Jumat, 21 Agustus 2026

Bismillah-Bismillah-Bismillah

Pengalamanku mengalami depresi membuatku tersadar dan tersentak, betapa agungnya kuasa Allah SWT atas hidup manusia. Dari manusia yang sombong dan merasa kuat, lalu diluluh lantakan dengan perasaan yang berantakan. Untuk memberiku kasih sayang, bahwa hanya Allah SWT lah yang menyayangiku tanpa syarat.

Aku selalu mengingat hal paling intim sebagai manusia, ketika tidak ada manusia lain yang bisa menolong, doa adalah penolong terakhir. Penyerahan total ini betul-betul aku syukuri. Aku memohon dan merengek untuk pertama kalinya sebagai manusia, karena tak ada lagi tangan manusia yang menolong. Kelak suatu hari, aku tahu itu bagian kesombongan manusia. Aku manusia yang kerapkali hanya mengandalkan logika, kemudian secara terang-terangan dibantah olehNya. 

Aku ingin sembuh tapi Allah justru memperjalankan diriku pada situasi yang bahkan tidak aku bayangkan. Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang itu mengajakku untuk menguji banyak hal yang jauh-jauh dari nalarku. Untuk apa? Agar logikaku tidak selalu bermain melebih kepercayaan kepadaNya. Banyak sekali aku ditegur dan mengubah banyak hal untuk mengatur nafsu dan karepku sendiri. Perang itu berada di diriku. Kesadaran-kesadaran itu terbangun tidak instan, perlahan tapi membuatku belajar. Tidak seperti di sekolah, aku merasakan kesadaranku dibangun dari puing-puing rasa sakit tak bertepi. Pernahkah kalian merasa ingin menyerah dan jalan satu-satunya adalah pasrah. Itu yang kujalani berkali-kali. Ini perjalanan tentang percaya. Penderitaan hanya bisa dilalui dengan tidak melampaui waktu, perlahan, menjadi jejeg dan kuat karena menjalani prosesnya.

Aku dulu, yang khawatir soal penghasilan, lalu dicabut ketakutannya perlahan untuk tidak menghitung apa yang seharusnya berhak di hitung olehNya, setelah aku berjuang. Tugas kita adalah berjuang, seperti kata Cak Nun. Lama-lama, aku menjadi tersadar untuk kembali, aku juga harus berjuang, agar kelak kalau balik ke Gusti Allah, aku gak malu-maluin sekali untuk pulang. Setidaknya sudah berguna, ditengah banyak usaha yang kuupayakan dengan segala keterbatasanku. Allah menemaniku, dengan percaya jika aku pasti akan selamat. Aku tidak meragukanNya. Meski dihantam berkali-kali. Allah melihatku berjuang, dan aku tidak meragukannya. Ia tahu, aku bukan manusia yang tidak berusaha. Aku manusia yang berusaha untuk menghadapi hidup yang perih. Meski gagal, aku mencoba lagi. Aku hanya hamba, dan itu yang Ia minta kepada manusia. 

Aku sering merasa, apakah menuliskan ini diperbolehkan Ya Allah. Ia memintaku tetap menulis sebagai bakat, tapi gunakan itu untuk orang banyak. Bermanfaat karena itu telah diberikan, maka bacalah dan belajarlah. Tidak hanya untuk bekerja tapi bermanfaat. Bukan hanya untuk kebutuhan tapi sebagai bentuk rasa syukur. Syukur dengan alhamdulillah. Hati yang selalu bersyukur, adalah hati yang dekat dengan Tuhannya. Bismillah-bismillah-bismillah, semoga proses ini selalu berjalan dengan tatag dan tabah. 

Sabtu, 08 Agustus 2026

Manusia Siput 2

Aku lagi senang menjadi manusia siput. Entah kenapa, terasa menyenangkan. Ternyata setelah dewasa, kemampuan kita untuk tetap menikmati kehidupan dan keindahan itu sangat menyenangkan. Meski hatiku masih sering gaduh tentu saja. Ada beban yang ada didalam dada yang sampai sekarang masih kurasakan sebagai duka. Tapi tidak apa-apa pelan-pelan aku mampu menanggungnya. 

Semingguan ini, aku masih sangat sibuk menemani ponakan untuk ospek. Bolak balik kampus dengan segala ceritanya. Beruntung, pekerjaan belum menumpuk. Selain itu, aku bersyukur memiliki banyak waktu bersosialisasi di rumah Bantul. Aku ikut panitia 17an. Entah setelah berapa tahun, setiap agustus aku biasanya akan terbang keluar daerah untuk riset atau pendampingan. Dan hari ini, aku bisa di rumah dan menjadi panitia.

Aku juga sering membaca dan melihat podcast pak NS alias pak Nasirun. Senang sekali, meski beliau baru saja berpulang, banyak dokumentasi beliau yang ada di banyak kanal, membuat saya banyak belajar. Hormat selalu kepada Kiai Nasirun. Al Fatihah ya pak. Swargi langgeng

Sebagai manusia siput, makin pelan, aku makin menikmatinya. Kadang-kadang aku merasa perlu bertanya pada diri sendiri, kenapa aku tidak jadi manusia siput dari dulu ya? ahahahahaha...

Soal hati, siapa yang tahu, tapi lagi-lagi aku perlu mengingatkan diri sendiri, bahwa berduka memang seperti ini. Dengan berproses, aku akan mampu menanggungnya. Ini yang Allah minta. Dan sekali lagi aku mensyukuri proses pelan-pelannya

Btw aku juga habis selesai membeli mug baru untuk membuat kopi. Warnanya putih polos dan aku merasa keren memakainya. Kupikir, dulu aku mana bisa menikmati jajan 16.000 untuk aku bisa beli mug karena aku menyukainya. Sesungguhnya, aku merasa keren dengan mug baruku meski harganya tidak seberapa. Dulu aku menikmati pencapaian dengan hal-hal besar, kini aku menyukai hal-hal kecil untuk bisa bersyukur pada banyak hal dalam kehidupan

Selasa, 04 Agustus 2026

Manusia Siput

Aku makin menyukai kelambatan. Sering bahkan terlambat dalam banyak hal di hidup. Ternyata Tuhan menuntunku makin pelan menjalani kehidupan. Bukan berlari seperti dahulu. Pelan-pelan, aku menyukai prosesku dengan segala keterlambatan yang dikira oleh orang-orang modern. Kupikir, terlambat itu hal yang buruk, tapi aku ingat sebuah kata-kata dari Pak Quraish Shihab yang mengatakan jika mungkin keterlambatanmu adalah mungkin hal yang menyelamatkanmu.

Dalam banyak cerita hidup yang kujalani selama 36 tahun ini, aku memang banyak terlambat. Banyak hal yang membuatku sesak. Tapi, yang aku bangga dari diriku, mungkin adalah diantara segala pahit getir, aku tidak lari. Itu yang kusyukuri.

Sebagai anak, aku mungkin kurang mendapat tempat aman sejak kecil. Kedua orang tuaku, berupaya sebisa mereka menjadi orang tua. Mereka menjalani hidup dengan gudang pengetahuan yang mereka miliki. Sederhananya, mereka terbatas mendapatkan akses untuk berpengetahuan sebagai orang tua. Tapi mereka pasti mengusahakan yang terbaik. Namun, yang perlu jadi catatan, tidak semua anak berhasil terhubung dengan orang tua. Aku mungkin berhasil dalam satu hal, tapi gagal dalam hal yang lain. Aku sampai hari ini masih sering bertanya, mengapa ibuku sangat beringas, terburu-buru menghakimi dan ketakutan akan hidup. Luka generasi macam apa ini yang terus menerus dirawat tanpa ada upaya berhenti untuk memutusnya. 

Aku pernah mengalami apa yang dialami ibuku tapi aku mencari ruang aman untuk menyelamatkan diri. Dulu, aku mengira betapa lemahnya aku. Tapi aku baru menyadari, betapa kuatnya Allah SWT menopangku betahun-tahun tanpa support system sesama manusia. Saat aku roboh di 2020, Allah SWT tidak meninggalkanku. Bantuan datang beriringan ketika raga dan mental sudah tidak mampu lagi menopang (aku nulis ini sambil nangis). Untuk pertama kalinya, aku merintih dan berdoa. Ketika jalan semua sudah tertutup. Pilihannya hanya mati atau hidup. Allah memintaku hidup. Berjalan lagi meski tertatih. Semua perasaan buruk yang turun menurun dalam generasi, diputus dengan cara pelan-pelan.

Aku menenggak obat psikiatri hampir 5 tahun. Bukan lamanya, aku menyadari betapa beratnya beban yang kutanggung bertahun-tahun secara psikis hingga butuh waktu bertahun-tahun aku kembali pulih. Aku tidak malu lagi mengatakan bahwa aku menderita sangat panjang. Aku minum obat psikiatri untuk pulih. Menjalani serangkaian psikoterapi, tetap memutuskan kembali bekerja. Sembari mengusahakan agar otakku bisa pulih untuk bisa S2. Semua terkesan terlambat, tapi aku bersyukur, aku menjalaninya dengan pelan dan merasakan proses naik turunnya. 

Kemewahan yang mungkin aku rasakan saat masa hancur adalah aku memperoleh waktu istirahat bahkan hiatus dalam waktu yang panjang. Aku banyak menggunakan waktu itu untuk memulihkan psiskisku setelah diterpa badai depresi. Siapa sangka, itu adalah titik balikku untuk berubah jadi manusia siput alias pelan-pelan menjalani hidup

Jumat, 17 Juli 2026

Orang Tua Yang Menjadi Anak-Anak

Bapak ku bukanlah bapak yang sempurna. Dia manusia biasa. Ia orang yang baik dan ramah. Untuk ukuran laki-laki ia lumayan ganteng, Ganteng banget malah. Ia berasal dari keluarga yang berada. Sebagai anak bungsu, ia mendapat banyak previllge. Bapak tipe orang yang provider, memberi semua kepada anaknya tanpa pandang bulu. Ia sangat mudah memahami perasaan orang lain, sangat sabar, tidak pernah membalas atas hal-hal buruk yang pernah dilakukan oleh orang yang menyakitinya.

Bapakku tentu punya kesalahan yang mungkin sampai hari ini sulit ku mengerti. Ia mau menikahkan kakak ku perempuan pada laki-laki anak orang kaya yang goblok itu. Yang kemudian menyeret keluarga kami pada sekian banyak hutang, sekian banyak cerita dramatis, dan penyakit yang ia derita hingga akhir hidupnya. Mungkin hal itu yang perlu dijalani oleh beliau. 

Sekian lama, aku mencoba memahami apa konsekuensi dari yang dilakukan oleh alm Bapak atas pernikahan kakak perempuanku. Aku sering melihat bahwa pasca kakak perempuanku menikah, Bapak seperti tidak akur dengan ibu. Ada debat sengit diantara mereka secara batin tentang keputusan itu. Meski tentu saja, mereka tetap terlihat akur didepan publik, tapi aku melihat mereka bertengkar. Ada hal yang tidak selesai dari percakapan mereka dimana ibu mungkin menyalahkan bapak atas keputusan ini.

Apa yang kurasakan. Aku jujur sangat tidak nyaman sekali berada di rumah, dimana dua orang dewasa tidak sepakat atas keputusan dalam pernikahan, hanya akn menimbulkan luka satu sama lain. Aku harus menghadapi keduanya yang setiap hari saling marah, satu diam. Pola berulang dan itu ku copy tanpa sadar, namun beruntung aku mulai memahaminya. Tidak ada percakapan yang hangat diantara keduanya paska kejadian 1995 itu. 

Sebagai perempuan, peristiwa perselingkuhan bapak juga menimbulkan kesulitan. Ia berupaya mempertahankan bapak, Mungkin ia juga ketakutan untuk menjalani hidup tanpa bapak, tapi melakukan hal-hal yang konyol dengan cara berdandan. Tidak ada pernah ada penyelesaian keluarga dengan dialog. Yang ada hanya caplok mencaplok satu sama lain. Menang satu dengan menang yang lain, yang menimbulkan rasa salah.

Sampai akhir hidupnya, mungkin ibu menyesalinya dan bapak pun juga.

Tapi akulah yang menanggung traumanya. Sepertinya aku benar-benar lelah, dua orang dewasa tidak bersikap dewasa. Bersikap kekanak-kanakan. Tapi aku menyadari kekanak-kanakan itu

Minggu, 05 Juli 2026

Deactive Sosial Media

Seorang kawan menanyakan kepadaku, apa yang menyeabkan aku mendeactive beberapa sosial media, bakan instgaram sering tidak aktif pada periode tertentu?

Well, bisa dibilang, aku memang sengaja memutuskan untuk diet bahkan kadang-kadang bisa dibilang hiatus ya dari sosial media. Ini juga menurutku salah satu detox mental yang kulakukan agar tidak terpapar banyak informasi yang kerapkali membuatku merasa menghabiskan energi.

Pertama-tama, aku memang menggunakan sosial media secara aktif sebelum depresi. Facebook aku gunakan untuk menulis atau mengunggah pikiran yang selama ini mengganggu. Twitter atau X pernah sangat aktif aku gunakan, terutama berbalas atau meretweet banyak hal yang kusuka. Namun, keduanya juga akhirnya tidak aku aktifkan lagi. Meski akunnya masih ada. Eh tidak denk, akun X yang dulu aktif kugunakan, pernah hilang. Aku mencoba membuat baru tapi aku tidak menggunakannya lagi karena sangat short sekali untuk otak.

Sementara instragam sudah sejak 2012 aku gunakan. Awalnya hanya iseng aku buat saat aku di Bangkok saat itu. Tapi lama-lama, aku menggunakan instagram untuk menjadi tempat menyimpan artefak traveling dan riset di luar negeri maupun dalam negeri. Namun sejak depresi kualami sejak 2020, aku mendeactive instagram cukup panjang. Mungkin pernah 1 tahun. Dan ternyata aku merasa lebih fokus setelahnya. Sesekali aku mengaktifkan instagram jika aku merasa butuh untuk mengabadikan momen traveling. Itu pun biasanya setelah beberapa hari aku pulang dari traveling. Terakhir, aku ke Raja Ampat, momen itu banyak kuabadikan di instagram untuk bisa kusimpan. 

Aku sebenarnya mulai agak tidak tertarik instagram beberapa waktu belakangan. Entah kenapa, terasa begitu berisik. Terutama sejak rezim presiden baru. Rasanya instgaram mirip dengan pasar yang tidak ada habis-habisnya. Orang protes, caci maki dan itu menggangu mental. Belum lagi, beberapa orang kaya yang makin flexing ditengah situasi ekonomi yang gak baik-baik saja. Rasa-rasanya tidak elok memamerkan sesuatu dimana banyak orang sedang kesulitan dengan badai ekonomi. 

Ada satu waktu, aku ingin menuliskan caption atau membagikan gambar, apa yang kulakukan. Namun, akhirnya berakhir dengan menyadari diri, tidak semua hal perlu dibagikan. Aku merasa jika hidup privat jauh-jauh sangat baik dan melakukan sesuatu tanpa orang lain tahu itu adalah kemewahan. Sesekali aku mengintip sosial media untuk mengupdate pekerjaan konsultan. Di waktu yang lain, aku membuka linkend untuk mendapatkan update ilmu baru.

Beberapa waktu kedepan, mungkin aku akan mulai sibuk dengan berbagai les bahasa. Sejak depresi, otakku agak lolak mencerna bahasa, jadi aku memutuskan masuk ke kelas bahasa inggris lagi. Siapa tahu, bisa keluar negeri lagi seperti dulu. We will see. Right. Happy weekend and focus on your real life :)

Rabu, 24 Juni 2026

Melepas

Kok rasanya lebih ringan ya, melepaskan.

Rasa-rasanya lebih tenang dan nyaman.

Mungkin, aku terlalu mengikatnya kemarin.

Semoga lepas ini jauh membuat lebih bebas.

Semoga lepas ini membuatku lebih nyaman

Semoga lepas ini membuatmu lebih aman

Semoga lepas ini membuatku bisa mencintai diriku lebih banyak lagi

Semoga lepas ini membuatku punya waktu untuk diri sendiri

Rasanya jauh lebih lepas

Rabu, 20 Mei 2026

Lead you life with heart

Leaders, be kind to people all the world. 

Lead your legacy with heart. Not only honest. 

Don't hurt other people.

Karma does exist

Minggu, 10 Mei 2026

Stuck

Gak tahu kenapa hari ini males banget buat bekerja. Rasanya data banyak banget, kayaknya pengen lari aja dari kerjaan. Masih ada data yang belum di transkripsi dan mesin transkrip juga kadang ngadat. Tapi masih bersyukur diberikan pekerjaan dan kesadaran bahwa semua harus diselesaikan. Dan aku punya katalis dengan cara menulis di blog seperti ini kalau bener-bener lagi stuck

Sabtu, 09 Mei 2026

Memproses diri sendiri

Dulu saat aku masih belum menikah, ada banyak orang yang meragukan diriku apakah akan menikah, memiliki anak atau memiliki keluarga. Sebagai perempuan yang dibesarkan oleh ibu tunggal, karena ayahku selama 10 tahun stroke, membuatku mau tidak mau harus tangguh dalam banyak hal. Aku dewasa sebelum waktunya. Aku tumbuh keras dan tanpa arahan karena ibuku sangat sibuk untuk survival agar aku hidup. Sejujurnya di masa-masa itu, aku merasa tidak penuh sebagai anak. Ada sebagian dari diriku yang masih memendam kekecewaan bahwa realitasnya, aku tumbuh sebagai anak yang kekurang figur seorang ayah. Tidak mudah bergelut dengan perasaan ini. 

Aku bilang tidak mudah karena pada satu sisi, kamu dituntut untuk kuat tapi di waktu yang lain, kamu butuh sandaran, tetapi kamu tidak memiliki sandaran. Rasanya sangat menyedihkan, merasa sepi, hampa, tidak ada yang memahami tetapi kamu dipaksa untuk bisa kuat. Perasaan ini seringkali masih tertinggal sampai hari ini. Aku menerimanya sebagai bagian dari diriku, yang pernah ada. Sesekali waktu, ia datang dan aku menyambutnya. Tanpa bereaksi banyak.

Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku selalu berharap suatu hari akan ada orang yang mengerti dan memahamiku. Aku memiliki Allah tapi aku juga butuh berbagi dengan orang lain sebagai sesama manusia. Berkali-kali aku dikecewakan, membuatku patah arang untuk mau memahami ornang lain. Ekspektasi benar-benar kuturunkan. Aku punya banyak kecenderungan introvet dan tidak mau basa basi karena pada dasarnya aku memang pendiam dan cenderung menjadi observer. 

Mas Ryan, suamiku datang dengan kesadaran bahwa aku memiliki kekecewaan dan aku merasa beruntung, ia memahamiku. Aku merasa bersyukur bertemu dengannya. Dari sekian laki-laki yang menganggap aku aneh karena kuat banget, ia mau menerima segala kerapuhanku yang selama ini kututupi. Aku merasa menjadi manusiawi didepannya. Tidak semua perasaan bisa ia terima, tapi paling tidak ia memberiku ruang memproses semua. Kadang, ternyata yang kubutukan adalah ruang sendiri untuk bisa memperoses apa yang terjadi diriku sendiri.

Kamis, 07 Mei 2026

Maaf

Semoga maaf ini Engkau dengar.

Semoga maaf ini engkau sekalian rasakan.

Maafkan semua yang telah terjadi

Maafkan kesalahanku.

Ampuni aku

Sayangi aku

Lindungi aku.

Minggu, 08 Maret 2026

Ramadhan

Bulan ramadhan tahun ini sangat spesial bagiku. Di hari ke 17, aku sudah hampir merampungkan 19 juz. Bahagaia sekali. Ditengah-tengah kesibukan, akhirnya tubuh dan pikiranku menyadari bahwa kepada Allah SWT lah, aku akan kembali. Rasa-rasanya setiap sholat dan membaca Quran, aku merasakan sangat tenang. Seperti di peluk, seperti dicintai, seperti diberikan kasih sayang. Membuatku kerap meneteskan air mata. 

Menderita depresi di tahun 2020, membuatku sadar bahwa kepada Allah SWT lah kita meminta segalanya. Meminta pertolongan dan kebaikan. Meminta dijauhkan dari mara bahaya, fitnah dan berbagai keburukan. Saya sadar di tahun 2020, Allah SWT sedang menolong hambanya yang kotor dan penuh dosa ini. Pulang kepada Allah SWT, artinya menyerahkan semua kepadaNya. Rasanya tenang sekali, aku tahu kemana jalanku untuk pulang nantinya. Semoga Allah SWT berkenan menuntun langkah kepadaNya, semakin dekat dan hangat. Insya Allah

Kamis, 29 Januari 2026

Rindu

Duniaku runtuh setelah almarhum ibuku pergi.

Hidupku tertatih. 

Menjalani hidup tanpamu, Ibu. Rasanya berat

Berat sekali.

Aku rindu ingin memelukmu.

Apa ibu juga begitu?

Selasa, 20 Januari 2026

Dunna

Aku mengingat masa kecil yang menurutku aneh. Ada perasaan dimana aku merasa tidak layak untuk dicintai. Saat kecil aku kerap dimarahi, atau malu lalu kemudian menarik diri karena merasa tidak dicintai. Lalu aku akan mengambil boneka-boneka didalam kamarku lalu menata satu per satu. Mereka, boneka-boneka ini adalah temanku. Ann, inner childku bilang bahwa itu adalah kita. Masa kecil. Masa kecil yang menyebalkan karena orang-orang bahkan tidak paham apa yang kita rasakan. Orang tua sendiri bahkan tidak paham kesepian yang dialami anaknya. Entah mereka berdua tidak layak menjadi orang tua. Aku dulu sering mengatakan bahwa itu tidak baik, tapi membuat anak merasa tidak dicintai adalah hal yang paling fatal yang dilakukan orang tua. Tidak tahu dan memahami perasaan anak adalah hal terburuk yang diwariskan oleh orang tua.

Akhir-akhir ini, aku mulai melihat Ann kecil bukan sebagai anak yang tidak tahu apa-apa. Dia adalah penunjuk jalan bagiku karena ia memiliki sifat dan karakter yang tidak pernah divalidasi oleh siapapun. Ia adalah versi diriku yang tidak pernah aku dengarkan. Aku selalu mendengar dan mencoba memahami orang lain. Tapi tidak pernah bisa memahami diri sendiri dan apa yang ia rasakan. Pantas saja ia marah sekali. 

Ia mengatakan bahwa diri kita adalah hal pertama yang harus didengar. Orang lain itu hidup dengan luka-luka mereka. Tugas memikul luka adalah tugas masing-masing manusia. Bukan ditimpakan kepada manusia lain. 

"Sejujurnya Dunna tahu tidak, aku paling benci harus memahami orang yang bahkan tidak pernah mau memahami orang lain. Orang pertama yang berhak didengar ketika hubungan orang tua dan anak terjadi adalah anak. Anak adalah hasil keputusan sadar dari orang tua. Mereka mau menikah dan melanjutkan keturunan. Jika tidak mampu menanggung emosi dan luka masing-masing jangan pernah ditimpakan ke anak. Kita berdua, tidak perlu menanggung derita yang mereka buat sendiri. Menjengkelkan bagiku, harus memahami mereka. Dunna tidak ada orang didunia ini yang ketika disuruh tanggungjawab malah lari, marah-marah, emosian dan meletakan ketidakmampuannya untuk bertanggungjwab sebagai tanggunjawab anak. Dunna itu kayak orang tua, kita yang anak. Kita berhak menuntut apa yang jadi hak kita. Ini bukan ego, tapi bentuk kesadaran untuk meletakan, bahwa orang tua perlu meletakan ekspektasi, luka dan segala macam trauma dikaki mereka sendiri bukan ke anaknya. Menyebalkan jika ada orang dewasa seperti itu...

Senin, 19 Januari 2026

Doa dari Ann Kecil

Hari ini aku banyak berbicara kepada inner childku. Bagi yang sering mengikuti blogku pasti tahu, namanya adalah Ann. Dia adalah versi kecilku yang tetap ajaib kulihat hingga saat ini. Aku sampai detik ini masih sangat belajar tentang anak ini. Anak ini sangat terbuka, jujur dan kadang nyeplos tanpa filter jika melihat sesuatu. Dia anak yang sangat cerdas. Saking cerdasnya, aku sering kelabakan untuk memahami cara berpikir dan merasakan apa yang ia rasakan.

Ia kadang memiliki tatapan mata penuh rasa sinis, tapi didalamnya ada rasa perih dan kesedihan yang dalam. Ia bilang kepadaku, hari ini, tidak perlu menanggung derita orang yang gak mengerti penderitaan kita. Jangan terlalu baik pada orang. Katanya, buat apa peduli sama orang-orang yang bahkan tidak peduli akan diri kita. Ia juga bilang, kalau ia akan merasakan luka-luka yang ditinggalkan orang-orang yang pernah menyakiti dirinya. Ia sadar betul satu per satu. Tapi kadang aku tidak memahami, bagaimana anak ini bisa sangat sulit ditebak emosinya. Sepertinya lukanya lebih dalam dari yang kukira. 

Sungguh, anak ini kerap membuatku tertegun. Ia bertanya, aku sudah berbuat baik, tapi kenapa orang lain semena-mena. Kujawab lah, kita berbuat baik untuk diri kita sendiri. Lalu dijawab sama dia, "dunia ini kebanyakan orang baik, tapi bodoh. Aku mau jadi pintar dan kadang-kadang baik saja, ketimbang ikut-ikutan bodoh". Astaga! wkwkwkwkwk. K.O aku dengan jawabannya.

Kadang jawabannya out of the box. Aku pernah tanya, otak kita ini terbuat dari apa sih Ann? Dia jawab dengan perkataan dengan kunci SRP. Apa itu? Katanya saraaaaapppppp... Wkakakakakaka..

Aku mulai banyak mencair dengan humor ketika berbicara dengannya. Sungguh anak ini anak paling ajaib yang pernah kutemui. Sekarang ia bilang, mau belajar merasakan emosi. Ada emosi dasar yang menurutnya menyebalkan. Dia tidak bisa berbicara apa yang ia rasakan dan mau. Ia mau jujur. Dan sepertinya aku harus siap-siap dengan celetukannya yang kadang ga kenal tempat. Tapi ya dengan kesadaran. Anak ini, adalah anak kesepian, pintar dan mulai sadar trantum itu perlu untuk mencari apa yang terjadi. Anak ini sungguh hebat. Hari ini pun ia berkata hal yang sangat membuatku berpikir

"Mba pikir, aku datang setelah kematian ibu, bukan tanpa alasan? Aku menolongmu. Kamu terlalu menjaga perasaan dan menanggung beban orang lain. Aku akan bantu melepaskannya"

Ku tanya? Bagaimana?

Dengan berdoa...

Aku bilang "Amin"

👧💞😀😃

Sabtu, 17 Januari 2026

Pembullyan masa SMA

Aku pernah mengalami pembullyan pada saat SMA. Tepatnya saat aku menginjak bangku pertama SMA. Aku, pernah diserang secara personal oleh teman-temanku seluruhnya di masa pertama aku duduk bangku OSIS. Sebagian besar memoriku hilang. Jujur saja. Memori itu menyakitkan. Saat aku dihakimi secara bersama-sama oleh lebih dari 40 orang. Hal ini sangat membekas didiriku. Pada awalnya, ada seseorang yang mengaku teraniaya karena perilakuku. Aku bertanya dan meminta maaf. Ia memintaku berubah dalam hitungan hari. Lalu ia menyalahkanku lagi. Aku merasa dimanipulasi olehnya. Kelak aku tahu, ia seperti itu karena juga korban pembullyan. Dia memanipulasi seluruh orang untuk membelanya. Padahal aku juga tidak pernah membela diri dihadapan siapapun. Aku mundur dan undur.

Selama bertahun-tahun aku menjadi orang yang berusaha percaya diri kembali. Bukan apa-apa, diriku yang percaya diri telah direnggut oleh peristiwa itu. Rasanya sangat menyakitkan. Ada masa-masa aku sangat ketakutan berhadapan di depan orang-orang. Aku merasa sangat ketakutan, takut dihakimi oleh mata-mata yang memandangku. Tidak ada orang yang kuajak bicara. Aku dibiarkan dibully tanpa teman. Seingatku hanya satu orang yang ku ajak bicara saat itu, betty. Itu pun tidak semua hal ku ceritakan. Tapi aku sangat berterima kasih kepada betty yang telah menemaniku.

Sungguh, aku sudah berdoa diam-diam kepada Tuhanku jika aku di dzalimi. Aku tidak meminta apapun secara spesifik kepada Tuhan. Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan kepada Tuhanku. Aku tidak pernah menyebutkan nama, tapi Tuhan tahu siapa saja nama-nama yang ada dalam hatiku. Ia tahu apa yang kurasakan. Aku hanya ingin berkata, aku sudah mengadu tentang pengalaman pembullyanku. Selebihnya, aku mempersilahkan Tuhan menggerakan apapun. Aku tetap mengatakan aku di dzalimi. Sudah cukup itu. Kupasrahkan semua kepadaNya, atas apa yang terjadi

Bismillah-Bismillah-Bismillah

Pengalamanku mengalami depresi membuatku tersadar dan tersentak, betapa agungnya kuasa Allah SWT atas hidup manusia. Dari manusia yang sombo...