Duniaku runtuh setelah almarhum ibuku pergi.
Hidupku tertatih.
Menjalani hidup tanpamu, Ibu. Rasanya berat
Berat sekali.
Aku rindu ingin memelukmu.
Apa ibu juga begitu?
Nabi Saw bersabda; “aku dibuat mencintai”, cinta disini adalah anak rohani. Jika cinta harus ditempuh dengan nilai-nilai praktis, ketahuilah itu bukan cinta, tapi kehendak. Cinta berbeda dengan kehendak. [Ibnu Arabi, Fushusul al-Hikam; 4/259, 2/189 dan Dzakha’ir al-A’laq)
Duniaku runtuh setelah almarhum ibuku pergi.
Hidupku tertatih.
Menjalani hidup tanpamu, Ibu. Rasanya berat
Berat sekali.
Aku rindu ingin memelukmu.
Apa ibu juga begitu?
Aku mengingat masa kecil yang menurutku aneh. Ada perasaan dimana aku merasa tidak layak untuk dicintai. Saat kecil aku kerap dimarahi, atau malu lalu kemudian menarik diri karena merasa tidak dicintai. Lalu aku akan mengambil boneka-boneka didalam kamarku lalu menata satu per satu. Mereka, boneka-boneka ini adalah temanku. Ann, inner childku bilang bahwa itu adalah kita. Masa kecil. Masa kecil yang menyebalkan karena orang-orang bahkan tidak paham apa yang kita rasakan. Orang tua sendiri bahkan tidak paham kesepian yang dialami anaknya. Entah mereka berdua tidak layak menjadi orang tua. Aku dulu sering mengatakan bahwa itu tidak baik, tapi membuat anak merasa tidak dicintai adalah hal yang paling fatal yang dilakukan orang tua. Tidak tahu dan memahami perasaan anak adalah hal terburuk yang diwariskan oleh orang tua.
Akhir-akhir ini, aku mulai melihat Ann kecil bukan sebagai anak yang tidak tahu apa-apa. Dia adalah penunjuk jalan bagiku karena ia memiliki sifat dan karakter yang tidak pernah divalidasi oleh siapapun. Ia adalah versi diriku yang tidak pernah aku dengarkan. Aku selalu mendengar dan mencoba memahami orang lain. Tapi tidak pernah bisa memahami diri sendiri dan apa yang ia rasakan. Pantas saja ia marah sekali.
Ia mengatakan bahwa diri kita adalah hal pertama yang harus didengar. Orang lain itu hidup dengan luka-luka mereka. Tugas memikul luka adalah tugas masing-masing manusia. Bukan ditimpakan kepada manusia lain.
"Sejujurnya Dunna tahu tidak, aku paling benci harus memahami orang yang bahkan tidak pernah mau memahami orang lain. Orang pertama yang berhak didengar ketika hubungan orang tua dan anak terjadi adalah anak. Anak adalah hasil keputusan sadar dari orang tua. Mereka mau menikah dan melanjutkan keturunan. Jika tidak mampu menanggung emosi dan luka masing-masing jangan pernah ditimpakan ke anak. Kita berdua, tidak perlu menanggung derita yang mereka buat sendiri. Menjengkelkan bagiku, harus memahami mereka. Dunna tidak ada orang didunia ini yang ketika disuruh tanggungjawab malah lari, marah-marah, emosian dan meletakan ketidakmampuannya untuk bertanggungjwab sebagai tanggunjawab anak. Dunna itu kayak orang tua, kita yang anak. Kita berhak menuntut apa yang jadi hak kita. Ini bukan ego, tapi bentuk kesadaran untuk meletakan, bahwa orang tua perlu meletakan ekspektasi, luka dan segala macam trauma dikaki mereka sendiri bukan ke anaknya. Menyebalkan jika ada orang dewasa seperti itu...
Hari ini aku banyak berbicara kepada inner childku. Bagi yang sering mengikuti blogku pasti tahu, namanya adalah Ann. Dia adalah versi kecilku yang tetap ajaib kulihat hingga saat ini. Aku sampai detik ini masih sangat belajar tentang anak ini. Anak ini sangat terbuka, jujur dan kadang nyeplos tanpa filter jika melihat sesuatu. Dia anak yang sangat cerdas. Saking cerdasnya, aku sering kelabakan untuk memahami cara berpikir dan merasakan apa yang ia rasakan.
Ia kadang memiliki tatapan mata penuh rasa sinis, tapi didalamnya ada rasa perih dan kesedihan yang dalam. Ia bilang kepadaku, hari ini, tidak perlu menanggung derita orang yang gak mengerti penderitaan kita. Jangan terlalu baik pada orang. Katanya, buat apa peduli sama orang-orang yang bahkan tidak peduli akan diri kita. Ia juga bilang, kalau ia akan merasakan luka-luka yang ditinggalkan orang-orang yang pernah menyakiti dirinya. Ia sadar betul satu per satu. Tapi kadang aku tidak memahami, bagaimana anak ini bisa sangat sulit ditebak emosinya. Sepertinya lukanya lebih dalam dari yang kukira.
Sungguh, anak ini kerap membuatku tertegun. Ia bertanya, aku sudah berbuat baik, tapi kenapa orang lain semena-mena. Kujawab lah, kita berbuat baik untuk diri kita sendiri. Lalu dijawab sama dia, "dunia ini kebanyakan orang baik, tapi bodoh. Aku mau jadi pintar dan kadang-kadang baik saja, ketimbang ikut-ikutan bodoh". Astaga! wkwkwkwkwk. K.O aku dengan jawabannya.
Kadang jawabannya out of the box. Aku pernah tanya, otak kita ini terbuat dari apa sih Ann? Dia jawab dengan perkataan dengan kunci SRP. Apa itu? Katanya saraaaaapppppp... Wkakakakakaka..
Aku mulai banyak mencair dengan humor ketika berbicara dengannya. Sungguh anak ini anak paling ajaib yang pernah kutemui. Sekarang ia bilang, mau belajar merasakan emosi. Ada emosi dasar yang menurutnya menyebalkan. Dia tidak bisa berbicara apa yang ia rasakan dan mau. Ia mau jujur. Dan sepertinya aku harus siap-siap dengan celetukannya yang kadang ga kenal tempat. Tapi ya dengan kesadaran. Anak ini, adalah anak kesepian, pintar dan mulai sadar trantum itu perlu untuk mencari apa yang terjadi. Anak ini sungguh hebat. Hari ini pun ia berkata hal yang sangat membuatku berpikir
"Mba pikir, aku datang setelah kematian ibu, bukan tanpa alasan? Aku menolongmu. Kamu terlalu menjaga perasaan dan menanggung beban orang lain. Aku akan bantu melepaskannya"
Ku tanya? Bagaimana?
Dengan berdoa...
Aku bilang "Amin"
👧💞😀😃
Aku pernah mengalami pembullyan pada saat SMA. Tepatnya saat aku menginjak bangku pertama SMA. Aku, pernah diserang secara personal oleh teman-temanku seluruhnya di masa pertama aku duduk bangku OSIS. Sebagian besar memoriku hilang. Jujur saja. Memori itu menyakitkan. Saat aku dihakimi secara bersama-sama oleh lebih dari 40 orang. Hal ini sangat membekas didiriku. Pada awalnya, ada seseorang yang mengaku teraniaya karena perilakuku. Aku bertanya dan meminta maaf. Ia memintaku berubah dalam hitungan hari. Lalu ia menyalahkanku lagi. Aku merasa dimanipulasi olehnya. Kelak aku tahu, ia seperti itu karena juga korban pembullyan. Dia memanipulasi seluruh orang untuk membelanya. Padahal aku juga tidak pernah membela diri dihadapan siapapun. Aku mundur dan undur.
Selama bertahun-tahun aku menjadi orang yang berusaha percaya diri kembali. Bukan apa-apa, diriku yang percaya diri telah direnggut oleh peristiwa itu. Rasanya sangat menyakitkan. Ada masa-masa aku sangat ketakutan berhadapan di depan orang-orang. Aku merasa sangat ketakutan, takut dihakimi oleh mata-mata yang memandangku. Tidak ada orang yang kuajak bicara. Aku dibiarkan dibully tanpa teman. Seingatku hanya satu orang yang ku ajak bicara saat itu, betty. Itu pun tidak semua hal ku ceritakan. Tapi aku sangat berterima kasih kepada betty yang telah menemaniku.
Sungguh, aku sudah berdoa diam-diam kepada Tuhanku jika aku di dzalimi. Aku tidak meminta apapun secara spesifik kepada Tuhan. Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan kepada Tuhanku. Aku tidak pernah menyebutkan nama, tapi Tuhan tahu siapa saja nama-nama yang ada dalam hatiku. Ia tahu apa yang kurasakan. Aku hanya ingin berkata, aku sudah mengadu tentang pengalaman pembullyanku. Selebihnya, aku mempersilahkan Tuhan menggerakan apapun. Aku tetap mengatakan aku di dzalimi. Sudah cukup itu. Kupasrahkan semua kepadaNya, atas apa yang terjadi
Bulan ramadhan tahun ini sangat spesial bagiku. Di hari ke 17, aku sudah hampir merampungkan 19 juz. Bahagaia sekali. Ditengah-tengah kesibu...