Dulu saat aku masih belum menikah, ada banyak orang yang meragukan diriku apakah akan menikah, memiliki anak atau memiliki keluarga. Sebagai perempuan yang dibesarkan oleh ibu tunggal, karena ayahku selama 10 tahun stroke, membuatku mau tidak mau harus tangguh dalam banyak hal. Aku dewasa sebelum waktunya. Aku tumbuh keras dan tanpa arahan karena ibuku sangat sibuk untuk survival agar aku hidup. Sejujurnya di masa-masa itu, aku merasa tidak penuh sebagai anak. Ada sebagian dari diriku yang masih memendam kekecewaan bahwa realitasnya, aku tumbuh sebagai anak yang kekurang figur seorang ayah. Tidak mudah bergelut dengan perasaan ini.
Aku bilang tidak mudah karena pada satu sisi, kamu dituntut untuk kuat tapi di waktu yang lain, kamu butuh sandaran, tetapi kamu tidak memiliki sandaran. Rasanya sangat menyedihkan, merasa sepi, hampa, tidak ada yang memahami tetapi kamu dipaksa untuk bisa kuat. Perasaan ini seringkali masih tertinggal sampai hari ini. Aku menerimanya sebagai bagian dari diriku, yang pernah ada. Sesekali waktu, ia datang dan aku menyambutnya. Tanpa bereaksi banyak.
Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku selalu berharap suatu hari akan ada orang yang mengerti dan memahamiku. Aku memiliki Allah tapi aku juga butuh berbagi dengan orang lain sebagai sesama manusia. Berkali-kali aku dikecewakan, membuatku patah arang untuk mau memahami ornang lain. Ekspektasi benar-benar kuturunkan. Aku punya banyak kecenderungan introvet dan tidak mau basa basi karena pada dasarnya aku memang pendiam dan cenderung menjadi observer.
Mas Ryan, suamiku datang dengan kesadaran bahwa aku memiliki kekecewaan dan aku merasa beruntung, ia memahamiku. Aku merasa bersyukur bertemu dengannya. Dari sekian laki-laki yang menganggap aku aneh karena kuat banget, ia mau menerima segala kerapuhanku yang selama ini kututupi. Aku merasa menjadi manusiawi didepannya. Tidak semua perasaan bisa ia terima, tapi paling tidak ia memberiku ruang memproses semua. Kadang, ternyata yang kubutukan adalah ruang sendiri untuk bisa memperoses apa yang terjadi diriku sendiri.