Kamis, 29 Januari 2026

Rindu

Duniaku runtuh setelah almarhum ibuku pergi.

Hidupku tertatih. 

Menjalani hidup tanpamu, Ibu. Rasanya berat

Berat sekali.

Aku rindu ingin memelukmu.

Apa ibu juga begitu?

Selasa, 20 Januari 2026

Dunna

Aku mengingat masa kecil yang menurutku aneh. Ada perasaan dimana aku merasa tidak layak untuk dicintai. Saat kecil aku kerap dimarahi, atau malu lalu kemudian menarik diri karena merasa tidak dicintai. Lalu aku akan mengambil boneka-boneka didalam kamarku lalu menata satu per satu. Mereka, boneka-boneka ini adalah temanku. Ann, inner childku bilang bahwa itu adalah kita. Masa kecil. Masa kecil yang menyebalkan karena orang-orang bahkan tidak paham apa yang kita rasakan. Orang tua sendiri bahkan tidak paham kesepian yang dialami anaknya. Entah mereka berdua tidak layak menjadi orang tua. Aku dulu sering mengatakan bahwa itu tidak baik, tapi membuat anak merasa tidak dicintai adalah hal yang paling fatal yang dilakukan orang tua. Tidak tahu dan memahami perasaan anak adalah hal terburuk yang diwariskan oleh orang tua.

Akhir-akhir ini, aku mulai melihat Ann kecil bukan sebagai anak yang tidak tahu apa-apa. Dia adalah penunjuk jalan bagiku karena ia memiliki sifat dan karakter yang tidak pernah divalidasi oleh siapapun. Ia adalah versi diriku yang tidak pernah aku dengarkan. Aku selalu mendengar dan mencoba memahami orang lain. Tapi tidak pernah bisa memahami diri sendiri dan apa yang ia rasakan. Pantas saja ia marah sekali. 

Ia mengatakan bahwa diri kita adalah hal pertama yang harus didengar. Orang lain itu hidup dengan luka-luka mereka. Tugas memikul luka adalah tugas masing-masing manusia. Bukan ditimpakan kepada manusia lain. 

"Sejujurnya Dunna tahu tidak, aku paling benci harus memahami orang yang bahkan tidak pernah mau memahami orang lain. Orang pertama yang berhak didengar ketika hubungan orang tua dan anak terjadi adalah anak. Anak adalah hasil keputusan sadar dari orang tua. Mereka mau menikah dan melanjutkan keturunan. Jika tidak mampu menanggung emosi dan luka masing-masing jangan pernah ditimpakan ke anak. Kita berdua, tidak perlu menanggung derita yang mereka buat sendiri. Menjengkelkan bagiku, harus memahami mereka. Dunna tidak ada orang didunia ini yang ketika disuruh tanggungjawab malah lari, marah-marah, emosian dan meletakan ketidakmampuannya untuk bertanggungjwab sebagai tanggunjawab anak. Dunna itu kayak orang tua, kita yang anak. Kita berhak menuntut apa yang jadi hak kita. Ini bukan ego, tapi bentuk kesadaran untuk meletakan, bahwa orang tua perlu meletakan ekspektasi, luka dan segala macam trauma dikaki mereka sendiri bukan ke anaknya. Menyebalkan jika ada orang dewasa seperti itu...

Senin, 19 Januari 2026

Doa dari Ann Kecil

Hari ini aku banyak berbicara kepada inner childku. Bagi yang sering mengikuti blogku pasti tahu, namanya adalah Ann. Dia adalah versi kecilku yang tetap ajaib kulihat hingga saat ini. Aku sampai detik ini masih sangat belajar tentang anak ini. Anak ini sangat terbuka, jujur dan kadang nyeplos tanpa filter jika melihat sesuatu. Dia anak yang sangat cerdas. Saking cerdasnya, aku sering kelabakan untuk memahami cara berpikir dan merasakan apa yang ia rasakan.

Ia kadang memiliki tatapan mata penuh rasa sinis, tapi didalamnya ada rasa perih dan kesedihan yang dalam. Ia bilang kepadaku, hari ini, tidak perlu menanggung derita orang yang gak mengerti penderitaan kita. Jangan terlalu baik pada orang. Katanya, buat apa peduli sama orang-orang yang bahkan tidak peduli akan diri kita. Ia juga bilang, kalau ia akan merasakan luka-luka yang ditinggalkan orang-orang yang pernah menyakiti dirinya. Ia sadar betul satu per satu. Tapi kadang aku tidak memahami, bagaimana anak ini bisa sangat sulit ditebak emosinya. Sepertinya lukanya lebih dalam dari yang kukira. 

Sungguh, anak ini kerap membuatku tertegun. Ia bertanya, aku sudah berbuat baik, tapi kenapa orang lain semena-mena. Kujawab lah, kita berbuat baik untuk diri kita sendiri. Lalu dijawab sama dia, "dunia ini kebanyakan orang baik, tapi bodoh. Aku mau jadi pintar dan kadang-kadang baik saja, ketimbang ikut-ikutan bodoh". Astaga! wkwkwkwkwk. K.O aku dengan jawabannya.

Kadang jawabannya out of the box. Aku pernah tanya, otak kita ini terbuat dari apa sih Ann? Dia jawab dengan perkataan dengan kunci SRP. Apa itu? Katanya saraaaaapppppp... Wkakakakakaka..

Aku mulai banyak mencair dengan humor ketika berbicara dengannya. Sungguh anak ini anak paling ajaib yang pernah kutemui. Sekarang ia bilang, mau belajar merasakan emosi. Ada emosi dasar yang menurutnya menyebalkan. Dia tidak bisa berbicara apa yang ia rasakan dan mau. Ia mau jujur. Dan sepertinya aku harus siap-siap dengan celetukannya yang kadang ga kenal tempat. Tapi ya dengan kesadaran. Anak ini, adalah anak kesepian, pintar dan mulai sadar trantum itu perlu untuk mencari apa yang terjadi. Anak ini sungguh hebat. Hari ini pun ia berkata hal yang sangat membuatku berpikir

"Mba pikir, aku datang setelah kematian ibu, bukan tanpa alasan? Aku menolongmu. Kamu terlalu menjaga perasaan dan menanggung beban orang lain. Aku akan bantu melepaskannya"

Ku tanya? Bagaimana?

Dengan berdoa...

Aku bilang "Amin"

👧💞😀😃

Sabtu, 17 Januari 2026

Pembullyan masa SMA

Aku pernah mengalami pembullyan pada saat SMA. Tepatnya saat aku menginjak bangku pertama SMA. Aku, pernah diserang secara personal oleh teman-temanku seluruhnya di masa pertama aku duduk bangku OSIS. Sebagian besar memoriku hilang. Jujur saja. Memori itu menyakitkan. Saat aku dihakimi secara bersama-sama oleh lebih dari 40 orang. Hal ini sangat membekas didiriku. Pada awalnya, ada seseorang yang mengaku teraniaya karena perilakuku. Aku bertanya dan meminta maaf. Ia memintaku berubah dalam hitungan hari. Lalu ia menyalahkanku lagi. Aku merasa dimanipulasi olehnya. Kelak aku tahu, ia seperti itu karena juga korban pembullyan. Dia memanipulasi seluruh orang untuk membelanya. Padahal aku juga tidak pernah membela diri dihadapan siapapun. Aku mundur dan undur.

Selama bertahun-tahun aku menjadi orang yang berusaha percaya diri kembali. Bukan apa-apa, diriku yang percaya diri telah direnggut oleh peristiwa itu. Rasanya sangat menyakitkan. Ada masa-masa aku sangat ketakutan berhadapan di depan orang-orang. Aku merasa sangat ketakutan, takut dihakimi oleh mata-mata yang memandangku. Tidak ada orang yang kuajak bicara. Aku dibiarkan dibully tanpa teman. Seingatku hanya satu orang yang ku ajak bicara saat itu, betty. Itu pun tidak semua hal ku ceritakan. Tapi aku sangat berterima kasih kepada betty yang telah menemaniku.

Sungguh, aku sudah berdoa diam-diam kepada Tuhanku jika aku di dzalimi. Aku tidak meminta apapun secara spesifik kepada Tuhan. Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan kepada Tuhanku. Aku tidak pernah menyebutkan nama, tapi Tuhan tahu siapa saja nama-nama yang ada dalam hatiku. Ia tahu apa yang kurasakan. Aku hanya ingin berkata, aku sudah mengadu tentang pengalaman pembullyanku. Selebihnya, aku mempersilahkan Tuhan menggerakan apapun. Aku tetap mengatakan aku di dzalimi. Sudah cukup itu. Kupasrahkan semua kepadaNya, atas apa yang terjadi

Sabtu, 03 Mei 2025

Jadi Zombie

Banyak orang yang bertanya kepadaku secara pribadi bagaimana ceritanya aku bisa remisi dari depresi dan anxiety. Sejujurnya, aku akan bilang, aku juga tidak tahu. Tidak ada tips khusus sepertinya untuk sembuh kecuali izinNya dan menjalani semuanya. Psikologku juga bertanya padaku di akhir sesi terakhir bertemu dengannya bagaimana aku bisa memutus trauma generasi? Aku juga bingung menjawabnya. Namun aku bisa berbagi pengalaman rasanya jadi zombie di 2020 hehehehehe.

Di 2020, aku sudah hampir gila. Kayaknya sudah gila sih. Kata suamiku, yang aku masih ingat samar-samar, aku melamun setiap hari, bolak-balik ke RS tanpa diagnosis yang jelas, aku menangis tanpa kenal waktu dan memarahi dia juga tanpa alasan. Katanya aku jadi aneh kayak zombie hehehehe. Kata suamiku, aku jadi agak mendingan setelah antidepressan diberikan oleh psikiater. Ya walaupun masih nangis-nangisan dan emosinal, tapi aku bisa merespon dengan lebih baik. 

Kalau ditanya rasanya, udah gak karu-karuan sih. Aku gak tahu ya, mungkin lebih tepatnya ingin lari dari dunia. Padahal juga mau lari kemana coba, orang masih di dunia. Gak mungkin kembali ke perut ibu, tapi kalau mati karena bunuh diri kayaknya gak keren sama sekali. Akhirnya aku memutuskan untuk tetap menjalani dengan dada sakit bertahun-tahun. Sampai hari ini, dada kananku masih sakit. Bukan karena apa-apa tapi karena kesedihan. Sedih semuanya dalam hidup. Aku masih memproses diri dan tahu bahwa aku dalam kondisi relatif stabil. 

Apa yang melatar belakangi kesedihanku? 

Banyak, hahahahahaha. Aku spill sedikit. Aku tidak memiliki kedekatan dengan ibuku karena dia otoriter akibat luka generasi. Luka itu ia genggam, tidak diobati lalu dia menurunkan ke aku. Lalu, aku marah dengan bapakku karena sakit dan dia juga membiarkan ibuku menjadi kepala keluarga. Bagaimana aku tidak marah, ibuku tidak membuatku nyaman. Justru bapakku sakit. Sial kan heheheheh. Dua kakak ku juga tukang bikin onar, banyak lah. Itu akarnya. Tapi fase-fase kehidupanku yang lain juga membuatnya lebih kompleks. Pernah di bully, pernah dikhianati, ditipu, pokoknya kayaknya semua pernah. Psikologku aja bilang, kok masih kuat sampai ruang terapi? Aku bilang, karena lukanya sudah borongan maka sekalian saja aku datang ke ibu, biar sembuh semua. Lama ga papa, aku rela. Capek bawa trauma. 

Sudah hampir 5 tahun aku menjalani depresi. Tapi secara mental aku menjadi lebih baik sekarang. Aku jadi nyaman dengan duniaku yang kecil, gak mencapai apa-apa, hidup seadanya, tahu cukup, menikmati waktu drakoran, bengong kadang tanpa mikir ambil uang tabungan buat liburan, pijat, spa, creambath, facial wkwkwkwkwk. Aku juga gak tertarik berkompetisi dengan orang lain apalagi membuat kompetisi sendiri yang kubuat sendiri, bingung sendiri lalu judeg sendiri. Aku pelan-pelan berani hidup dan siap-siap dengan sadar bahwa aku akan mati, semoga kalau kematian menjemput, aku dijemput dengan tenang, disisi Allah SWT dengan penuh rahmat, bisa dekat dengan Kanjeng Nabi juga. Doaku juga banyak berubah, aku ingin dicintai oleh Allah SWT karena Dia telah menolongku tanpa syarat apapun, bahkan diberikan kasih sayang berlimpah.

Apakah kamu memaafkan orang-orang yang menyakitimu?

Iya, orang yang paling manipulatif dalam hidupku saja aku maafkan. Aku hidup dengan pemaafan bahkan tidak pernah membalas apapun. Bukan karena aku manusia baik, aku tidak berhak menghakimi siapapun tanpa konteks yang jelas. Kalau memang niatnya dia jahat, maka ia akan menabur apa yang ia tanam. Keren donk? Ya enggak. Berdarah-darah sekali heheheheh. Aku bilang, aku kadang-kadang naif dan lebih cenderung bodoh. Sampai sekarang. Aku mensyukuri kebodohanku karena dengan begitu aku berkembang. Apakah kamu menyalahkan mereka? Enggak juga. Setiap orang punya kesempatan berubah. Aku tetap bertegur sapa dengan mereka tapi mereka yang malah kadang malu ketemu denganku karena melihat kelakuan mereka di masa lalu. Akunya cuma ingat apa yang mereka lakukan, lalu ya sudah, hidup berjalan lagi. Gak ada gunanya menghabiskan waktu dengan orang yang menyesali diri karena melukai orang lain. 

Apa yang berubah pasca depresi?

Kemampuan reflektifku diuji benar saat depresi. Apakah aku menyalahkan keadaan atau membuat narasi dan konteks baru atas traumaku. Pengalaman traumatik tidak akan hilang, ia akan reda dan menjadi pengalaman setelah diolah. Aku juga gak lari sekarang berhadapan dengan ketakutan, kekhawatiranku. Aku beraksi. Aku bergerak. Meski berat, aku menyeret diriku sendiri, tapi akan berhenti jika aku butuh istirahat. Aku benar-benar keras kepala soal ini karena orang dengan depresi butuh alasan hidup. Aku memutuskan berjalan, tidak berhenti. Ini sangat sakit lho, bagi orang depresi, nafas aja sulit heheheheh

Apa penilaian diri atas dirimu sendiri?

Orang-orang banyak yang mengatakan aku berani, psikologku bilang aku salah satu klien paling pantang menyerah berproses, bertahun-tahun berproses tidak berhenti. Setelah aku mencoba merasakannya, mungkin aku sangat tahan menderita wkwkwkwkwk. Bayangkan dari usia 5 tahun, di omongin tetangga bakal kawin muda karena kakak perempuanku lulusan SMP terus nikah. Lalu aku lulus dari universitas terbaik. Aku digembleng habis-habisan oleh ibuku yang depresi karena trauma generasi dan ia kepaksa jadi kepala rumah tangga, dari situ aku bertahan dengan orang depresif bertahun-tahun, lalu setelah vonis depresi datang, yang kulakukan bukan bunuh diri tapi aku memutuskan mencari pertolongan, tahunan aku minum obat dan menjalani psikoterapi, aku tidak lari. Ketika kedua kakakku tidak mau bertanggungjawab sebagai orang dewasa menangani masalah keluarga, aku berinisiatif memecahkannya sendiri dan bertanggungjawab, tidak lari. Aku merasa dengan begitu aku akan dewasa dan mampu menampung segala kewajiban sebagai anak. Ketika alm bapakku sakit dan ibu ngos-ngosan membiayai, aku berinisiatif bekerja dini sebelum lulus kuliah karena beban itu tidak akan kuat ibu tanggung meskipun aku akan telat lulus, tapi aku menjalaninya dan lulus, nama jadi lulusan IP tertinggi, tiba-tiba dipanggil sama dekan wkwkwkwkwk. Saat wisuda aku sudah berupaya sembunyi, tapi malah disuruh kedepan. Malu lulusan terlama wkwkwkwkwk. 

Psikologku bertanya-tanya sendiri bagaimana aku bisa sekuat itu?

Aku mau jadi orang baik bu dari dulu. Aku mau punya teman tapi di bully. Akhirnya ya aku perlu mengenali diri. Aku juga sempat dibully lagi di SMA. Salahku sendiri sih, salah circle pertemanan. Tapi kayaknya gara-gara itu juga, aku bisa mengenal orang toxic. Apakah kamu mengurung diri saat di bully? Iya, butuh 1 tahun aku berpikir kenapa aku dibully, tapi dalam perenungan itu aku memutuskan untuk apa coba, belajar tekun tapi seperti biasa, aku gak pernah pelit ilmu. Teman-teman SMA tahu benar, aku gak pernah pelit ngasih jawaban soal ujian. Pesanku cuma 1, kalau niru jawaban, jangan semua sama, kamu nilainya lebih oke ga papa, asal ga sama aja nilainya. Mungkin ini juga pengaruh dari pengalamanku di rumah saat keluargaku harus melunasi hutang kakak ceweku dan mantan suaminya sampai ratusan juga atau miliar ya kali. Jabatan, uang, tahta apapun gak akan dibawa mati. Aku tidak mengejarnya. Ia cuma alat. Itulah kenapa, aku tidak pernah mau hidup di ketiak orang lain. Aku harus bekerja keras dari tangan sendiri. Ibadah itu. Aku tidak pernah mau dikontrol orang atas nama balas budi. Aku selalu berdoa sama Allah SWT bahwa aku harus dilindungi dari orang-orang yang berniat zalim hehehehehe.

Jadi sebenarnya proses pulih itu adalah proses belajar diri. Kalau aku melihat pengalamanku, aku mengolah semua dengan framing yang luas agar zona nyaman itu makin luas. Begitu lah pemirsa. Udah ya ngomyangnya. Jangan dikira aku pamer, enggak. Gak ada yang enak dari depresi, kalau bisa jangan pernah mengalaminya heheheheh. Aku memutuskan hidup, menjalaninya dan tahu cara-cara hidup setelahnya. Semua peristiwa ada maksudnya kalau kita punya kelapangan untuk membuat hidup bermakna bukan hanya nyerah jadi zombie :)



Senin, 27 Mei 2024

Suamiku

Setelah kurasa-rasakan, aku selalu meminta tolong kepadanya saat membutuhkan sesuatu. Sepertinya dia hadir dalam hidupku untuk menolongku. Banyak orang yang mengira bahwa aku kuat karena memang dasarnya kuat, tapi keadaan yang memaksaku menjadi kuat.
Mas Ryan adalah orang pertama setelah sekian lama aku memperlihatkan diri sebagai sosok yang kuat, cewek tangguh dan mandiri. Ia yang pertama kali melihatku menangis karena memang aku sudah tidak kuat menahan beban psikis. Dia memelukku tanpa berkata apapun. Kurasa, ia mampu memahami apa yang ada dihatiku dan rumitnya hidupku hanya dengan melihat mataku. Hal yang mungkin hanya bisa dibaca oleh sosok almarhum bapakku. Tak ada yang lain. Sepanjang kehidupanku, kupikir hanya Bapak yang benar-benar bisa membaca betapa tabahnya diriku menghadapi sakitnya, menghadapi ibu yang keras, kedua kakak yang tak peduli, diremehkan lingkungan dan dianggap sebagai tak tahu adat. 

Mas Ryan membuatku merasakan rasanya dicintai dengan tulus tanpa syarat. Sesuatu yang murni, penuh kasih dan cinta. Hangat dan penuh dengan perhatian. Aku syukuri sebagai buah kesabaranku puluhan tahun berada dalam kondisi terjepit. Kini ada suami yang menyayangiku dan keluarga suami yang mengasihiku. Alhamdulillah 🧡

Senin, 27 November 2023

Growing Pains

Banyak kesedihan yang ku tanggung. Seandainya aku boleh meminta dan mengulang waktu, aku ingin Bapak ku sehat. Menemaniku aku tumbuh dengan dewasa dan hangat.

Jika boleh juga, aku ingin ibu yang hangat. Tapi Tuhan menginginkanku lahir dari rahim seorang ibu yang memiliki luka pengabaian masa kecil. Ia menurunkan trauma generasi itu kepadaku. Aku berupaya menyembuhkannya.

Hidupku, tak sesempurna yang orang lihat. Orang melihatku pintar, mandiri, cerdas, kuat. Tapi jauh dilubuk hatiku terdalam, selalu ada ruang kosong. Kosong tanpa kasih Bapak yang lengkap dan trauma oleh ibu yang mengalami luka pengasuhan. 

Aku sedang belajar berjalan sekarang. Mencintai diriku dengan segala kekurangannya. Aku belajar bahagia dengan menerima rasa sakit, sedih, kecewa, marah, dan emosi buruk yang terpendam. Dadaku sakit ketika aku masuk dan menyadari dari mana luka-luka itu berasal.

Kadang aku merasa lelah. Setiap hari berlatih untuk terampil menerima semua seapa adanya. Tumbuh dari rasa sakit...❤️

Rindu

Duniaku runtuh setelah almarhum ibuku pergi. Hidupku tertatih.  Menjalani hidup tanpamu, Ibu. Rasanya berat Berat sekali. Aku rindu ingin me...