Tampilkan postingan dengan label Ibu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Januari 2021

Al Fatihah

Ada banyak kesedihan yang harus terjadi di hidup.

Rasa-rasanya tak habis ia menghampiri di tahun yang berat ini.

Ingin rasanya aku menangis tapi tangis hanya meredakan beban sesaat.

Aku hanya ingin mengingat Ibu.

Mengingat pelukannya dikala aku benar-benar gundah tentang dunia.

Dunia terasa berat ya Bu.

Tanpa Ibu, semua sepi, senyap dan hening.

Hanya rapalan doa yang mampu ku ucap dari mulutku.

Al Fatihah

Selasa, 01 Desember 2020

Surat Kebahagiaan untuk Ibu

Hai Ibu

Saat aku menulis surat ini, aku masih kebingungan kemana alamat surat Ibu. Sampai ada sesuatu yang berbisik ke telingaku, "Ibu ada di darahmu, tak kemana-mana"

Aku hanya menghela nafas dan mengusap air mata. Ibu, dulu aku siap untuk menulis surat untuk Bapak. Tapi rasa-rasanya jemari ini tak kuat menuliskan kata-kata, meyakini bahwa Ibu telah tiada dan aku berkirim surat tanpa tujuan.

Ibu, aku mau bilang, hari ini Nduk sudah mewujudkan salah satu mimpi Ibu. Ibu, hari ini aku sudah menyelesaikan tanda jadi untuk membeli tanah di Bantul. Aku beli tanah Bu di daerah Bangunjiwo. Dekat Tugu Gentong Bu. Alhamdulillah uangnya juga cukup. Gak nyangka ya Bu, bulan Juni saat ibu pergi, aku masih kebingungan mencari uang buat beli tanah dan sekejap setelah Ibu pergi, semua jalan rezeki terbuka. Ibu bilang ya sama Allah untuk melancarkan keinginanku? Ya, Ibu kan sekarang dekat sekali sama Allah.

Aku jadi ingat ya Bu. Dulu waktu swargi Bapak meninggal, aku justru bisa keluar negeri. Terbang tinggi sesuai mimpi Bapak.

Oh ya Ibu, doain ya 7 Desember nanti AJB dan Balik Nama tanah. Ukuran tanahnya lumayan untuk bangun rumah, 118 meter Bu. Rencanaku semoga dalam 1 tahun ini segera bisa membangun ya Bu. Aku minta doa Ibu agar bisa memohon juga sama Allah agar dimudahkan rezekimu. Aku pengen mewujudkan mimpi Ibu agar kami punya rumah tanpa hutang, sesuai dengan pesan Ibu dulu.

Saat 3 tahun lalu mungkin Ibu takut, aku akan kenapa-kenapa karena suamiku difabel. Saat membeli tanah pertama di Kulonprogo, justru suamikulah yang minta persetujuan Ibu. Saat beli mobil jazz dulu,ibu hanya lihat secara virtual aja. Meski didalam mimpi akhirnya Ibu datang ngajak Budhe lagi naik mobilku umpek-umpekan di jok belakang. Betapa bahagianya Bu diriku, meski hanya dalam mimpi.

Hari ini, aku pulang dengan mata sembab, berangan andai ibu masih ada. Tapi lagi-lagi sahabatku Didi mengingatkanku

"Lakukan ritual yang sama dengan cara yang berbeda. Tetap kabari Ibuk dengan cara ternyamanmu sekarang. Yakini ibuk menerima kabarmu"

Makanya aku langsung menulis ini untuk Ibu. Hatiku terasa lebih ringan Bu. Ada lautan doa yang akan selalu kucurahkan ke Ibu dan Bapak disana. Ada banyak hal yang akan selalu kutuliskan untuk melepaskan rinduku kepadamu Ibu.

Sembah Pangabektiku Kagem Ibu lan Bapak.

Gusti pemilik Jagad, doa kulo kagem Ibu Sudarmi kalian Bapak Juri Suharto. Swargi kanthi tentrem lan langgeng. Al Fatihah

Jumat, 31 Juli 2020

Cinta nyatanya melebihi ruang dan waktu tatkala ia ditadahkan didalam doa

Kehilangan nampak sederhana ketika ia selesai ditunaikan.
Tapi ia menjadi berat ketika dijalani.

Ada banyak cinta yang harus dipahami kembali melebihi kehadiran.
Ada banyak rindu yang harus didefinisikan ulang tanpa sentuhan.
Pertanyaan-pertanyaan "mengapa" yang tak pernah ada ujung jawabannya.

Kehilangan menjadi saksi bisu yang dialami setiap manusia ketika dihampiri oleh kematian.
Kesenduan, langit mendung, dingin, alam yang berbeda.

--cinta nyatanya melebihi ruang dan waktu tatkala ia ditadahkan didalam doa--

Bantul, 31 Juli 2020

Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah

Saat aku depresi berat di 2020, dimana tangan manusia tidak mampu lagi menolong, krisis diri ini membawaku pada satu permintaan tolong kepad...