Minggu, 11 September 2022

Es Krim dan Tumbuh Melalui Luka

Memakan es krim, untukku, menjadi tidak sederhana. Ada banyak kenangan disana. Yang kini ku mengerti sebagai cara merawat kenangan baik sekaligus pertumbuhan atas luka. Saat kecil, ketika aku menangis, bapak akan mengajakku membelikan es krim dan berbicara kepadaku. Mengapa aku menangis, kadang juga aku tak menjawab, meski ia sudah membujukku dengan lembut. Aku baru akan bercerita jika aku merasa memang tidak bisa mengerti apa yang kurasakan. 


Bertahun-tahun setelahnya, saat dadaku sakit karena mengalami peristiwa-peristiwa perih, aku akan datang membeli es krim atau mungkin ke McD hanya makan es krim cone plain. Dan diam. Biasanya aku sendirian dan memakannya saat senja. Orang-orang atau teman-temanku selalu bertanya mengapa aku senang makan es krim sendirian, ada banyak kenangan yang tidak mungkin bisa kuceritakan bersama alm Bapak. Aku biasanya cuma diam dan menikmati es krim itu sendiri.


Saat itu, aku tahu, betapa sepinya hari-hari hanya memakan es krim sendiri. Aku harap, Bapak bisa menemaniku. Mendengarkan ceritaku bahwa aku benar-benar merasa sepi. Lalu, aku akan menulis setelah memakan es krim, di notes yang kubawa. Aku kerap melakukan ini, terutama saat bapak sudah mulai tidak bisa bicara dan aku harus kuliah di Jogja. 


Aku termasuk kikuk, saat pertama-tama ada Mas Ryan menemaniku makan es krim dan melihat senja didekat McD Sudirman. Inner childku melihat dia cukup lama sembari mengamati. Aku sadar, ia berguman "ada orang yang mau menemaniku ya". Seakan ia tidak pernah bertemu orang yang mau menemaninya melakukan hal yang biasa dianggap aneh orang orang lain. Makan es krim sendiri, setelah bapak sakit.


Mas Ryan selalu menemaniku makan es krim dimasa-masa itu. Hanya memastikan, aku senang dan merasa baik setelah makan es krim. Ia mungkin sudah tahu, tanpa banyak berkata-kata, menemaniku, karena dia tahu, hatiku sebenarnya sepi dan perih mengingat bapak. 


Hari-hari, berjalan. Aku selalu berharap, luka-luka yang tertinggal, tentang masa perih saat Bapak sakit bertransformasi dengan baik. Semoga ada banyak waktu memakan es krim dan catatan luka yang pernah terjadi, berubah menjadi pengertian dan penyembuhan batin ❤🐋🐬🐳💕💞

Selasa, 06 September 2022

Menemui Trauma

 Mungkin pengalaman yang paling membuat hidup lebih bermakna adalah menemui trauma. Sebagai pemborong trauma (hehehehe), hampir semua kurasakan dimasa anak-anak, mengingat dengan detail setiap trauma ternyata membantu kita menyembuhkannya. Sederhananya, aku kerapa bertanya kepada diri sendiri, mengapa aku bisa sangat enggan mengerjakan tugas-tugas yang tidak aku sukai. Aku bahkan bisa meninggalkannya begitu saja. Aku kemudian mengingat hari pertama aku masuk TK, disuruh menggambar ikan, dan dimarahi gara-gara gak bisa menggambar ikan dengan benar. Aku kemudian memutuskan mogok sekolah selama seminggu. Aku memiliki trauma mendalam karena dianggap gagal menggambar ikan. Lalu ternyata hal itu merembet ke banyak fase-fase hidup setelahnya, karena luka pada inner child ini tidak diselesaikan.

27 tahun setelahnya, aku datang pada anak kecil berusia 5 tahun itu. Dan aku masih melihatnya marah dan kecewa karena dianggap gak bisa menggambar ikan. Aku mengingat peristiwa dalam memoriku, dan mengajaknya bertemu dengan peristiwa itu. Ternyata dadaku sakit karena menahan amarah. Aku mengajak inner child untuk melihat bagaimana peristiwa itu, menghadapi dan menyelesaikan perasaan yang tertinggal dan terluka itu. Hasilnya? Aku bisa beranjak dari luka itu dimasa sekarang. Biasanya jika ada respon inner child, aku meneliti, ini kenapa ya? Ia akan mudah memberikan gambaran memori itu dari mana. Tidak selalu berhasil memang menerima perasaan-perasaan tidak nyaman. Paling ekstrim, ia bisa marah-marah dan nangis hanya karena ingat wajah ibu waktu marah-marah dan berteriak saat ia masih kecil. Efeknya, malamnya aku jadi mimpi buruk. Tapi sekarang jauh-jauh lebih baik, jika ia melihat wajah ibu dalam memorinya, ia bisa melotot sambil mayun. Meski masih ada sisa kemarahan, tapi progresnya jauh sangat baik. Semua harus dijalani dengan apa adanya. Dulu aku mengira, hati itu tipis dan mudah terluka. Tapi baru kesadari, berkali-kali hati itu dilukai, justru ia semakin kuat, asal kita mengerti cara merawatnya 🙂

Selasa, 02 Agustus 2022

Suamiku Difabel Kaki

Mungkin akan selalu ada pertanyaan, mengapa aku bersedia menghabiskan waktu sisa hidupku dengan suami yang memiliki difabel kaki. Yang mungkin bagi banyak perempuan, bukan sebuah pilihan. Mungkin, banyak juga laki-laki, yang meremehkan, atau mungkin juga tidak terima, mengapa aku akhirnya memilihnya?


Aku tidak pernah punya alasan mengapa akhirnya aku mencintainya. Itu yang kujawab ketika pertama kali, ia mengajakku menikah. Aku tak pernah punya alasan. Bagiku, cinta adalah hal yang tulus, tanpa butuh alasan-alasan teknis.

Aku belajar dari kehidupanku. Hidupku yang kuperjuangkan agar sempurna, nyatanya tak pernah sempurna. Aku mengharapkan kesempurnaan dari cinta ibuku, agar ia memiliki waktu untukku, mengantarkanku sekolah, bisa imunisasi bersamanya, diajak ngobrol, dan semua harapan itu tak pernah sepenuhnya aku dapatkan. Aku tahu Tuhan mengajariku untuk bisa menerima hal-hal yang tak pernah sempurna didalam hidup, bahkan semenjak anak-anak.

Aku tahu, keputusanku untuk menikah juga dulunya tak disetujui oleh keluarga pada awalnya. Tapi bagiku, cinta melewati batas-batas itu semua. Aku belajar mencintai ayahku, yang difabel karena serangan stroke berkali-kali. Dari yang awalnya bisa bergerak hingga diatas kursi roda. Cintaku tak terbatas untuknya, seperti halnya ia mengajariku untuk mengasihi apapun dengan lembut. Begitu juga, aku belajar menerima dan mencintai ibuku dengan caranya, bergerak menjadi kepala keluarga dan keras kepada kehidupan. Ia melakukan itu untukku, agar aku bisa hidup, sekolah dan punya kehidupan yang lebih baik.

Cintaku kepada suamiku, yang difabel kaki, semakin hari semakin tumbuh dengan penuh kasih. Bagiku, ia adalah kesempurnaan dalam ketidaksempurnaan. Bagi banyak orang, ia mungkin memiliki kekurangan, tapi ia mengajariku bagaimana mencintai kekurangan. Aku tak pernah melihat difabel kakinya sebagai kekurangan karena aku meyakini, semua manusia, layak dicintai, apapun dan bagaimana pun keadaan fisik dan mentalnya.

Suamiku, tak pernah berupaya membuktikan apapun kepadaku. Ia menerimaku apa adanya. Aku dekat dengannya, saat aku dalam posisi depresi dan dia tidak meninggalkanku di tahun 2012-2013. Hanya dia yang mau menerima dan memastikan bahwa aku akan baik-baik saja, setelah bapak tidak ada. Dia pula yang mau melihatku menangis dalam keadaan depresif (meski aku tahu, ia tak pernah mau melihatku menangis setiap hari), saat aku kehilangan Ibu secara mendadak.

Cinta bagiku melebihi hal-hal fisik dan teknis. Aku melihat bagaimana ibuku tak pernah meninggalkan bapakku, saat bapak tak berdaya. Cinta itu juga dirawat alm ibu, saat ia mengatakan tak akan menikah lagi. Cintanya hanya untuk alm bapak.

Saat orang-orang berkata, ah sekarang posisi suamimu sudah dapat ini dan itu (jabatan dll). Aku sudah melewati banyak hal yang membuatku tak pernah mau berlutut karena jabatan, uang dan kekuasaan. Aku pernah melewati itu disaat usiaku masih kecil. Keluargaku pernah kehilangan uang miliaran rupiah, dan aku tahu dari peristiwa itu, harta mungkin diperlukan tapi ia tak akan cukup tanpa ada kehangatan dan cinta.

Bertahun-tahun, aku selalu berupaya tulus mengasihi orang-orang yang pernah singgah dalam hidupku. Tanpa berharap suatu saat akan ada yang mengasihiku dengan cara yang sama. Seperti halnya suamiku, yang difabel kaki. Aku hanya berharap bisa selalu memberikannya cinta yang hangat, mengasihi dan kami bisa saling menemukan tempat pulang, ditengah dunia yang kadang lebih banyak menawarkan kepentingan, kekuasaan dan uang tanpa batas. Tanpa sepenuhnya menyadari, bahwa hidup hanya butuh dijalani dengan kasih, cinta, makanan cukup, rumah dan merasa cukup...

Jumat, 01 Juli 2022

Rumah Hangat

Sebagai anak bungsu yang lahir dengan jarak 11 dan 13 tahun dari kedua kakak ku, aku termasuk anak perempuan yang manja, terutama kepada bapak. Bapak sangat sayang kepadaku, kasih sayangnya hangat kepadaku. Caranya memperlakukanku sangat hangat dan penuh kasih. Seumur hidupku, aku merasa sangat dikasihi oleh bapak, meski ia sudah tidak ada. Kehangatannya lah yang membuatku merasa harus melanjutkan hidup. 

Aku mengalami banyak kesulitan hidup setelah alm bapak mengalami sakit pertama kalinya, di saat usiaku 8 tahun. Bapak masih memberikan kasih sayang yang hangat, namun pelan-pelan berkurang. Sesuatu yang amat bertolak belakang dengan ibu, yang lebih banyak disiplin, mungkin cenderung kasar kepadaku. Hingga akhirnya aku memperoleh wounded inner child dari alm ibuku. Selama rentang waktu sejak bapaku sakit pertama kalinya, hatiku selalu berdoa, suatu saat, aku bisa menemukan cinta yang hangat seperti yang alm bapak berikan kepadaku, meski hanya sebentar.

Selama usia 8 tahun hingga aku beranjak remaja dan kuliah, aku berkali-kali berpacaran. Meskipun berakhir dengan berantakan dan tidak jelas. Berkali-kali aku pacaran. Mungkin karena aku mencari figur bapak juga. Dan memang banyak menelan kekecewaan karena apa yang kuharapkan juga tidak pernah mewujud dalam sosok laki-laki. Tahun 2012, aku memutuskan untuk sebaiknya tidak perlu menikah. Aku tidak berharap banyak karena di tahun itu, aku kehilangan bapak.

Namun, mungkin Tuhan mendengar doaku kala itu. Saat alm bapak pergi, di saat itulah Mas Ryan datang didalam hidupku. Aku tidak tahu kenapa, ia begitu baik dan hangat kepadaku. Saat aku merasa sendirian, ia selalu ada dan mau menemaniku. Berkali-kali kami jalan, ia bisa dekat denganku sebagai sahabat dan rekan kerja. Aku masih pacaran dengan orang lain, meski akhirnya putus. Aku bahkan tidak berharap banyak pada kehidupan, sekedar menjalani hidup.

November 2013, aku tidak menyangka, ia mengajakku menikah. Iya, meski iseng. Hubungan yang awalnya kupikir hanya akan berjalan hitungan minggu atau bulan, ternyata tidak seperti itu. Aku tidak tahu kenapa, ia mau denganku. Ia menemaniku menyelesaikan skripsi, ia menyediakan bahu ketika aku lelah, mau bersamaku saat kami ditolak alm ibu (yang masih sering membuatku kesal, karena ibu menolak diberikan menantu yang baik), ia selalu memelukku dengan hangat saat aku merasa dunia bahkan terasa tidak menerimaku. Aku mengingat satu kenangan, saat aku memeluknya hampir 1 jam, dan dia tidak berbicara banyak. Itu terjadi saat kami ditolak ibu, dan aku merasa sangat tidak ada lagi orang yang memahamiku seperti mas ryan. Bertahun-tahun, mungkin ia tahu, aku menanggung duka. Setelah alm bapak pergi, tak ada seorang pun di rumah yang mau menerimaku secara apa adanya. Aku jarang pulang, dan hanya ia tempatku pulang dan bersandar. Saat dunia bahkan tidak menerimaku lagi. 

Perasaan tersisihkan itu selalu muncul didalam diriku, hingga aku sadar itu adalah bawaan dari wounded inner childku. Aku merasa sangat insecure karena bertahun-tahun benar-benar merasa sendiri dan tidak memiliki sosok yang mengerti diriku seperti alm bapak. Aku kerap menangis bahwa aku tidak memiliki kesempatan untuk memiliki keluarga yang hangat. Hingga aku akhirnya menerimanya sebagai sebuah bagaian pembelajaran, untuk pula mengatakan cukup bahwa ibukku tidak memiliki skill kehangatan seperti alm bapak dalam memahamiku. Aku tidak perlu menggugat sesuatu, dimana alm ibu juga tidak mungkin bisa memberikannya. Ini seperti omong kosong.

Ryan adalah sosok hangat itu. Ia selalu menerimaku secara apa adanya. Ia sangat pengertian kepadaku dan percaya kepadaku. Sosok laki-laki yang membuatku merasa aman disampingnya. Tidak pernah melarangku, selalu mendukung cita-citaku. Aku merasa menjadi perempuan beruntung di dunia ini karena memilikinya. Kehangatan dan kasihnya juga membuatku berubah cukup banyak. Ia memastikan bahwa bersamanya, aku akan aman. Tidak ada lagi rasa ketakutan dan mampu mandiri diatas kakiku sendiri. Bertahun-tahun, inner childku merasa ketakutan. Tapi adanya Ryan, membuatnya menjadi tidak takut. Tapi Ryan memberiku suatu daya, bahwa aku bisa hidup dan layak dicintai. Sesuatu yang hampir sepenuhnya hilang, saat bapak sakit dan kemudian meninggal. 

Takdirku untuk bersamanya seperti benang merah, ada banyak hal yang kusadari mengikat kami sejak lama. Sejak pertama kali bertemu dengannya, aku merasakan, ia sudah mengenalku sejak lama. Ia bisa dengan mudah bersamaku tanpa sungkan. Ia bisa kuajak makan, ngobrol, ngopi bahkan menjagaku saat aku pingsan. Memastikan jika aku siuman dan baik. Aku tidak pernah tahu, mengapa ia mau menemaniku, bahkan saat ia juga masih memiliki pasangan. Ia tetap hangat kepadaku. 

Saat aku hampir memutuskan memilih untuk menerima lamaran seseorang, ia malah justru mengajakku untuk bertemu, mengobrol. Aku tahu, aku bahkan bimbang ingin kemana. Aku tidak tahu akan melangkah seperti apa. Namun, aku merasa Ryan seperti tidak ingin aku pergi dan bersama yang lain. Ia mengajakku ngobrol hingga tengah malam sambil memegang tanganku. Sesuatu yang dulu pernah ia lakukan saat aku berjalan berdua dengannya, dan aku kikuk untuk bagaimana menyikapinya. Malamnya, ia melamarku. Aku juga tidak tahu kenapa mengatakan iya kepadanya. Benar-benar mungkin ini takdir.

Ia membuatku menyadari bahwa aku sangat berharga. Ia memberikanku jalan untuk kembali menjadi sosok yang penuh cinta setelah bertahun-tahun bahkan aku tidak dianggap di keluarga, tidak mendapat kasih sayang, diperlakukan dengan kasar tanpa pengertian. Aku menyadari, bersamanya, aku menjadi sosok yang ternyata berguna, bisa bahagia, bisa menjadi diri sendiri, bisa dewasa dan mandiri. 

Saat aku berasamanya, aku hanya melihat cinta dan tersenyum. Hal yang aku rasakan saat aku bertemu alm bapak. Rasa yang entah puluhan tahun lalu aku jalani, dan hilang ketika pelan-pelan ia stroke. Bersamanya, aku merasa dunia seburuk dan sekeras apapun pasti bisa dilalui. Orang-orang selalu bertanya, mengapa mataku selalu penuh cahaya ketika bersamanya? 

Ia telah menghidupkan cinta dari alm bapak yang ada didalam diriku. Namun, cinta itu sempat padam karena begitu bengisnya kebencian, kekasaran dan pengabaian yang kulami dari cara ibu mendidikku. Aku bukan hanya merasa terasakiti, tapi juga merasa tidak punya rumah untuk bersandar. Ryan adalah rumah itu. Puluhan tahun aku mencari rumah, penuh luka. Dan akhirnya kutemukan rumah yang hangat, di diri suamiku. 

Kamis, 23 Juni 2022

Cinta yang Tulus dari Studio Ghilbi

Hari-hari ini, aku sering sekali menonton film-film animasi jepang. Aku merasa jika aku menonton animasi jepang, membuatku bisa kembali mengingat masa kecilku yang indah, penuh cinta, sehingga aku bisa lolos dari depresi. 

Aku menonton studio ghilbi tentu saja…dan aah…aku benar-benar merasa bahwa film ini membuatku bangkit dari depresi karena melihat kembali bagaimana caranya memiliki cinta yang tulus :)

Jumat, 17 Juni 2022

Pulang ke Kejawaan, Pulang ke Rasa (Raos)

Gusti, saya kembali ke Jawa. 

Eyang kung, eyang uti, bapak, ibu, saya kembali. Ke rumah. Rumah, Jawa. Tempat kembalinya saya ke rasa setelah 10 tahun mengembara ke Barat…

Sekian lama, kalian memanggilku untuk segera pulang, tumraping wong ing Tanah Jawi. Kembali menjadi orang yang mengerti. Ngerasake, ngolah roso…

Saya pulang Eyang Panembahan Romo Kajoran. Saya pulang dengan tidak lagi membawa dendam kepada seseorang yang telah membunuh klan keluarga kita…Saya ingin pulang dengan pengertian, sebagai orang Jawa…

Saya telah berkelana jauh. Mengolah logika dan pikiran saya. Saya tidak bertemu dengan apa yang saya cari selama ini sebagai orang, sebagai orang Jawa. Mungkin benar, saya harus kembali menjadi Jawa lagi. Tepat seperti 10 tahun lalu, saya meninggalkan kejawaan saya. Menjadi orang lain, berkelana pada filsuf-filsuf dan pemikir barat. Tepat setelah Bapak sedo. Itu saya sadari karena saya mengalami kehilangan amat sangat, tidak mau menerim, Bapak sudah kondur ing ngayunaning Gusti. Saya terlampau takut dan tidak kuat menanggung beban. Saya lari ke Barat. Dunia yang saya temui di kampus. Namun, saya bersyukur pernah lari kesitu dan memahami bagaimana cara kerja berpikir Barat juga memperkaya kehidupan saya. Tapi saya tahu, saya tetap lah harus pulang, menjadi Jawa.

Saya mengembara pada pemikiran dan revolusi kognitif. Saya tahu, saya juga mendapatkan cara survive dari segala penderitaan dari sana. Dari masa saya sekolah dan kuliah. Tapi lagi-lagi ketika saya dipenggal oleh kepergian almarhumah Ibu, ternyata Ibu meminta saya bukan hanya mendoakannya tapi pulang ke Jawa. Mengolah kesadaran saya sebagai manusia. Sebagai mahkluk Gusti yang punya tanggungjawab memperindah jagad. Menjaga kesadaran itu dan tidak terjebak dalam pikiran (kramadangsa) saya sendiri.

Saya sesungguhnya berakar dari Jawa. Ia ditanamkan Ibu dan Bapak swargi melalui bahasa krama inggil yang mereka ajarkan dari saya kecil hingga saya masih bisa menggunakan bahasa itu hingga saya dewasa. Saya diajari dengan laku bapak dan ibu untuk dadi wong. Bukan semata punya harta yang banyak, tapi bisa disambati dan dijadikan pegangan oleh banyak orang, terutama mereka yang lemah. Saya ingat betapa ibu akhirnya sampai meneteskan air mata, ketika anak ragilnya sudah jadi wong. Bisa disambati, bisa jadi pensiunnya orang tua. Tidak bingung mau kemana. Betapa banyak yang sudah ibu dan bapak tinggalkan kepada anakmu ini. Anak, yang ternyata bisa tatag meski harus depresi karena merasa tidak punya alasan lagi cara melanjutkan hidup, karena bapak dan ibu, alasanku untuk selalu bertahan dalam situasi sempit. Sebagai anak, keprihatinan dan kepedihan Bapak dan Ibu, mengantarkanku pada rasa pedih terdalam. Maaf ya pak, Nduk hanya bisa belajar sampai UGM dan membanggakan bapak hanya sampai usia 22 tahun. Maaf ya Bu, hanya bisa memberikan operasi kaki, mengobati stroke, memberikan ibu uang sekedarnya, baru bisa ngasih uang umroh. Belum bisa banyak yang kuberikan ke Ibu. Meski ibu selalu bilang, ibu senang dan bangga. Kamu bisa ngadeg/berdiri sendiri dengan mandiri, dan menjadi amat dewasa. Mengatasi banyak masalah tanpa pernah merepotkan Ibu. 

Segala kepedihan yang kutanggung, tentu tidak sepadan dengan apa yang ibu dan bapak berikan sepanjang kehidupan Nduk sebagai seorang anak. Nduk hanya bisa melakukan hal-hal yang membuat Ibu dan Bapak bangga meski kecil, setidaknya Nduk ingin, saat Nduk omah-omahan dan dewasa, tidak merepotkan apapun kepada Bapak dan Ibu. Rasa yang hampir selalu menjadi lambaranku sebagai anaknya Bapak dan Ibu, yang sangat Jawa. 

Pak Bu, aku mengalami depresi. Selama 2 tahun ini. Bapak dan Ibu pasti tahu itu. Dan aku tahu, pasti bapak dan ibu merasa sedih disana, karena mendapatiku hancur-hancuran. Tapi pak, bu, sekarang Nduk sudah pulih. Pulih karena Bapak dan Ibu meletakan obat itu di ruang rasa, kejawaan yang ibu dan bapak bangun pelan-pelan kepada batinku sejak aku anak-anak. Untuk bisa merasakan rasanya orang lain. Cinta melalui rasa, raos yang Bapak dan Ibu tempatkan di diri sejati, bukan di pikiran/kramadangsa yang selama ini aku gunakan, untuk ku bertahan dari serangan-serangan kehidupan yang menggoncang keluarga kita. Dari bapak yang sakit stroke, ibu yang juga sakit, mbak yang KDRT dan mas yang juga punya lelakoning urip yang juga tidk mudah. Tapi pak bu, semua itu telah membuat ijazah hidupku lengkap, ketika aku sudah mengolah semua dengan batin dan kesadaranku, aku telah lilo. Ikhlas dan sadar bahwa memang itu takdir keluarga kita, hidup kita. Yang kudu diterima dan harus dijadikan ijazah kehidupan. Pak Bu, doakan anak mu ini, mugo-mugo adoh saking payendu ya pak bu…Doakan mantu kesayangan Ibu juga agar dimudahkan pula sekolah S3 nya. Aku akan selalu tatag menjalani kehidupan, karena aku hidup dalam kesadaran bukan pikiran lagi. Semoga surat ini Bapak dan Ibu baca ya disana. Aku sayang bapak dan ibu. Dan aku yakin, bapak dan ibu sudah paripurna dengan kesejatianNya. Ayem..tentrem wonten ayunaning Gusti Ingkang Maha Kinasih

Sabtu, 11 Juni 2022

Trauma Kematian

 Aku berpikir bahwa hidupku memang benar-benar berubah setelah aku depresi. Kematian orang-orang terdekatku telah mengubah keseluruhan hidupku. Kematian bapak, kematian ibu, dua-duanya amat menyakitkanku secara batin. Kepergiaan mereka dengan cara yang tak pernah kusangka, membuatku benar-benar merasa trauma.

Hari ini ketika aku berada di sebuah cafe, dan suamiku tidak bisa dihubungi, aku tetiba panik, takut ia kenapa-kenapa. Persis ketika pagi-pagi, aku menerima panggilan telepon, jika ibu masuk UGD dan dipindahkan ke ICU. Padahal beberapa hari sebelumnya, aku menghubunginya. Bagiku, kepergian memang tidak bisa ditebak. Akan tetapi, kepergiaan dengan cara mendadak pada ibu, dan menunggu bapak dengan rentang sangat lama menuju kematiannya, membuatku benar-benar trauma. 

Ada rasa takut, aku akan ditinggalkan. Meski aku tahu, setiap orang akan pergi. Hanya saja, aku memiliki prolong grief. Kedukaan yang sangat panjang. Mungkin karena masa kecilku lebih banyak menderita, sehingga saat aku tumbuh dewasa, beban mentalku tidak terlampau kuat lagi. Masa anak-anak telah membuatku benar-benar trauma. Setelah dewasa, aku jatuh ke depresi. 

Kepergian Bapak mungkin jadi waktu yang lama buatku untuk bangkit. Tadi siang aku menangis, sembari meratap merindukan Bapak. Aku tahu, ia sudah pergi hampir 10 tahun, tapi ya rasa menyakitkannya masih tetap sama. 

Aku benar-benar berada dalam fase yang membuatku menyadari, aku terlampau lemah memang untuk ditinggalkan orang-orang terdekat, karena aku merasa tidak punya ikatan/kemelekatan kuat dengan mereka. Aku banyak menutup diri saat kecil untuk bertahan, mungkin sekarang, tatkala suamiku ada di sampingku, aku ingin selalu bersamanya, dekat. Karena aku tahu, rasanya sungguh tidak nyaman berada dalam kesendirian dan kesedihan bertahun-tahun, tanpa ada yang mendampingi. Sesungguhnya, untukku, ini perasaan paling rentan, sebagai seorang manusia. Aku tahu, banyak yang mencintaiku secara tulus, tapi aku tidak berani untuk mencintai tulus secara lebih banyak, karena aku telah merasa trauma dipenggal oleh kematian. Aku tidak beranjak banyak dari rasa takut akan kematian...Aku tahu, aku paham, dan sadar, aku belum sekuat dan setatag itu...semoga waktu akan memulihkan, trauma tentang kematian...

Maaf

Semoga maaf ini Engkau dengar. Semoga maaf ini engkau sekalian rasakan. Maafkan semua yang telah terjadi Maafkan kesalahanku. Ampuni aku Say...