Tampilkan postingan dengan label kehilangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehilangan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Januari 2021

Al Fatihah

Ada banyak kesedihan yang harus terjadi di hidup.

Rasa-rasanya tak habis ia menghampiri di tahun yang berat ini.

Ingin rasanya aku menangis tapi tangis hanya meredakan beban sesaat.

Aku hanya ingin mengingat Ibu.

Mengingat pelukannya dikala aku benar-benar gundah tentang dunia.

Dunia terasa berat ya Bu.

Tanpa Ibu, semua sepi, senyap dan hening.

Hanya rapalan doa yang mampu ku ucap dari mulutku.

Al Fatihah

Kamis, 30 Juli 2020

Yang kutahu, mereka yang telah pergi adalah abadi

Ini jelas bukan perkara yang mudah. Di malam yang dingin, beberapa hari belakangan aku selalu rindu dengan orang tuaku yang telah pergi, terutama rindu dengan Ibu. Ada banyak rasa sesak yang memenuhi dada yang ingin aku tuliskan untuk mengurangi beban yang kutanggung menjadi anak yatim piatu.

Aku tidak pernah menyangka akan secepat ini menjadi anak yang ditinggalkan kedua orang tuanya. Dulu aku berpikir bahwa Ibu akan berumur panjang, tapi ternyata Ibu hanya diberi waktu delapan tahun untuk hidup setelah Bapak meninggal tahun 2012.

Semenjak kecil memang aku berjarak dengan Ibu karena ia terlampau sering sibuk bekerja. Kadang aku sebal dengan Ibu kala aku kecil hingga beranjak remaja. Itu juga karena aku kesepian sejujurnya. Aku sempat pula bersitegang hampir 3 tahun lamanya karena Ibu sempat menolak aku menikah dengan suamiku sekarang, meski setelah kami menikah, suamiku malah menjadi menantu yang paling ia sayangi.

Perjalanan hidupku bersama Ibu kurasakan memang alot dan penuh liku tapi semua atas dasar karena Ibu mencintaiku. Kelak ketika aku menikah, aku tersadar betul bahwa Ibu sepenuhnya membanggakanku karena tak pernah goyah dengan pilihan-pilihan hidupku. Ibu selalu berkata bahwa aku anaknya yang tangguh. Tak pernah sekalipun mengeluh padanya. Meski kemudian Ibu menangis karena tahu alasanku tak pernah bercerita karena aku tak mau Ibu terbebani fisik dan mental karena sudah menemani Bapak selama puluhan tahun dengan bayang-bayang stroke.

Aku tak pernah menyangka, perjalanan terakhirku ke Lombok tak pernah lagi mengantarkanku pulang ke rumah Ibu karena pandemi Covid-19. Aku tak pernah menyangka upayaku untuk melindunginya ternyata justru menjadi saksi bisu aku tak pernah menemui Ibu secara langsung hingga ajal menjemput Ibu.

Aku mengenang betul bagaimana ia merindukanku untuk pulang. Aku pulang ke rumah dihari ia benar-benar pulang kepada Gusti Allah. Menjelang kepergiaannya ia tak pernah benar-benar menyentuhku, melihatku secara langsung. 

Kepergiaan Ibu membuatku lebih banyak merenung. Berbeda dengan Bapak yang membuatku tergocang lahir dan batin. Ada banyak hal yang tak sempat kuutarakan kepada beliau betapa aku juga rindu untuk menemuinya. Tapi semua sudah menjadi suratan takdir yang tak pernah bisa dicerna dengan sederhana dengan logika manusia.

Aku cukup bersyukur, Ibu tak mengalami rasa sakit yang lama seperti Bapak. Ia pergi dengan tenang, tak bangun-bangun di kamar tidurku. Ia seperti pergi dengan cara yang kupikir enak sekali. Tak susah. Detik-detik terakhir di ICU ia lalui tanpa drama. Ia pergi tepat ketika aku menghadap CCTV dimana ia berbaring. Lalu air mataku berhamburan, tak pernah lagi menyentuh atau melihatnya. Ibu pergi begitu saja. Tampak tenang dan memang sudah begitu seharunya manusia kembali ke Gusti Allah.

Hal yang justru membuatku merasa berat adalah setelah Ibu dimakamkan. Ada rasa-rasa kosong. Entah apa namanya, menyesak di dada yang tak pernah aku pahami sebelumnya. Aku baru belajar memahami perasaan ini. Aku belajar menerimanya sebagai bagian dari penerimaan atas kehilangan. Aku tetap menghadapinya dengan tenang dan baik-baik saja. 

Toh aku meyakini betul, mereka yang telah pergi juga tak pernah benar-benar pergi. Mereka sudah melampaui ketakutannya sendiri tentang apa yang disebut dengan kematian.

Perasaan berat kehilangan ini sekali lagi coba kuatasi dengan menulis. Tak ada obat lain kukira selain juga waktu. Aku berhasil selamat dari stress pasca kematian Bapak dengan menulis. Kini mungkin aku harus mengulanginya sekali lagi untuk meredakan segala bentuk kehilangan yang memang harus dihadapi lagi sendiri dan tak boleh lari.

--yang kutahu, mereka yang telah pergi adalah abadi--

Bantul, 30 Juli 2020

Rabu, 11 Juni 2014

Surat untuk Bapak #1

Bagaimana menaguhkan rinduku padamu Pak. Rasa didadaku amat berkecamuk tak karuan. Makin lama jarak waktu dari hari kematianmu, hatiku makin tersayat-sayat, sesak dan kehilangan arahnya untuk pulang. Disana Bapak melihat semuanya dengan terang terhadapku tapi aku tidak pak, aku lepas tak terkendali.

Tiap kali aku ingin menangis, aku tak punya bapak untuk mengadu. Ingin kutahan air mata, tapi akhirnya ia jatuh juga. Doa-doa terucap, menatap ke langit. Aku tahu Pak, kau baik disana tapi rindu ternyata berbeda dengan rapalan janji doa akan tempat terbaik disana. Rindu berbeda dengan itu semua, jika rindu itu makin melebar, ia seperti lubang yang menganga. Seperti virus yang menyebar dan menghidupkan sendi kesedihan dalam rongga hati.

Pak, bagiku semua nampak sangat beragam ketika aku dihadapkan pada umur dari akte, berusia 24 tahun. Didepan cermin, kerapkali aku menatap diriku. Aku nampak seperti anak manja, yang tak pernah berubah, merasa bahwa masih ada ayah yang setia tidur bersamaku, mengompres panasku, membikinkan mie goreng jika aku kelaparan, mengantarkanku ke toko buku dan mengajakku naik motor menjelang tidur agar aku lekas terlelap. Pak, aku gagap untuk ditinggal sendiri. Tak kusangka, semua begitu amat pahit dari waktu dimana kau berada di pusara untuk pertama kalinya.

Dua hari lalu kau datang dalam mimpi, nampak kala itu, kau menggunakan batik, berpeci hitam, tengah mencopot sepatu. Berwajah segar dan hanya tersenyum sekilas saja. Kau menatapku, tak berkata apapun. Tapi dari sana, aku paham bahwa itu wajah rindumu. Dulu ketika Bapak masih ada, kerapkali aku melihat bapak menatapku tanpa aku pernah menyadarinya, lalu jika aku tak sengaja melihat bapak menatapku, maka bapak akan tersenyum saja.


Pak, hatiku terasa lengang. Mungkinkah ini yang disebut kehilangan. Bahkan doa pun tak mampu mengobati untuk meringankan. Aku tak memahaminya, sungguh Pak.

Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah

Saat aku depresi berat di 2020, dimana tangan manusia tidak mampu lagi menolong, krisis diri ini membawaku pada satu permintaan tolong kepad...