Aku sangat berterima kasih kepada suamiku. Bersamanya aku serasa memiliki teman hidup dan kekasih yang kucintai setiap hari. Tidak hentinya aku bersyukur, menghadirkan ia didalam hidupku. Aku ingin memberinya cinta dan kasih yang hangat. Aku belajar, betapa disakiti, dilukai benar-benar menyakitkan, dan aku tidak ingin mengulangi luka yang sama kepada orang-orang sekitar, meski yang pernah melakukan itu adalah orang terdekatku. Aku berjanji menjadi orang baik dan membahagiakannya :)
Nabi Saw bersabda; “aku dibuat mencintai”, cinta disini adalah anak rohani. Jika cinta harus ditempuh dengan nilai-nilai praktis, ketahuilah itu bukan cinta, tapi kehendak. Cinta berbeda dengan kehendak. [Ibnu Arabi, Fushusul al-Hikam; 4/259, 2/189 dan Dzakha’ir al-A’laq)
Langganan:
Postingan (Atom)
2009
Dunia rasanya berhenti, saat aku melepaskan dan menumpahkan cerita itu. Dada sunyi dan terasa sakit saat ada cerita diam-diam di bagi Bagia...
-
Aku makin menyukai kelambatan. Sering bahkan terlambat dalam banyak hal di hidup. Ternyata Tuhan menuntunku makin pelan menjalani kehidupan....
-
Mungkin akan selalu ada pertanyaan, mengapa aku bersedia menghabiskan waktu sisa hidupku dengan suami yang memiliki difabel kaki. Yang mungk...