Kamis, 27 Agustus 2020

My Pain

I know he loved her ex-girl friend so much until now. I came to his life a month after they separated each other and few months later, he knew her ex-girl friend told lies about her engagement with her ex. 

I never has problem with this girl until I know love conversation transcript from LINE account between them that I found in email when he told me to send email using his account when he was still relationship with me. It hurts me so much until now. I can't imagine how he can send love massage each other and saved it in email.

I was angry and our relation became different until now. I never trust again him 100% again like before. It is such like insecurity? 

I had history to go out from toxic relationship and decided to be independent woman. Honestly, I never believe about marriage life will perfect. I never give again all of my attention like before. I do peace to my self. I learn to love my self. 

Am I angry with this girl?

Yes of course. I still try to forgive her without she knew why I'm angry. Someday, may be she will read it. However, until now I learn to never give and hope all of to people but only to God. 

And how about your man?

I just said "A woman will forgive everything but she can fly away every time if you hurt her again" 



Jumat, 21 Agustus 2020

Pernikahan

Orang selalu berkata, wah suamimu hebat ya? Keren dan lain-lain. Dan tentu saja masih banyak perempuan yang menggilai dia meski ia sudah jadi suami saya. Beberapa dari mereka masih merayu. Biasanya saya cuma ketawa-ketawa saja dan menggoda dia dengan kata-kata cieee hehe

Jauh sebelum suamiku berada di posisi sekarang dan mungkin pencapaian-pencapaiannya nanti, ia masih kupandang sama. Tak berubah. Sebagai partner, saya selalu memposisikan diri sebagai orang yang mawas memandang situasi dan kondisi. Di saat-saat santai hingga genting, hampir kami lalui bersama. 

Sudah tak terhitung diskusi panjang dan cara pandang berbeda kita lalui untuk menyepakati banyak hal. Saya mungkin sering cerewet dalam banyak hal dan menjadi kritikus paling galak. Karena saya percaya, selain saling mengerti, pasangan adalah orang yang harus bisa melihat kondisi secara holistik untuk menganalisis situasi dan merasakan "rasa" yang entah dari mana untuk bisa memastikan bahwa keputusan suaminya "benar" atau pun salah. Selebihnya, untuk proses menjalani, saya lebih menyerahkan kepadanya.

Foto di Ketep, Januari 2014

Saya mempercayai pernikahan harus diawali dengan visi yang jelas. Sejak menerimanya dalam kehidupan saya, saya sudah menyiapkan diri dengan fisik dan mental yang kuat untuk mendukungnya secara lahir dan batin. Memang saya petarung ulung untuk hal-hal yang prinsipil dan berjuang sampai titik akhir jika memang ada laki-laki yang mau hidup dengan saya. Makanya dulu banyak laki-laki jiper. Ia satu-satunya laki-laki yang tidak menganggap bahwa pencapaian, kecerdasan, dan kebebasan yang saya dapat sebagai sebuah ancaman. Ia tahu semakin saya dipercaya, saya makin bisa bertanggungjawab.

Dulu, alm Ibu tidak merestui kami. Ketika ia belum diterima, ia tanya kepada saya mau maju apa tidak. Saya tegas jawab, ya maju. Aku gak akan jiper karena hal-hal kayak gini. Aku percaya cinta bisa mengalahkan segalanya. Mungkin dia juga kaget lebih tepatnya, ada cewek agak berandal mau berjuang dari bawah bersama dia, menentang orang tua lagi.

Kedepan, kehidupannya akan semakin sibuk dan berkembang. Artinya sebagai istri, saya akan melampaui jalan terjal juga untuk memastikan keselamatan lahir dan batin atas jalannya ia dan pernikahan ini. 

Sejak bersamanya saya tahu, hidupnya bukan lagi untuk saya semata. Hidupnya akan lebih terkuras untuk orang banyak. Pernikahan ini harus membawa berkah bagi banyak orang, begitu prinsip kami. Semoga segala jalan terjal kami bisa menjadi ladang keberkahan bagi pernikahan ini, bagi banyak orang baik di dunia maupun akhirat. Amin :)




Jumat, 31 Juli 2020

Cinta nyatanya melebihi ruang dan waktu tatkala ia ditadahkan didalam doa

Kehilangan nampak sederhana ketika ia selesai ditunaikan.
Tapi ia menjadi berat ketika dijalani.

Ada banyak cinta yang harus dipahami kembali melebihi kehadiran.
Ada banyak rindu yang harus didefinisikan ulang tanpa sentuhan.
Pertanyaan-pertanyaan "mengapa" yang tak pernah ada ujung jawabannya.

Kehilangan menjadi saksi bisu yang dialami setiap manusia ketika dihampiri oleh kematian.
Kesenduan, langit mendung, dingin, alam yang berbeda.

--cinta nyatanya melebihi ruang dan waktu tatkala ia ditadahkan didalam doa--

Bantul, 31 Juli 2020

Kamis, 30 Juli 2020

Yang kutahu, mereka yang telah pergi adalah abadi

Ini jelas bukan perkara yang mudah. Di malam yang dingin, beberapa hari belakangan aku selalu rindu dengan orang tuaku yang telah pergi, terutama rindu dengan Ibu. Ada banyak rasa sesak yang memenuhi dada yang ingin aku tuliskan untuk mengurangi beban yang kutanggung menjadi anak yatim piatu.

Aku tidak pernah menyangka akan secepat ini menjadi anak yang ditinggalkan kedua orang tuanya. Dulu aku berpikir bahwa Ibu akan berumur panjang, tapi ternyata Ibu hanya diberi waktu delapan tahun untuk hidup setelah Bapak meninggal tahun 2012.

Semenjak kecil memang aku berjarak dengan Ibu karena ia terlampau sering sibuk bekerja. Kadang aku sebal dengan Ibu kala aku kecil hingga beranjak remaja. Itu juga karena aku kesepian sejujurnya. Aku sempat pula bersitegang hampir 3 tahun lamanya karena Ibu sempat menolak aku menikah dengan suamiku sekarang, meski setelah kami menikah, suamiku malah menjadi menantu yang paling ia sayangi.

Perjalanan hidupku bersama Ibu kurasakan memang alot dan penuh liku tapi semua atas dasar karena Ibu mencintaiku. Kelak ketika aku menikah, aku tersadar betul bahwa Ibu sepenuhnya membanggakanku karena tak pernah goyah dengan pilihan-pilihan hidupku. Ibu selalu berkata bahwa aku anaknya yang tangguh. Tak pernah sekalipun mengeluh padanya. Meski kemudian Ibu menangis karena tahu alasanku tak pernah bercerita karena aku tak mau Ibu terbebani fisik dan mental karena sudah menemani Bapak selama puluhan tahun dengan bayang-bayang stroke.

Aku tak pernah menyangka, perjalanan terakhirku ke Lombok tak pernah lagi mengantarkanku pulang ke rumah Ibu karena pandemi Covid-19. Aku tak pernah menyangka upayaku untuk melindunginya ternyata justru menjadi saksi bisu aku tak pernah menemui Ibu secara langsung hingga ajal menjemput Ibu.

Aku mengenang betul bagaimana ia merindukanku untuk pulang. Aku pulang ke rumah dihari ia benar-benar pulang kepada Gusti Allah. Menjelang kepergiaannya ia tak pernah benar-benar menyentuhku, melihatku secara langsung. 

Kepergiaan Ibu membuatku lebih banyak merenung. Berbeda dengan Bapak yang membuatku tergocang lahir dan batin. Ada banyak hal yang tak sempat kuutarakan kepada beliau betapa aku juga rindu untuk menemuinya. Tapi semua sudah menjadi suratan takdir yang tak pernah bisa dicerna dengan sederhana dengan logika manusia.

Aku cukup bersyukur, Ibu tak mengalami rasa sakit yang lama seperti Bapak. Ia pergi dengan tenang, tak bangun-bangun di kamar tidurku. Ia seperti pergi dengan cara yang kupikir enak sekali. Tak susah. Detik-detik terakhir di ICU ia lalui tanpa drama. Ia pergi tepat ketika aku menghadap CCTV dimana ia berbaring. Lalu air mataku berhamburan, tak pernah lagi menyentuh atau melihatnya. Ibu pergi begitu saja. Tampak tenang dan memang sudah begitu seharunya manusia kembali ke Gusti Allah.

Hal yang justru membuatku merasa berat adalah setelah Ibu dimakamkan. Ada rasa-rasa kosong. Entah apa namanya, menyesak di dada yang tak pernah aku pahami sebelumnya. Aku baru belajar memahami perasaan ini. Aku belajar menerimanya sebagai bagian dari penerimaan atas kehilangan. Aku tetap menghadapinya dengan tenang dan baik-baik saja. 

Toh aku meyakini betul, mereka yang telah pergi juga tak pernah benar-benar pergi. Mereka sudah melampaui ketakutannya sendiri tentang apa yang disebut dengan kematian.

Perasaan berat kehilangan ini sekali lagi coba kuatasi dengan menulis. Tak ada obat lain kukira selain juga waktu. Aku berhasil selamat dari stress pasca kematian Bapak dengan menulis. Kini mungkin aku harus mengulanginya sekali lagi untuk meredakan segala bentuk kehilangan yang memang harus dihadapi lagi sendiri dan tak boleh lari.

--yang kutahu, mereka yang telah pergi adalah abadi--

Bantul, 30 Juli 2020

Mengenang mereka yang pergi dalam jiwa-jiwa yang sepi

Bulan Juli 2013 adalah bulan yang amat dingin, daun bambu kering berjatuhan dan berserakan di tanah kebun, suara burung prenjak bercicit. Didalam rumah ada ketegangan antara seorang ibu dan anak. Ibu yang menuntut haknya dipenuhi dan anak yang ingin kebebasannya tak terenggut. Anak itu masih terpukul dengan kematian bapaknya. Ia marah kepada dunia karena ia jadi yatim. 

Ada duka terpendam terpancar dari matanya. Mata penuh kesedihan dan penuh trauma. Ia ngotot sendiri dan tingkahnya berdampak buruk pada jiwanya sendiri. Esok pagi, tanpa berpamitan ia pergi. Ini bukan rumah, tak ada kehangatan disini. Semua dingin seperti dinding pengadilan penuh tuntutan. 

Di sela kemarahannya, ia pergi ke tempat dimana ia biasa menyendiri bertahun-tahun. Di dalam kamar itu, untuk pertama kalinya ia menangis. Meratapi diri. Merasakan bagaimana rasanya perih di batin. Tidak pergi. Ia menghadapinya. Ia menerima sepi. Menerima kesendirian. Menerima dirinya yang ia tinggalkan. 

"Sendirian itu tak apa. Tak memiliki siapa-siapa juga tak apa. Tak dicintai tak apa. Tak memiliki pasangan juga tak apa. Ditinggalkan juga tak apa-apa. Sendirian itu baik. Mulailah mencintai dirimu sendiri. Tak apa-apa, terimalah dirimu apa adanya"

---kelak dikemudian hari, ketika ia sudah terbiasa sendirian, ia terkaget karena Tuhan mengirimkan banyak kegembiraan dengan cara yang tak disangka-sangka---

Bantul, 30 Juli 2020
--mengenang mereka yang pergi dalam jiwa-jiwa yang sepi--

Kamis, 12 Maret 2020

Doa-Doa Yang Bekerja Bersama

Akhirnya, hari ini tiba. Hari yang memasuki pintu-pintu hidup selanjutnya. Hari dimana kemungkinan-kemungkinan baru terbuka. Dan kami memutuskan untuk memasuki kemungkinan-kemungkinan baru yang entah apa, kami tak tahu. Tapi hari ini kami memutuskan apa yang kami tahu : menikah. Pintu yang memasuki segala entah. Kami percaya bahwa dengan berdua, akan menjadi banyak kemungkinan baru. Cinta yang kami yakini hingga melangkahkan kami ke “hari nikah” ini adalah cinta yang selalu kami harapkan menumbuhkan segala hal. Bukan cinta yang berarti satu tambah satu berarti menyatu, tetapi satu tambah satu yang bisa berarti dua, tiga, lima dan seterusnya. Sebab setiap manusia yang dilahirkan Tuhan memiliki sikap dan perbedaan-perbedaannya masing-masing, tidak harus melebur jadi satu karena pernikahan. Justru ia harus menumbuhkan “yang banyak”, melahirkan kemungkinan-kemungkinan baru yang lebih banyak, melahirkan kebaikan-kebaikan yang berguna bersama. Dan karena itulah kami belajar untuk menjadi dewasa, bukan semata karena usia, tetapi dalam laku dan pikiran, juga dalam rasa. Sebab dewasa juga adalah pertemuan-pertemuan (yang kadang pahit) dengan diri sendiri.

Rabu, 02 Agustus 2017

Puasa


Saya menjadi teringat pertanyaan Ibu tatkala menanyakan kepada Bapak sebuah pertanyaan ketika Bapak memutuskan pensiun dini.



“Pak, Bapak kenapa mau  pensiun dini? Banyak kesempatan Pak buat Bapak mendapatkan posisi?”



Lalu dengan tersenyum Bapak berkata,



“Gak Bu, sudah cukup”


Potongan percakapan itu kembali teriang dikepala saya akhir-akhir ini. Kala itu Bapak saya berusia kurang lebih 40an tahun. Usia dimana setiap orang yang bekerja mendapatkan posisi yang sangat strategis dalam berkarier. Namun, bapak memilih untuk mundur. Bapak pergi meninggalkan semua. Padahal semua ada didepan matanya. Jika mau , ia bisa mendapatkan posisi lebih baik menurut orang-orang. Banyak yang lain mencegah keinginanya, tapi ia tetap memilih pensiun dini/

Ramadhan

Bulan ramadhan tahun ini sangat spesial bagiku. Di hari ke 17, aku sudah hampir merampungkan 19 juz. Bahagaia sekali. Ditengah-tengah kesibu...