Nabi Saw bersabda; “aku dibuat mencintai”, cinta disini adalah anak rohani. Jika cinta harus ditempuh dengan nilai-nilai praktis, ketahuilah itu bukan cinta, tapi kehendak. Cinta berbeda dengan kehendak. [Ibnu Arabi, Fushusul al-Hikam; 4/259, 2/189 dan Dzakha’ir al-A’laq)
Jumat, 01 Juli 2022
Rumah Hangat
Kamis, 23 Juni 2022
Cinta yang Tulus dari Studio Ghilbi
Hari-hari ini, aku sering sekali menonton film-film animasi jepang. Aku merasa jika aku menonton animasi jepang, membuatku bisa kembali mengingat masa kecilku yang indah, penuh cinta, sehingga aku bisa lolos dari depresi.
Aku menonton studio ghilbi tentu saja…dan aah…aku benar-benar merasa bahwa film ini membuatku bangkit dari depresi karena melihat kembali bagaimana caranya memiliki cinta yang tulus :)
Jumat, 17 Juni 2022
Pulang ke Kejawaan, Pulang ke Rasa (Raos)
Gusti, saya kembali ke Jawa.
Eyang kung, eyang uti, bapak, ibu, saya kembali. Ke rumah. Rumah, Jawa. Tempat kembalinya saya ke rasa setelah 10 tahun mengembara ke Barat…
Sekian lama, kalian memanggilku untuk segera pulang, tumraping wong ing Tanah Jawi. Kembali menjadi orang yang mengerti. Ngerasake, ngolah roso…
Saya pulang Eyang Panembahan Romo Kajoran. Saya pulang dengan tidak lagi membawa dendam kepada seseorang yang telah membunuh klan keluarga kita…Saya ingin pulang dengan pengertian, sebagai orang Jawa…
Saya telah berkelana jauh. Mengolah logika dan pikiran saya. Saya tidak bertemu dengan apa yang saya cari selama ini sebagai orang, sebagai orang Jawa. Mungkin benar, saya harus kembali menjadi Jawa lagi. Tepat seperti 10 tahun lalu, saya meninggalkan kejawaan saya. Menjadi orang lain, berkelana pada filsuf-filsuf dan pemikir barat. Tepat setelah Bapak sedo. Itu saya sadari karena saya mengalami kehilangan amat sangat, tidak mau menerim, Bapak sudah kondur ing ngayunaning Gusti. Saya terlampau takut dan tidak kuat menanggung beban. Saya lari ke Barat. Dunia yang saya temui di kampus. Namun, saya bersyukur pernah lari kesitu dan memahami bagaimana cara kerja berpikir Barat juga memperkaya kehidupan saya. Tapi saya tahu, saya tetap lah harus pulang, menjadi Jawa.
Saya mengembara pada pemikiran dan revolusi kognitif. Saya tahu, saya juga mendapatkan cara survive dari segala penderitaan dari sana. Dari masa saya sekolah dan kuliah. Tapi lagi-lagi ketika saya dipenggal oleh kepergian almarhumah Ibu, ternyata Ibu meminta saya bukan hanya mendoakannya tapi pulang ke Jawa. Mengolah kesadaran saya sebagai manusia. Sebagai mahkluk Gusti yang punya tanggungjawab memperindah jagad. Menjaga kesadaran itu dan tidak terjebak dalam pikiran (kramadangsa) saya sendiri.
Saya sesungguhnya berakar dari Jawa. Ia ditanamkan Ibu dan Bapak swargi melalui bahasa krama inggil yang mereka ajarkan dari saya kecil hingga saya masih bisa menggunakan bahasa itu hingga saya dewasa. Saya diajari dengan laku bapak dan ibu untuk dadi wong. Bukan semata punya harta yang banyak, tapi bisa disambati dan dijadikan pegangan oleh banyak orang, terutama mereka yang lemah. Saya ingat betapa ibu akhirnya sampai meneteskan air mata, ketika anak ragilnya sudah jadi wong. Bisa disambati, bisa jadi pensiunnya orang tua. Tidak bingung mau kemana. Betapa banyak yang sudah ibu dan bapak tinggalkan kepada anakmu ini. Anak, yang ternyata bisa tatag meski harus depresi karena merasa tidak punya alasan lagi cara melanjutkan hidup, karena bapak dan ibu, alasanku untuk selalu bertahan dalam situasi sempit. Sebagai anak, keprihatinan dan kepedihan Bapak dan Ibu, mengantarkanku pada rasa pedih terdalam. Maaf ya pak, Nduk hanya bisa belajar sampai UGM dan membanggakan bapak hanya sampai usia 22 tahun. Maaf ya Bu, hanya bisa memberikan operasi kaki, mengobati stroke, memberikan ibu uang sekedarnya, baru bisa ngasih uang umroh. Belum bisa banyak yang kuberikan ke Ibu. Meski ibu selalu bilang, ibu senang dan bangga. Kamu bisa ngadeg/berdiri sendiri dengan mandiri, dan menjadi amat dewasa. Mengatasi banyak masalah tanpa pernah merepotkan Ibu.
Segala kepedihan yang kutanggung, tentu tidak sepadan dengan apa yang ibu dan bapak berikan sepanjang kehidupan Nduk sebagai seorang anak. Nduk hanya bisa melakukan hal-hal yang membuat Ibu dan Bapak bangga meski kecil, setidaknya Nduk ingin, saat Nduk omah-omahan dan dewasa, tidak merepotkan apapun kepada Bapak dan Ibu. Rasa yang hampir selalu menjadi lambaranku sebagai anaknya Bapak dan Ibu, yang sangat Jawa.
Pak Bu, aku mengalami depresi. Selama 2 tahun ini. Bapak dan Ibu pasti tahu itu. Dan aku tahu, pasti bapak dan ibu merasa sedih disana, karena mendapatiku hancur-hancuran. Tapi pak, bu, sekarang Nduk sudah pulih. Pulih karena Bapak dan Ibu meletakan obat itu di ruang rasa, kejawaan yang ibu dan bapak bangun pelan-pelan kepada batinku sejak aku anak-anak. Untuk bisa merasakan rasanya orang lain. Cinta melalui rasa, raos yang Bapak dan Ibu tempatkan di diri sejati, bukan di pikiran/kramadangsa yang selama ini aku gunakan, untuk ku bertahan dari serangan-serangan kehidupan yang menggoncang keluarga kita. Dari bapak yang sakit stroke, ibu yang juga sakit, mbak yang KDRT dan mas yang juga punya lelakoning urip yang juga tidk mudah. Tapi pak bu, semua itu telah membuat ijazah hidupku lengkap, ketika aku sudah mengolah semua dengan batin dan kesadaranku, aku telah lilo. Ikhlas dan sadar bahwa memang itu takdir keluarga kita, hidup kita. Yang kudu diterima dan harus dijadikan ijazah kehidupan. Pak Bu, doakan anak mu ini, mugo-mugo adoh saking payendu ya pak bu…Doakan mantu kesayangan Ibu juga agar dimudahkan pula sekolah S3 nya. Aku akan selalu tatag menjalani kehidupan, karena aku hidup dalam kesadaran bukan pikiran lagi. Semoga surat ini Bapak dan Ibu baca ya disana. Aku sayang bapak dan ibu. Dan aku yakin, bapak dan ibu sudah paripurna dengan kesejatianNya. Ayem..tentrem wonten ayunaning Gusti Ingkang Maha Kinasih
Sabtu, 11 Juni 2022
Trauma Kematian
Aku berpikir bahwa hidupku memang benar-benar berubah setelah aku depresi. Kematian orang-orang terdekatku telah mengubah keseluruhan hidupku. Kematian bapak, kematian ibu, dua-duanya amat menyakitkanku secara batin. Kepergiaan mereka dengan cara yang tak pernah kusangka, membuatku benar-benar merasa trauma.
Hari ini ketika aku berada di sebuah cafe, dan suamiku tidak bisa dihubungi, aku tetiba panik, takut ia kenapa-kenapa. Persis ketika pagi-pagi, aku menerima panggilan telepon, jika ibu masuk UGD dan dipindahkan ke ICU. Padahal beberapa hari sebelumnya, aku menghubunginya. Bagiku, kepergian memang tidak bisa ditebak. Akan tetapi, kepergiaan dengan cara mendadak pada ibu, dan menunggu bapak dengan rentang sangat lama menuju kematiannya, membuatku benar-benar trauma.
Ada rasa takut, aku akan ditinggalkan. Meski aku tahu, setiap orang akan pergi. Hanya saja, aku memiliki prolong grief. Kedukaan yang sangat panjang. Mungkin karena masa kecilku lebih banyak menderita, sehingga saat aku tumbuh dewasa, beban mentalku tidak terlampau kuat lagi. Masa anak-anak telah membuatku benar-benar trauma. Setelah dewasa, aku jatuh ke depresi.
Kepergian Bapak mungkin jadi waktu yang lama buatku untuk bangkit. Tadi siang aku menangis, sembari meratap merindukan Bapak. Aku tahu, ia sudah pergi hampir 10 tahun, tapi ya rasa menyakitkannya masih tetap sama.
Aku benar-benar berada dalam fase yang membuatku menyadari, aku terlampau lemah memang untuk ditinggalkan orang-orang terdekat, karena aku merasa tidak punya ikatan/kemelekatan kuat dengan mereka. Aku banyak menutup diri saat kecil untuk bertahan, mungkin sekarang, tatkala suamiku ada di sampingku, aku ingin selalu bersamanya, dekat. Karena aku tahu, rasanya sungguh tidak nyaman berada dalam kesendirian dan kesedihan bertahun-tahun, tanpa ada yang mendampingi. Sesungguhnya, untukku, ini perasaan paling rentan, sebagai seorang manusia. Aku tahu, banyak yang mencintaiku secara tulus, tapi aku tidak berani untuk mencintai tulus secara lebih banyak, karena aku telah merasa trauma dipenggal oleh kematian. Aku tidak beranjak banyak dari rasa takut akan kematian...Aku tahu, aku paham, dan sadar, aku belum sekuat dan setatag itu...semoga waktu akan memulihkan, trauma tentang kematian...
Selasa, 24 Mei 2022
Support System Orang Depresi
Depresi bukanlah penyakit mental yang mudah dijalani. Rasa sakitnya benar-benar membuat orang yang mengalaminya akan memahami, bagaimana rasanya hidup tanpa jiwa, ingin mengakhiri segalanya. Manusia, makhluk paling survival, dengan rekam jejak panjang dari zaman purba, akan bisa mengakhiri kehidupan karena penyakit ini.
Gejala-gejala depresi lahir perlahan, dari genetik, pengasuhan masa kecil yang menyakitkan, lingkungan sekolah yang penuh bullying, putus cinta, krisis kehidupan, menghadapi kedukaan kematian dan berbagai trauma, bisa meledak tanpa diduga. Sebagian orang yang mengalaminya, akan menangis dan merasakan kesedihan mendalam. Rasanya seperti tenggelam dalam lumpur kesedihan, dimana orang yang mengalaminya tidak tahu bagaimana caranya keluar dari kesedihan itu.
Salah satu hal yang paling penting dari proses kesembuhan dari orang depresi adalah support system. Orang-orang terdekat menjadi kunci, berhasil tidaknya seluruh terapi yang dijalani orang yang mengalami depresi. Ada dua terapi yang bisa dijalani, sejauh ini ada farmakologi atau dengan pengobatan dari psikiater dan psikoterapi yang dilakukan oleh psikolog/terapis. Keduanya sebaiknya dilakukan beriringan. Obat dibutuhkan untuk membantu mengurangi gejala fisik dan psikoterapi digunakan untuk melatih cara berpikir, bertindak dan merasakan agar orang yang depresi tidak relaps atau kembali depresi.
Lingkungan menjadi faktor yang paling dominan menentukan apakah seseorang depresi bisa segera sembuh atau justru makin memburuk. Dalam kasus yang pernah kulihat ketika di klinik kejiwaan, hampir sebagian besar keluarga atau lingkungan pasien yang datang ke psikiater amat malu dan sembunyi-sembunyi ketika ada anggota keluarganya yang sakit mental. Di kesempatan lain, aku dan suamiku juga sering melihat pasien yang datang dengan malu ketika mengambil obat. Padahal, keterbukaan dan kesadaran untuk mengakui bahwa diri sedang tidak sehat mental, menurut dokter psikiaterku, adalah langkah awal untuk kesembuhan. Sebagai catatan, aku datang ditemani suamiku, saat menjalani serangkaian assessment, lalu bertemu dengan dokter, aku mengakui bahwa saya bermasalah. Hal itu direspon amat positif oleh dokter. Ia berkata bahwa dengan posisi kesadaran seperti ini, maka peluang sembuhku akan lebih cepat.
Support system dalam hal ini keluarga menjadi faktor penting kesembuhan seseorang dengan depresi. Ketika aku masuk depresi pertama kali, suamiku sudah berpikir bahwa aku jelas tidak akan bisa bekerja sementara waktu. Ini berarti sementara waktu penghasilan hanya akan ditopang oleh dirinya. Dia menyiapkan serangkaian rencana keuangan, agar aku bisa tertolong melalui pengobatan terbaik. Suamiku memutuskan agar diriku mendapatkan pengobatan mandiri, dengan harga obat bisa sampai rentang 500 ribu hingga 1 juta sekali konsultasi, dengan posisi 1-2 kali sebulan. Sebenarnya dengan BPJS, obat bisa gratis. Namun, ia memilih untuk aku menjalani terapi dengan dokter dan pengobatan terbaik.
Ia memilihkanku psikolog senior, yang memiliki rekam jejak panjang menangani pasien-pasien depresi akut. Ia yang merekomendasikanku untuk mendapatkan layanan terbaik dari biro psikologi Kemuning Kembar. Aku sempat 2 kali ganti psikolog sebelum ke Kemuning Kembar. Dengan rentang sekali konsultasi bisa antara 350-400 ribu. Tapi tenang saja, jika kalian punya BPJS, layanan ini bisa diakses di puskesmas/rumah sakit secara gratis. Depresiku lumayan kompleks, aku datang ke psikolog lebih dari 12 kali, dan masih di maintanance sampai sekarang. Aku ke psikolog sebulan sekali.
Saat depresi, suamiku juga tetap bekerja dan beberapa kali keluar kota dengan rentang waktu cukup panjang. Ia tidak ingin, aku tidak terawat. Maka ibu mertuaku yang kemudian merawatku. Hampir 1 bulan, aku dirawat ibu dan bapak saat aku dalam pengawasan obat depresi. Ibuku sangat telaten dan memperlakukanku sangat baik, dimana ia adalah sumber kekuatanku untuk pulih. Aku merasakan kembali dicintai oleh ibu dan keluarga yang hangat.
Aku sejujurnya sering melankolis sendiri, mengingat bagaimana suamiku bertahan sebagai caregiver. Tidak gampang. Hampir setiap saat aku menangis dan bersedih. Belum lagi gejolak emosional yang terjadi. Mendampingi orang depresi sangat melelahkan, sangat. Ia mempersiapkan banyak hal, agar aku tidak semakin jatuh kedalam lubang depresi. Ia mendorongku untuk menulis setiap saat. Saat amarah keluar, aku akan menulis lalu akan menangis. Ia berulang kali mendengar keluhan dan ucapan yang sama, ratusan kali dalam sehari. Belum lagi, menghadapi emosiku yang naik turun.
Sekarang, aku sadar, aku tidak akan sembuh kalau tidak ada dukungan dari suami dan keluarga. Disaat semua terasa gelap bagi orang depresi, sejujurnya, mereka hanya ingin orang terdekatnya tahu, tidak mudah menahan beban luka batin sendiri. Ia ingin diterima apa adanya. Ditemani untuk bersama-sama menyembuhkan luka dan belajar untuk mentransformasi luka. Aku merasa beruntung memiliki suamiku. Aku tahu, tidak banyak yang seberuntung aku ketika berhadapan dengan depresi. Maka, aku akan mulai menuliskan pengalamanku menghadapi masa-masa sulit saat depresi dan bagaimana support system harus dibangun tatkala ada seseorang membutuhkan bantuan saat ia berupaya untuk mengakhiri kehidupan…
Kamis, 19 Mei 2022
Hari-Hari Akhir Bapak
Minggu, 15 Mei 2022
Pemaafan
I didn't have a happy childhood, I had a very tough childhood, and I didn't have a good relationship with my mum. That was a fact but now I have already transformed my pain to overcome.
Maaf
Semoga maaf ini Engkau dengar. Semoga maaf ini engkau sekalian rasakan. Maafkan semua yang telah terjadi Maafkan kesalahanku. Ampuni aku Say...
-
Banyak orang yang bertanya kepadaku secara pribadi bagaimana ceritanya aku bisa remisi dari depresi dan anxiety. Sejujurnya, aku akan bilang...
-
Aku sangat berterima kasih kepada suamiku. Bersamanya aku serasa memiliki teman hidup dan kekasih yang kucintai setiap hari. Tidak hentinya...
-
Banyak kesedihan yang ku tanggung. Seandainya aku boleh meminta dan mengulang waktu, aku ingin Bapak ku sehat. Menemaniku aku tumbuh dengan ...