baru yang entah apa, kami tak tahu. Tapi hari ini kami memutuskan apa yang kami tahu : menikah. Pintu yang memasuki segala entah. Kami percaya bahwa dengan berdua, akan menjadi banyak kemungkinan baru. Cinta yang kami yakini hingga melangkahkan kami ke “hari nikah” ini adalah cinta yang selalu kami harapkan menumbuhkan segala hal. Bukan cinta yang berarti satu tambah satu berarti menyatu, tetapi satu tambah satu yang bisa berarti dua, tiga, lima dan seterusnya. Sebab setiap manusia yang dilahirkan Tuhan memiliki sikap dan perbedaan-perbedaannya masing-masing, tidak harus melebur jadi satu karena pernikahan. Justru ia harus menumbuhkan “yang banyak”, melahirkan kemungkinan-kemungkinan baru yang lebih banyak, melahirkan kebaikan-kebaikan yang berguna bersama. Dan karena itulah kami belajar untuk menjadi dewasa, bukan semata karena usia, tetapi dalam laku dan pikiran, juga dalam rasa. Sebab dewasa juga adalah pertemuan-pertemuan (yang kadang pahit) dengan diri sendiri.
Nabi Saw bersabda; “aku dibuat mencintai”, cinta disini adalah anak rohani. Jika cinta harus ditempuh dengan nilai-nilai praktis, ketahuilah itu bukan cinta, tapi kehendak. Cinta berbeda dengan kehendak. [Ibnu Arabi, Fushusul al-Hikam; 4/259, 2/189 dan Dzakha’ir al-A’laq)
Kamis, 12 Maret 2020
Rabu, 02 Agustus 2017
Puasa
Saya
menjadi teringat pertanyaan Ibu tatkala menanyakan kepada Bapak sebuah
pertanyaan ketika Bapak memutuskan pensiun dini.
“Pak, Bapak
kenapa mau pensiun dini? Banyak
kesempatan Pak buat Bapak mendapatkan posisi?”
Lalu dengan
tersenyum Bapak berkata,
“Gak Bu,
sudah cukup”
Potongan
percakapan itu kembali teriang dikepala saya akhir-akhir ini. Kala itu Bapak
saya berusia kurang lebih 40an tahun. Usia dimana setiap orang yang bekerja
mendapatkan posisi yang sangat strategis dalam berkarier. Namun, bapak memilih
untuk mundur. Bapak pergi meninggalkan semua. Padahal semua ada didepan
matanya. Jika mau , ia bisa mendapatkan posisi lebih baik menurut orang-orang.
Banyak yang lain mencegah keinginanya, tapi ia tetap memilih pensiun dini/
Selasa, 06 Desember 2016
Surat Hari Pertama
Sudah berhari-hari saya menunggu hujan. Saya ingin melihat air turun dari langit lalu berlomba-lomba mencari jalan untuk sampai ke muara. Saya rindu bau tanah sehabis hujan. Hujan memberiku hati sejuk sekaligus kenangan-kenangan yang mengukir dipikiran.
Hujan memberi pertanda beribu-ribu tanda kemesraan Tuhan kepada setiap mahkluknya. Ia menjadikan air menjadi pelepas dahaga bagi daun-daun yang kering, sungai-sungai yang kerontang kembali mengalir, burung-burung berlarian kembali ke sarang dan manusia mulai mencari keteduhan agar tak basah.
Hari ini adalah hari pertama dari sekian waktu jarak memisahkan saya dengan kamu. Entah berapa kilometer lagi rindu kembali menemukan rumahnya. Ini bukan pertama kalinya berjarak waktu. Tapi ini pertama kalinya aku berjarak tanpa menyapamu. Hari-hari ini aku harus membiasakan diriku tanpa dirimu, Mas.
Mas, kamu pasti ingat hampir tiap hari setiap kita berdua pulang kerja, ada waktu kita makan bersama. Ada kalanya aku sering ngotot memasak untuk kamu meskipun kamu pasti tidak setuju. Kamu tidak ingin aku lelah setelah seharian bekerja. Tapi aku tahu, kamu tak pernah menolak setiap masakanku. Kamu bilang masakanku enak. Tumis kangkung adalah masakan kesukaanmu. Biasanya dengan tempe goreng kamu lahap memakan.
Aku tahu, niatmu membeli banyak buku resep masakan, seperti Mustika Rasa" sebuah buku tentang resep masakan di era Soekarno bukanlah tanpa alasan. Harga buku itu amat mahal. Tapi bagimu membeli buku itu perlu menurutmu. Kamu tentu tahu, aku sangat menyukai bumbu-bumbu dan rempah-rempah Nusantara. Aku sangat menyukai tempat rempah-rempah yang dijual dibeberapa toko. Kamu mengerti sekali bahwa aku punya cita-cita untuk ke Maluku, menjelajahi Ternate dan Tidore. Tempat rempah-rempah berjaya pada masanya. Kamu paham benar mengapa aku ingin sekali ke pulau Banda Neira tempat banyak sekali tokoh nasional dibuang karena aku ingin mencari akar kembali. Sehabis membeli buku itu kamu bilang "Nduk entar masak dari buku ini, ya?" lalu aku pun mengangguk.
Kamu tahu, aku punya mimpi bahwa anak-anak kelak selain harus menjadi dirinya sendiri yang merdeka, masa depan mereka juga ditentukan oleh masakan dirumah. Apakah makanannya dibuat secara instant atau dengan rempah yang memasaknya membutuhkan rasa dan cinta kasih. Aku bilang kepadamu, hasilnya akan berbeda. Anak-anak harus tumbuh dengan otentik kataku. Tidak tercerabut apapun dari akar bapak maupun ibunya. Maka kitalah yang harus mencari akar kita dan menurunkannya, termasuk makanan yang tersaji kepadanya.
Mas,beberapa hari ini aku sibuk menulis. Laporan bertumpuk seperti aku dikejar oleh setan. Tapi seperti katamu, "kamu harus berikan yang terbaik dari dirimu, jangan pernah mengecewakan orang yang memberikan kepercayaan padamu". Itu aku pegang kuat dalam mengerjakan apapun.
Mas, aku rindu sapaanmu. Tapi tugasmu jauh lebih membuatku kuat. Kamu disana memberi ilmu, berbagi kebaikan. Tak ada yang membahagiakan kecuali kamu bisa membahagiakan dan berbagi ilmu dengan orang banyak. Itu jelas-jelas kebahagian utama bagiku. Cinta, seperti janji kita, tak ada gunanya bila tak memberikan manfaat bagi sesama.
Kaliurang, dibawah hujan deras.
6 Desember 2016
Hujan memberi pertanda beribu-ribu tanda kemesraan Tuhan kepada setiap mahkluknya. Ia menjadikan air menjadi pelepas dahaga bagi daun-daun yang kering, sungai-sungai yang kerontang kembali mengalir, burung-burung berlarian kembali ke sarang dan manusia mulai mencari keteduhan agar tak basah.
Hari ini adalah hari pertama dari sekian waktu jarak memisahkan saya dengan kamu. Entah berapa kilometer lagi rindu kembali menemukan rumahnya. Ini bukan pertama kalinya berjarak waktu. Tapi ini pertama kalinya aku berjarak tanpa menyapamu. Hari-hari ini aku harus membiasakan diriku tanpa dirimu, Mas.
Mas, kamu pasti ingat hampir tiap hari setiap kita berdua pulang kerja, ada waktu kita makan bersama. Ada kalanya aku sering ngotot memasak untuk kamu meskipun kamu pasti tidak setuju. Kamu tidak ingin aku lelah setelah seharian bekerja. Tapi aku tahu, kamu tak pernah menolak setiap masakanku. Kamu bilang masakanku enak. Tumis kangkung adalah masakan kesukaanmu. Biasanya dengan tempe goreng kamu lahap memakan.
Aku tahu, niatmu membeli banyak buku resep masakan, seperti Mustika Rasa" sebuah buku tentang resep masakan di era Soekarno bukanlah tanpa alasan. Harga buku itu amat mahal. Tapi bagimu membeli buku itu perlu menurutmu. Kamu tentu tahu, aku sangat menyukai bumbu-bumbu dan rempah-rempah Nusantara. Aku sangat menyukai tempat rempah-rempah yang dijual dibeberapa toko. Kamu mengerti sekali bahwa aku punya cita-cita untuk ke Maluku, menjelajahi Ternate dan Tidore. Tempat rempah-rempah berjaya pada masanya. Kamu paham benar mengapa aku ingin sekali ke pulau Banda Neira tempat banyak sekali tokoh nasional dibuang karena aku ingin mencari akar kembali. Sehabis membeli buku itu kamu bilang "Nduk entar masak dari buku ini, ya?" lalu aku pun mengangguk.
Kamu tahu, aku punya mimpi bahwa anak-anak kelak selain harus menjadi dirinya sendiri yang merdeka, masa depan mereka juga ditentukan oleh masakan dirumah. Apakah makanannya dibuat secara instant atau dengan rempah yang memasaknya membutuhkan rasa dan cinta kasih. Aku bilang kepadamu, hasilnya akan berbeda. Anak-anak harus tumbuh dengan otentik kataku. Tidak tercerabut apapun dari akar bapak maupun ibunya. Maka kitalah yang harus mencari akar kita dan menurunkannya, termasuk makanan yang tersaji kepadanya.
Mas,beberapa hari ini aku sibuk menulis. Laporan bertumpuk seperti aku dikejar oleh setan. Tapi seperti katamu, "kamu harus berikan yang terbaik dari dirimu, jangan pernah mengecewakan orang yang memberikan kepercayaan padamu". Itu aku pegang kuat dalam mengerjakan apapun.
Mas, aku rindu sapaanmu. Tapi tugasmu jauh lebih membuatku kuat. Kamu disana memberi ilmu, berbagi kebaikan. Tak ada yang membahagiakan kecuali kamu bisa membahagiakan dan berbagi ilmu dengan orang banyak. Itu jelas-jelas kebahagian utama bagiku. Cinta, seperti janji kita, tak ada gunanya bila tak memberikan manfaat bagi sesama.
Kaliurang, dibawah hujan deras.
6 Desember 2016
Selasa, 09 Agustus 2016
Frustasi Pendidikan : Sebuah Pengalaman Pribadi Untuk Merespon Full Day School
Dua hari yang lalu, saya sempat
tertegun membaca potongan berita dari seorang teman facebook yang mengabarkan
bahwa menteri pendidikan, Muhadjir Effendy
akan menerapkan sistem full day school. Sistem ini ditujukan untuk
anak-anak SD dan SMP untuk seharian penuh di sekolah. Alasannya, agar mereka
tetap bisa diawasi dan tidak terjadi hal-hal yang menyimpang jika pulang
sekolah sementara orang tua masih bekerja. Sang menteri kini telah berniat
untuk sesegera mungkin mensosialisasikan hal tersebut ke sekolah-sekolah negeri
maupun swasta, dari tingkat nasional hingga tingkat daerah. [1]
Membaca berita ini mata saya
langsung merah dan saya rasanya pengen teriak sekencang-kencangnya. Saya
termasuk anak korban dari kurikulum dan
sudah bertahun-tahun merasa terdzolimi oleh sistem pendidikan yang berantakan
di negeri ini. Saya merasa dampak itu masih berpengaruh signifikan pada diri
saya pribadi dan sampai hari ini saya
masih berusaha menghilangkan hal itu. Tidak mudah. Ada semacam trauma yang tidak berkesudahan dan
saya baru mulai bisa pelan-pelan bangkit setelah sampai jejang kuliah S1,
dimana saya masuk pada departemen dan fakultas yang sesuai dengan minat saya.
Sebagai ilustrasi sederhana, saya
masuk di sebuah sekolah dasar yang memberikan ruang untuk bergerak sangat luas.
SD saya dikelilingi sawah dan sungai. Saya biasa pulang sekolah bermain di
selokan, memancing ikan di sungai bahkan mandi di sungai selepas olahraga.
Guru-guru saya membebaskan saya untuk mengekspresikan apa yang saya sukai.
Mereka tak monoton mengajar di kelas. Kadang jika kelas menggambar atau menulis
puisi, kami dibebaskan berada diluar kelas untuk mencari inspirasi. Tiap musim
hujan, area lompat jauh adalah tempat favorit karena bisa main digenangan air
sepuasnya. Kasti adalah olahraga sehari-hari, lompat tali, main kelereng, petak
umpet, makan kwaci, godril, manisan, mencari buah duwet dan kedodong adalah
ritual, memanjat pohon kesemek adalah kenikmatan. Di kelas, kami terbiasa
mendongeng didepan kelas, telinga kami juga terbiasa mendengar dongeng tentang
kisah nabi-nabi dari guru agama kami, dari situ kami belajar menjadi pendengar
yang baik.
Saya juga termasuk anak yang
aktif dalam berbagai lomba. Saya dulu ikut olahraga tenis meja hingga tingkat
provinsi. Guru dan bapak saya paham, saya anak yang tak bisa diam, maka
kemudian keaktifan saya disalurkan lewat olahraga. Selain itu, saya juga ikut
pramuka siaga dan ikut berbagai lomba didalamnya. Di SD kira-kira ada 20 piagam
yang saya dapat dari berbagai macam lomba. Hingga kemudian, tahun 2001 awan
hitam mulai menyelimuti kehidupan saya. Kenikmatan lahir batin dimasa SD lenyap
seketika dengan terror bernama kurikulum dan ujian nasional.
Bulan juni 2001, saya masuk
sebuah sekolah favorit di kota saya.
Saya mendaftar bersama bapak saya. Dari sebuah sekolah dasar yang penuh dengan
pembelajaran dan bermain, berubah menjadi tembok penjara. Hidup saya, saya
habiskan dengan 17 mata pelajaran, 8 jam sehari dalam 1 minggu. Setiap hari
saya harus membawa buku berat dan berjalan kaki kurang lebih 1 kilometer menuju
sekolah dari jalan raya. Saya harus melepas latihan tenis meja saya, karena
banyak waktu yang tersita untuk belajar. Saya harus berkompetisi di bidang yang
tak pernah saya suka. Saya pembenci ilmu eksak tapi saya dipaksa dikelas untuk
belajar apa yang tidak saya suka. Saya harus belajar fisika, biologi,
matematika dan nilai saya memburuk. Saya mendapatkan peringkat paling buncit,
sementara di sekolah dasar saya selalu juara kelas. Ini membuat saya frustasi, saya
menjadi benci pada sekolah. Sekolah di bangku SMP adalah hal yang paling
menyiksa. Saya dipaksa untuk duduk saja didalam kelas selama 8 jam. Tiap pagi,
berangakat sekolah adalah hal yang paling menyiksa. Puncaknya, nilai matematika
saya semua mendapat 5 selama hamper 4 semester. Saya ingin menangis setiap
hari. Kalau bukan ibu yang menyuruh saya bertahan, saya sudah quit dari sekolah. Ibu saya hanya
bilang bertahan saja nduk, setidaknya ini satu-satunya jalur yang bisa kamu
tempuh. Sabar saja ya. Saat itu, tak ada opsi sekolah alternatif di kota saya
yang bisa membuka ruang bagi kreatifitas, misalkan sekolah alam atau sekolah
seni dll. Ibu kemudian memberikan kebebasan bagi saya untuk ikut aktivitas yang
saya suka diluar pelajaran, ibu menyuruh saya les yang saya suka, les menyanyi, ikut pramuka sebagai ganti
aktifitas fisik olahraga, ikut karate dll. Tujuannya sederhana, agar saya tidak
stress dan frustasi. Nilai saya yang jelek pun tidak pernah diungkit sama ibu.
Dia tahu saya sudah banyak pikiran dan kacau karena pelajaran yang bertubi. Ia
ingin saya anaknya selamat, setidaknya saya harus lolos dulu di SMP.
Saya lulus dari SMP dengan beban
berat seperti bertarung. Saya frustasi dan stress. Imun saya menurun dengan
munculnya alergi dalam tubuh saya. Saya gampang sakit. Masuk SMA, dibangku
kelas 1, kejadian berulang. Namun sepertinya saya lebih terlatih. Saya mulai
bisa memilah dan masa bodoh dengan pelajaran yang saya benci. Saya gak peduli
dengan nilai-nilai. Saya berfokus saja pada apa yang saya suka. Saya gak
perduli kata orang soal bodohnya saya di kelas. Hidup 3 tahun penuh siksaan
kurikulum masa SMP, tidak boleh lagi terulang. Ketika masuk kelas 2 SMA, saya
memutuskan masuk ke jalur ilmu sosial. Alasan saya sangat mendasar, saya pembeci
ulung pelajaran hitungan. Di jurusan ilmu sosial, saya mulai menata ulang
kehidupan sekolah saya. Saya mencoba bangkit pelan-pelan. Saya membangun
pertemanan menjadi lebih baik. Dulu saya amat tertutup karena banyak orang
menganggap saya bodoh karena gak pinter matematika, fisika, kimia, dll. Saya
belajar berempati lagi banyak anak-anak yang mungkin nasibnya seperti saya
ketika remaja. Saya membangun pertemanan kecil agar tak kesepian, saya tidak
punya genk. Hanya 2-3 teman dekat yang saya punya. Sebagian yang lain adalah
teman-teman kelas biasa saja.
Di kelas 2 SMA inlah saya mulai
tahu bagaimana membagi focus dan menangani kesedihan saya. Saya pelan-pelan
bisa belajar dengan cermat karena mata pelajaran yang tidak banyak. Jumlah jam
belajar saya juga tak banyak. Saya mulai dekat dengan laki-laki juga. Saya
mulai sering jalan-jalan, menjadi teman curhat banyak teman dan membaca buku
yang saya suka, sejarah dan sosiologi. Saya mulai senang membaca Tempo. Saya
lebih suka membelanjakan uang untuk membeli buku. Saya merasa bisa bicara
didepan orang banyak. Lebih banyak ruang untuk diskusi, negosiasi dan bisa
belajar tentang toleransi. Waktu saya
seolah kembali ke zaman SD. Banyak bermain, tidak terbebani meski ada ujian
nasional karena saya merasa jauh lebih nyaman pada diri saya sendiri pada waktu
itu sebagai remaja. Semuanya bisa saya kendalikan dengan baik. Hal itu terlihat
ketika saya diterima di 3 universitas negeri secara bersamaan. Hingga akhirnya
saya memutuskan masuk ke UGM.
Di UGM, saat itu tahun 2007. Saya
tercatat sebagai mahasiswa FISIPOL. Saya meninggalkan kota kelahiran saya dan
memulai hidup mandiri. Awalnya saya takut, tapi saya tahu kalau tidak pergi
maka saya tidak akan pernah mandiri. Berdiri di Sansiro, menghadap ke timur, datanglah
diatas plaza fisipol dekan waktu itu, Pak Mochtar Masoed. Saya yang baru kenal
ospek merasa takut kalau ada kekerasan dan perploncoan. Masih lugu dan sambil
tertunduk, saya mendengar ucapan beliau, kurang lebih ucapannya seperti ini;
“Hari ini kalian semua, selamat datang
di FISIPOL, kampus kalian, rumah kalian. Anggaplah ini adalah rumah kalian
tumbuh dan mendapatkan segala macam ilmu. Dengarkanlah semua, pelajarilah
semua, bacalah semua, lalu pilihlah yang kalian anggap benar menurut hati
nurani kalian. Kalian disini bukan lagi anak-anak SMA, kalian disini datang
sebagai manusia yang dihargai kemanusiaanya”
Selama 17 tahun hidup, saya tidak
pernah merasakan diajak berbicara sebagai manusia. Saya tertegun dan sempat
meneteskan air mata, namun buru-buru saya hilangkan. Selama saya hidup, pasca
duduk dibangku SMP, saya hanya dianggap murid robot. Tak pernah diajak bicara
secara setara, dianggap manusia. Saya
hanya jadi korban untuk menerima kurikulum tanpa pernah saya ditanya apakah
bersedia atau tidak. Saat itu saya mengingat masa-masa paling pedih yang saya
harus habiskan tiap harinya di sekolah dengan penuh beban, selama 8 jam
belajar. Frustasi dengan nilai dan ujian. Sementara orang tua saya tidak bisa
berbuat banyak karena hanya mekanisme formal itulah yang harus saya lalui. Tidak
ada cara yang lain. Merekalah yang membuat saya mau dan mampu bertahan.
Setelah 9 tahun, pasca saya menginjakan kaki di kampus, saya merasa menjadi lebih baik. Saya tahu bertapa bobroknya kurikulum yang selalu berganti-ganti tanpa pernah menimbulkan efek kritis, membebaskan dan menginspirasi. Kelas yang monoton adalah momok, apalagi full day school yang bisa saja membuat anak tak hanya stress tapi juga depresi. Mereka tidak hanya dikekang kurikulum, jam bermain mereka direnggut, kreatifitas dijarah dan nalar kritis direpresi.
Saya mungkin salah satu yang
selamat dari kesalahan kurikulum karena orang
tua saya punya andil penuh membebaskan saya ketika saya sudah tidak tahan dengan
sekolah. Saya memilih jurusan yang tepat dengan minat saya hingga saya
berkembang, dan bersyukur pula punya lingkungan kuliah dan komunitas yang
sangat supportive kepada saya.
Tapi saya tidak bayangkan,
bagaimana nasib anak-anak lain pak menteri?
Saya hanya satu dari sekian juta
anak yang bisa selamat. Saya kira janganlah main-main dengan system pendidikan
pak.
Jika menyelesaikan masalah satu anak saja, mereka
harus melewati sekian tahun panjang penderitaan untuk sembuh, berapa puluh tahun
waktu yang dibutuhkan agar hilang trauma dari satu generasi, akibat (lagi-lagi)
salah ambil kebijakan! Ajak mereka (anak-anak) bicara, karena mereka manusia yang punya hati nurani dan paling tahu apa yang mereka inginkan dari kata hati mereka sebagai MANUSIA...
Selasa, 30 Juni 2015
Bertemu dengan Cak Nun
![]() |
| diunduh dari http://jongjava.com/web/images/stories/showbiz/celeb/Apr_10/emha.jpg |
Semalam saya bertemu dengan Cak Nun. Ya Cak Nun. Saya menyalaminya. Ia menyambut permintaan salaman saya dengan senyuman. Lalu saya tersenyum kembali, Senyum yang melegakan saya. Melegakan setelah pencarian saya bertahun-tahun tentang diri saya sebagai manusia. Ya manusia. Memang terkesan agak berat. Tapi sekian tahun, akhirnya saya tahu bagaimana saya sebaiknya bersikap dan berperilaku dalam identitas saya sebagai orang Jawa.
Setelah beranjak dewasa utamanya dibangku kuliah, saya sendiri dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Pertanyaan dimana Tuhan? Mengapa ia mengirimkan saya kepada ibu yang sering berkonflik dengan saya? Mengapa saya begitu banyak mengalami keputusasaan. Bagaimana saya harusnya nanti bersikap? Mengapa Tuhan tak sepenuhnya memberikan gambaran yang jelas atas maksud-maksudnya? Terlebih lagi, kemarahan saya kepada Tuhan meledak ketika Bapak yang menjadi pegangan saya, guru saya dipendet (diambil) dengan sebegitu entengnya oleh Dia? Saya marah besar kala itu, kenapa hanya saya, anak terakhir yang tak sempat ditunggu oleh bapaknya saat wisuda ataupun kala ijab qobul.
Selama sekian tahun, saya memendam rasa kecewa atas beberapa hal dalam hidup saya. Saya tak punya guide yang jelas untuk hidup sebagai orang yang dewasa. Bayangkan, saya harus mencari sendiri, Kepontang panting, Mungkin kebanyakan orang dewasa seperti itu. Bagi saya ini adalah saat-saat terberat karena mau tak mau saya harus menempuh jalan sunyi, yang katanya menakutkan dan tak bersahabat itu.
Saya telah memamah banyak buku untuk menjawab pertanyaan tentang siapa saya dan mengapa saya berada disini. Latar belakang kuliah saya sebagai seorang Sosiolog, tak serta merta memberikan jawaban sempurna atas siapa diri saya, mengapa saya disini dan dimana Gusti Allah. Sebelum bertemu dengan Cak Nun semalam, saya hanya mampu menjawab satu pertanyaan terakhir yakni "dimanakah Gusti Allah". Pertanyaan itu membawa saya pada pencarian berbulan-bulan, kekurangan tidur dan sering menangis. Kurang lebih 3 tahun yang lalu, saya akhirnya bertemu dengan Tuhan. Saya menemukannya ketika saya berjalan-jalan di toko buku. Entah mengapa kaki saya berjalanan menuju ke pojok toko buku. Tempat dimana disana terdapat banyak kitab tafsir dan juga Al Quran. Saya membeli sebuah Al Quran dan membawanya pulang. Sampai dirumah saya membacanya. Bukan membaca huruf arabnya, Saya justru membaca bahasa Indonesia. Sebelum membacanya, saya sempat mengancam Gusti Allah. Kalau Gusti Allah sampai tidak memberikan saya jawaban, saya akan marah besar pada Beliau. Masak katanya ini kitab pemberi petunjuk, saya tidak bisa menemukan jawabannya. Bayangkan, membaca dengan niat mencari tetapi dengan nada mengancam.
Lembar demi lembar pun saya buka, Sampai akhirnya di sebuah Surah Al Baqoroh, saya menemukan jawaban yang membuat saya mati kutu dihadapan Gusti Allah. Kurang lebih artinya seperti ini "Dimana pun kamu memandang, disitulah ada wajahKu berada". Seketika itu juga saya sujud dan menangis tersedu-sedu. Saya menangis tak karuan, Saya merasa malu. Ya malu melihat tingkah saya yang seolah-olah tak melihat Gusti Allah tapi sebenarnya Gusti Allah melihat saya dengan sangat teliti dan berbaik hati. Disela-sela menangis itu akhirnya saya pun akhirnya tertawa. Duh Gusti, saya ini memang manusia rendahan. Sok-sok an mencari. Padahal sudah Sampeyan pandangi saya dari tadi. Dari saya masih di rahim ibu sampai saya segede ini. Duh Gusti. Sejak itulah, saya memahami bahwa pencariaan akan Gusti Allah itu pribadi. Gak bisa disama-samakan rek antara satu orang dengan orang lain. Makanya sejak itu, saya tahun bahwa rukun iman itu domain Gusti Allah. Kamu gak bisa mengkafirkan orang lain, menilai orang lain, memaksa orang lain untuk sama denganmu. Kita sering kali tak tahan jika orang lain tak sama dengan kita. Berbeda. Dan kemudian itu menjadi sebuah masalah.
Pertemuan saya dengan Gusti Allah pun kemudian tak serta merta membuat saya jadi religius. Sama sekali tidak. Saya masih memiliki dua pertanyaan yang lain, siapa diri saya dan mengapa saya ada disini. Pencarian itu seperti pertarungan babak belur. Saya merasa tak nyaman dengan diri saya sendiri. Saya menemukan relasi dan konflik yang terus berbalut dalam hidup saya. Saya banyak melihat orang yang sak enake udele dewe (seenaknya sendiri). Gila kuasa, senggol kanan senggol kiri untuk dapatkan kuasa. Saya merasa kadang sampai frustasi sendiri, kok orang bisa tidak nguwongke wong liyo alias mengorangkan orang lain dalam bersikap dan bertingkah laku. Belum lagi sok-sokan diskusi soal Indonesia. Lah, saya malah kecemplung dalam kondisi keprihatinan yang tak habis-habis. Bagaimana mungkin manusia bisa-bisanya merendahkan manusia lain yang dari Gusti Allah lah dia juga diciptakan.
Fase-fase pencarian saya ini agak epik. Pegangan saya hanya satu, pesennya malaikat Jibril dari Gusti Allah pada Kanjeng Nabi di gua Hiro "Bacalah". Ya ming itu saja. Setelah baca, tahu sumber informasinya, ya saya harus konfirmasi pada orang yang lebih tahu dan paham. Saya ini ncen sadar bahwa saya kepengen banyak tahu. Tapi akhire bingung dewe. Kebingungan-kebingungan ini amat wajar sebenarnya. Sebagai perempuan Jawa, saya hampir sepenuhnya mencari jawaban soal hidup bukan dari sumber saya dibesarkan yakni di Jawa. Wejangan-wejangan soal hidup, utamanya dari bapak, hanya setengah-setengah saya dapatkan. Bapak saya yang semi-semi abangan dan Nahdiyin itu tak langsung menurunkan ilmu hidupnya secara langsung. Lebih tepatnya cuma tersamar, karena menjelang saya berusia 12 tahun, bapak terkena stroke pertama. Bapak sangat sensitif dan suka nangis sendiri. Lha kalau sampai tak tanya yang berat-berat, bisa kambuh stroke bapakku. Yo ra?
Belum sempat nanya, eh bapak ku malah dipendet. Pokok e aku malah tambah mangkel sama Gusti Allah. Lha aku tanya siapa?
Tiga tahun setelah bapak tidak ada, saya ini kayak kapal yang gak jelas arahnya. Pesawat yang bingung mau mendarat dimana. Dari Merry Riana sang motivator sampai Pram yang di buru di Buru sana saya jumpai. Ning yo hasilnya bukan nihil sih. Tapi gak ana rasane. Ibarat sayur lodeh, yo rasane gak gurih. Saya pentalitan (jungkir balik) juga dengan buku-buku jepang, tapi ya hambar. Sampai titik ketemu itu mulai ketemu ketika saya berdialog dengan seorang teman. Di sebuah senja, di pelataran atas Taman Sari Yogyakarta.
Saya dan dia berdialog tentang kekecewaan-kekecewaan saya soal hidup saya. Ia kemudian menawarkan saya untuk kembali pada identitas saya. Pada kejawaan saya. Pada leluhur saya. Ia mengingatkan saya untuk menelusur lagi identitas kejawaan saya. Siapa tahu disana ketemu jalannya, karena disanalah akar saya. Sebagai anak perempuan Jawa, Solo maneh, hidup saya dipenuhi dengan tata krama jawa yang kental. Saya suka sebel memang, kolot sih. Tapi tak ada salahnya saya mulai membuka kembali. Karena ari-ari saya yang dikubur di Jawa dan keturunan saya amat kental budaya Jawa.
Mulailah kembali saya buka manuskrip-manuskrip soal Jawa. Mula saya membaca pemikiran psikologi Jawa, Darmanto Jatman. Setelah membacanya saya agak tentram. Tidak tentram-tentram banget sebenarnya tetapi lebih baik. Disusul kemudian saya membaca Ki Ageng Suryomentaraman (KAS). Soal bagaimana mengolah rasa, getun sumelang, dan turun-turunanya. Tapi belum damai 100%. Sampai akhirnya saya menemukan ketenangan itu semalam, di tempat yang sama saya memulai dialog soal kejawaan saya, dipusat keraton Mataram, Taman Sari.
Dua hari sebelum kejadian ini saya diajak Mas (sebutan saya untuk pacar) untuk nonton Cak Nun dan Kyai Kanjeng. Sudah lama dia bilang tidak nonton Cak Nun dan Kyai Kanjeng. Maklum, dia ngaktivis NU. Jadi ya sukanya dengerin Cak Nun, Gus Dur, Habib Syech dan shalawatan. Walau kadang sholatnya gak teratur-atur amat. Kalau ku tanya kok gak sholah? Jawabane mesti" udah sholat, kamu gak lihat". Kalau gitu, ya tak biarin saja. Saya memang tak pernah mencampuri urusan dia dengan Gusti Allah. Itu hak preogatif si Mas.
Saya mancal (pergi) dengan dengan si Mas jam 8 malam. Niat saya sih ingin paling tidak bersua dengan teman-teman Maiahan. Setelah lama tak sempat ke Kasihan setiap tanggal 17. Kali ini Cak Nun bicara soal identitas Jawa. Ya Jawa, mbuh pas opo gak, Gusti Allah ngekon aku menyang acara yang ternyata aku disuruh nyari jawabannya ya disitu.
Cak Nun bicara banyak soal konsep Punokawan, Ksatria, Brahmana dan Dewa. Ia juga berkata soal konsep Jawa yang telah berdiaspora dengan berbagai negara. Saya menikmati musiknya yang mencampurkan konsepsi semua kebudayaan. Sloga Cak Nun adalah "Jawa digawa, Arab digarap, Barat diruwat". Cak Nun menguatkan diri kami. Diri saya secara pribadi sebagai Jawa yang terasa minder dan kalut dengan persoalan-persoalan kekinian, Ketakutan akan ketidakpastian. Ia mengingatkan saya bahwa sebagai Jawa jangan sampai saya kehilangan kejawaan saya. Bukan dalam artian jawa lebih unggul dalam peradaban yang lain. Jawa adalah kebudayaan yang bisa mangku apapun, bukan menjajah, tapi nguwongke wong liyo.
Tiga tingkatan bahasa dalam jawa, kromo, madyo dan ngoko bukanlah perkara stratifikasi atau level bahasa, karena bahasa Jawa adalah soal rasa. Rasa dalam kata yang tak pantas diucapkan tanpa rasa hormat kepada orang yang kita ajak bicara. Pesan itu saya resapi dengan dalam-dalam. Pesan yang membuat hati saya dipengujung malam tak terasa rasa kantuk sekalian bersholawatan. Ada tiga pesan yang paling saya remuk redamkan dalam hati saya. Wong Jowo itu kudu bisa toleran terhadap yang berbeda. Bisa menghormati dan tidak menginjak-injak harga diri orang lain. Dan satu, bisa berdialog dengan alam.
Titik puncaknya adalah Manunggaling Kawula Gusti. Disana banyak tafsirnya. Tapi tafsir sederhananya sepertinya;
Manunggaling kawula Gusti iku nek njenengan kelingan Gusti Allah, kapan pun, dimana pun. Tiap laku panjenengan iku ana Gusti Allah. Nek sampeyan merasa uripe susah, rasah khawatir. Ndongo karo Gusti Allah. Tetep do solawatan kalian kanjeng Nabi. Arep uripmu susah, ra kepenak, asal panjenengan ora di dukani opo dinesoni Gusti Allah lak yo rampung. Yo ra"
Manunggaling Kawula Gusti adalah saat Anda ingat Gusti Allah, kapan pun dan dimana pun. Tiap sikap, perilaku Anda itu ada Gusti Allah disana. Kalau Anda merasa susah, tidak usah khawatir. Berdoalah kepada Gusti Allah. Tetaplah bersholawat untuk Kanjeng Nabi. Mau hidupmu susah, tidak enak, asal Anda tidak dimarahi Gusti Allah ya kan gak ada masalah. Ya gak?"
Jawaban itu membuat saya menunduk, menangis, Menangis karena saya terlalu banyak kesalahan dan dosa. Terlalu sombong, Terlalu dan terlalu. (sampai menulis ini saya masih ingin menangis). Ditengah malam itu, saya bersholawat. Duduk di belakang panggung, mengarah ke utara. Saya berucap
"Gusti, nek saya balik ke Panjenengan suatu saat, saya ingin dalam keadaan bersih, khusnul qotimah. Saya ingin balik ke Sampeyan dengan bahagia dan tenang. Jika malam ini kau limpahkan dua keranjang rizki dan kebaikan, saya hanya ingin rezeki itu adalah pemaafan dan kebaikan untuk sesama manusia. Kelak saya ingin balik sebagai bayi lagi yang suci. gak kurang gak lebih, cuma itu Gusti"
Sholawat terus berkumandang dan saya meneteskan lagi air mata yang diusap dengan syal lembut oleh Mas dan ia tersenyum.
"Saya menemukan jawabannya"
Ia menjawab dengan matanya, "Ya, Nduk"
Senin, 29 September 2014
Rahim, Tempat Kemanusiaan Dimulai
![]() |
| diundunh dari www.flickr.com/photos/tipstimesadmin |
Kali ini saya ingin menulis soal rahim. Perkara rahim nyatanya bukan persoalan sepele. Oleh Tuhan (jika kalian mempercayaiNya) perempuan diberikan rahim. Rahim sebuah kantung tempat bertabrakan antara sel telur dan sperma. Didalamnya jika ada ledakan maka menghasilkan janin kemudian tumbuh menjadi bayi. Saya, Anda dan kalian semua adalah hasil tabrakan antara sel telur dan sperma yang kemudian menghasilkan manusia.
Manusia dibagi menjadi dua kelamin, disini saya tidak akan berbicara orientasi seksual. Lahir jelas menjadi perempuan dan laki-laki. Soal nantinya mau memilih orientasi seksual yang mana, ya itu hak. Jika Anda adalah laki-laki maka didalam tubuhnya akan ada seperangkat alat reproduksi dari penis, testis dan menghasilkan sperma.
Rabu, 03 September 2014
Surat Untuk Bapak #2
| Bapak saat serangan stroke yang keempat |
Malam ini saya berjanji
untuk menulis tentang bapak. Bapak memiliki nama yang berbeda-beda. Kok bisa?
Ya, di KTP namanya adalah Juri Suharto, di akte kelahiran saya ia menyebut
namanya Suharto, sementara di kantor namanya adalah Suharto Sapto Cahyono. Di
KTP tertera bahwa ia lahir tanggal 15 Mei 1955. Ia menutup usianya pada tanggal
14 Februari 2012, tepat pukul 15.55.
Langganan:
Postingan (Atom)
Maaf
Semoga maaf ini Engkau dengar. Semoga maaf ini engkau sekalian rasakan. Maafkan semua yang telah terjadi Maafkan kesalahanku. Ampuni aku Say...
-
Banyak orang yang bertanya kepadaku secara pribadi bagaimana ceritanya aku bisa remisi dari depresi dan anxiety. Sejujurnya, aku akan bilang...
-
Aku sangat berterima kasih kepada suamiku. Bersamanya aku serasa memiliki teman hidup dan kekasih yang kucintai setiap hari. Tidak hentinya...
-
Banyak kesedihan yang ku tanggung. Seandainya aku boleh meminta dan mengulang waktu, aku ingin Bapak ku sehat. Menemaniku aku tumbuh dengan ...

