Selasa, 09 Agustus 2016

Frustasi Pendidikan : Sebuah Pengalaman Pribadi Untuk Merespon Full Day School

Dua hari yang lalu, saya sempat tertegun membaca potongan berita dari seorang teman facebook yang mengabarkan bahwa menteri pendidikan, Muhadjir Effendy  akan menerapkan sistem full day school. Sistem ini ditujukan untuk anak-anak SD dan SMP untuk seharian penuh di sekolah. Alasannya, agar mereka tetap bisa diawasi dan tidak terjadi hal-hal yang menyimpang jika pulang sekolah sementara orang tua masih bekerja. Sang menteri kini telah berniat untuk sesegera mungkin mensosialisasikan hal tersebut ke sekolah-sekolah negeri maupun swasta, dari tingkat nasional hingga tingkat daerah. [1]

Membaca berita ini mata saya langsung merah dan saya rasanya pengen teriak sekencang-kencangnya. Saya termasuk anak korban dari  kurikulum dan sudah bertahun-tahun merasa terdzolimi oleh sistem pendidikan yang berantakan di negeri ini. Saya merasa dampak itu masih berpengaruh signifikan pada diri saya pribadi dan sampai hari ini  saya masih berusaha menghilangkan hal itu. Tidak mudah.  Ada semacam trauma yang tidak berkesudahan dan saya baru mulai bisa pelan-pelan bangkit setelah sampai jejang kuliah S1, dimana saya masuk pada departemen dan fakultas yang sesuai dengan minat saya.

Sebagai ilustrasi sederhana, saya masuk di sebuah sekolah dasar yang memberikan ruang untuk bergerak sangat luas. SD saya dikelilingi sawah dan sungai. Saya biasa pulang sekolah bermain di selokan, memancing ikan di sungai bahkan mandi di sungai selepas olahraga. Guru-guru saya membebaskan saya untuk mengekspresikan apa yang saya sukai. Mereka tak monoton mengajar di kelas. Kadang jika kelas menggambar atau menulis puisi, kami dibebaskan berada diluar kelas untuk mencari inspirasi. Tiap musim hujan, area lompat jauh adalah tempat favorit karena bisa main digenangan air sepuasnya. Kasti adalah olahraga sehari-hari, lompat tali, main kelereng, petak umpet, makan kwaci, godril, manisan, mencari buah duwet dan kedodong adalah ritual, memanjat pohon kesemek adalah kenikmatan. Di kelas, kami terbiasa mendongeng didepan kelas, telinga kami juga terbiasa mendengar dongeng tentang kisah nabi-nabi dari guru agama kami, dari situ kami belajar menjadi pendengar yang baik.

Saya juga termasuk anak yang aktif dalam berbagai lomba. Saya dulu ikut olahraga tenis meja hingga tingkat provinsi. Guru dan bapak saya paham, saya anak yang tak bisa diam, maka kemudian keaktifan saya disalurkan lewat olahraga. Selain itu, saya juga ikut pramuka siaga dan ikut berbagai lomba didalamnya. Di SD kira-kira ada 20 piagam yang saya dapat dari berbagai macam lomba. Hingga kemudian, tahun 2001 awan hitam mulai menyelimuti kehidupan saya. Kenikmatan lahir batin dimasa SD lenyap seketika dengan terror bernama kurikulum dan ujian nasional.

Bulan juni 2001, saya masuk sebuah  sekolah favorit di kota saya. Saya mendaftar bersama bapak saya. Dari sebuah sekolah dasar yang penuh dengan pembelajaran dan bermain, berubah menjadi tembok penjara. Hidup saya, saya habiskan dengan 17 mata pelajaran, 8 jam sehari dalam 1 minggu. Setiap hari saya harus membawa buku berat dan berjalan kaki kurang lebih 1 kilometer menuju sekolah dari jalan raya. Saya harus melepas latihan tenis meja saya, karena banyak waktu yang tersita untuk belajar. Saya harus berkompetisi di bidang yang tak pernah saya suka. Saya pembenci ilmu eksak tapi saya dipaksa dikelas untuk belajar apa yang tidak saya suka. Saya harus belajar fisika, biologi, matematika dan nilai saya memburuk. Saya mendapatkan peringkat paling buncit, sementara di sekolah dasar saya selalu juara kelas. Ini membuat saya frustasi, saya menjadi benci pada sekolah. Sekolah di bangku SMP adalah hal yang paling menyiksa. Saya dipaksa untuk duduk saja didalam kelas selama 8 jam. Tiap pagi, berangakat sekolah adalah hal yang paling menyiksa. Puncaknya, nilai matematika saya semua mendapat 5 selama hamper 4 semester. Saya ingin menangis setiap hari. Kalau bukan ibu yang menyuruh saya bertahan, saya sudah quit dari sekolah. Ibu saya hanya bilang bertahan saja nduk, setidaknya ini satu-satunya jalur yang bisa kamu tempuh. Sabar saja ya. Saat itu, tak ada opsi sekolah alternatif di kota saya yang bisa membuka ruang bagi kreatifitas, misalkan sekolah alam atau sekolah seni dll. Ibu kemudian memberikan kebebasan bagi saya untuk ikut aktivitas yang saya suka diluar pelajaran, ibu menyuruh saya les yang saya suka,  les menyanyi, ikut pramuka sebagai ganti aktifitas fisik olahraga, ikut karate dll. Tujuannya sederhana, agar saya tidak stress dan frustasi. Nilai saya yang jelek pun tidak pernah diungkit sama ibu. Dia tahu saya sudah banyak pikiran dan kacau karena pelajaran yang bertubi. Ia ingin saya anaknya selamat, setidaknya saya harus lolos dulu di SMP.

Saya lulus dari SMP dengan beban berat seperti bertarung. Saya frustasi dan stress. Imun saya menurun dengan munculnya alergi dalam tubuh saya. Saya gampang sakit. Masuk SMA, dibangku kelas 1, kejadian berulang. Namun sepertinya saya lebih terlatih. Saya mulai bisa memilah dan masa bodoh dengan pelajaran yang saya benci. Saya gak peduli dengan nilai-nilai. Saya berfokus saja pada apa yang saya suka. Saya gak perduli kata orang soal bodohnya saya di kelas. Hidup 3 tahun penuh siksaan kurikulum masa SMP, tidak boleh lagi terulang. Ketika masuk kelas 2 SMA, saya memutuskan masuk ke jalur ilmu sosial. Alasan saya sangat mendasar, saya pembeci ulung pelajaran hitungan. Di jurusan ilmu sosial, saya mulai menata ulang kehidupan sekolah saya. Saya mencoba bangkit pelan-pelan. Saya membangun pertemanan menjadi lebih baik. Dulu saya amat tertutup karena banyak orang menganggap saya bodoh karena gak pinter matematika, fisika, kimia, dll. Saya belajar berempati lagi banyak anak-anak yang mungkin nasibnya seperti saya ketika remaja. Saya membangun pertemanan kecil agar tak kesepian, saya tidak punya genk. Hanya 2-3 teman dekat yang saya punya. Sebagian yang lain adalah teman-teman kelas biasa saja.

Di kelas 2 SMA inlah saya mulai tahu bagaimana membagi focus dan menangani kesedihan saya. Saya pelan-pelan bisa belajar dengan cermat karena mata pelajaran yang tidak banyak. Jumlah jam belajar saya juga tak banyak. Saya mulai dekat dengan laki-laki juga. Saya mulai sering jalan-jalan, menjadi teman curhat banyak teman dan membaca buku yang saya suka, sejarah dan sosiologi. Saya mulai senang membaca Tempo. Saya lebih suka membelanjakan uang untuk membeli buku. Saya merasa bisa bicara didepan orang banyak. Lebih banyak ruang untuk diskusi, negosiasi dan bisa belajar tentang toleransi.  Waktu saya seolah kembali ke zaman SD. Banyak bermain, tidak terbebani meski ada ujian nasional karena saya merasa jauh lebih nyaman pada diri saya sendiri pada waktu itu sebagai remaja. Semuanya bisa saya kendalikan dengan baik. Hal itu terlihat ketika saya diterima di 3 universitas negeri secara bersamaan. Hingga akhirnya saya memutuskan masuk ke UGM.

Di UGM, saat itu tahun 2007. Saya tercatat sebagai mahasiswa FISIPOL. Saya meninggalkan kota kelahiran saya dan memulai hidup mandiri. Awalnya saya takut, tapi saya tahu kalau tidak pergi maka saya tidak akan pernah mandiri. Berdiri di Sansiro, menghadap ke timur, datanglah diatas plaza fisipol dekan waktu itu, Pak Mochtar Masoed. Saya yang baru kenal ospek merasa takut kalau ada kekerasan dan perploncoan. Masih lugu dan sambil tertunduk, saya mendengar ucapan beliau, kurang lebih ucapannya seperti ini;

“Hari ini kalian semua, selamat datang di FISIPOL, kampus kalian, rumah kalian. Anggaplah ini adalah rumah kalian tumbuh dan mendapatkan segala macam ilmu. Dengarkanlah semua, pelajarilah semua, bacalah semua, lalu pilihlah yang kalian anggap benar menurut hati nurani kalian. Kalian disini bukan lagi anak-anak SMA, kalian disini datang sebagai manusia yang dihargai kemanusiaanya”

Selama 17 tahun hidup, saya tidak pernah merasakan diajak berbicara sebagai manusia. Saya tertegun dan sempat meneteskan air mata, namun buru-buru saya hilangkan. Selama saya hidup, pasca duduk dibangku SMP, saya hanya dianggap murid robot. Tak pernah diajak bicara secara setara, dianggap manusia.  Saya hanya jadi korban untuk menerima kurikulum tanpa pernah saya ditanya apakah bersedia atau tidak. Saat itu saya mengingat masa-masa paling pedih yang saya harus habiskan tiap harinya di sekolah dengan penuh beban, selama 8 jam belajar. Frustasi dengan nilai dan ujian. Sementara orang tua saya tidak bisa berbuat banyak karena hanya mekanisme formal itulah yang harus saya lalui. Tidak ada cara yang lain. Merekalah yang membuat saya mau dan mampu bertahan.

Setelah 9 tahun, pasca saya menginjakan kaki di kampus, saya merasa menjadi lebih baik. Saya tahu bertapa bobroknya kurikulum yang selalu berganti-ganti tanpa pernah menimbulkan efek kritis, membebaskan dan  menginspirasi. Kelas yang monoton adalah momok, apalagi full day school yang bisa saja membuat anak tak hanya stress tapi juga depresi. Mereka tidak hanya dikekang kurikulum, jam bermain mereka direnggut, kreatifitas dijarah dan nalar kritis direpresi.  

Saya mungkin salah satu yang selamat dari kesalahan kurikulum karena  orang tua saya punya andil penuh membebaskan saya ketika saya sudah tidak tahan dengan sekolah. Saya memilih jurusan yang tepat dengan minat saya hingga saya berkembang, dan bersyukur pula punya lingkungan kuliah dan komunitas yang sangat supportive kepada saya.

Tapi saya tidak bayangkan, bagaimana nasib anak-anak lain pak menteri?

Saya hanya satu dari sekian juta anak yang bisa selamat. Saya kira janganlah main-main dengan system pendidikan pak.

Jika  menyelesaikan masalah satu anak saja, mereka harus melewati sekian tahun panjang penderitaan untuk sembuh, berapa puluh tahun waktu yang dibutuhkan agar hilang trauma dari satu generasi, akibat (lagi-lagi) salah ambil kebijakan! Ajak mereka (anak-anak) bicara, karena mereka manusia yang punya hati nurani dan paling tahu apa yang mereka inginkan dari kata hati mereka sebagai MANUSIA...

Selasa, 30 Juni 2015

Bertemu dengan Cak Nun

diunduh dari http://jongjava.com/web/images/stories/showbiz/celeb/Apr_10/emha.jpg



















Semalam saya bertemu dengan Cak Nun. Ya Cak Nun. Saya menyalaminya. Ia menyambut permintaan salaman saya dengan senyuman. Lalu saya tersenyum kembali, Senyum yang melegakan saya. Melegakan setelah pencarian saya bertahun-tahun tentang diri saya sebagai manusia. Ya manusia. Memang terkesan agak berat. Tapi sekian tahun, akhirnya saya tahu bagaimana saya sebaiknya bersikap dan berperilaku dalam identitas saya sebagai orang Jawa.

Setelah beranjak dewasa utamanya dibangku kuliah, saya sendiri dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Pertanyaan dimana Tuhan? Mengapa ia mengirimkan saya kepada ibu yang sering berkonflik dengan saya? Mengapa saya begitu banyak mengalami keputusasaan. Bagaimana saya harusnya nanti bersikap? Mengapa Tuhan tak sepenuhnya memberikan gambaran yang jelas atas maksud-maksudnya? Terlebih lagi, kemarahan saya kepada Tuhan meledak ketika Bapak yang menjadi pegangan saya, guru saya dipendet (diambil) dengan sebegitu entengnya oleh Dia? Saya marah besar kala itu, kenapa hanya saya, anak terakhir yang tak sempat ditunggu oleh bapaknya saat wisuda ataupun kala ijab qobul.

Selama sekian tahun, saya memendam rasa kecewa atas beberapa hal dalam hidup saya. Saya tak punya guide yang jelas untuk hidup sebagai orang yang dewasa. Bayangkan, saya harus mencari sendiri, Kepontang panting, Mungkin kebanyakan orang dewasa seperti itu. Bagi saya ini adalah saat-saat terberat karena mau tak mau saya harus menempuh jalan sunyi, yang katanya menakutkan dan tak bersahabat itu.

Saya telah memamah banyak buku untuk menjawab pertanyaan tentang siapa saya dan mengapa saya berada disini. Latar belakang kuliah saya sebagai seorang Sosiolog, tak serta merta memberikan jawaban sempurna atas siapa diri saya, mengapa saya disini dan dimana Gusti Allah. Sebelum bertemu dengan Cak Nun semalam, saya hanya mampu menjawab satu pertanyaan terakhir yakni "dimanakah Gusti Allah". Pertanyaan itu membawa saya pada pencarian berbulan-bulan, kekurangan tidur dan sering menangis. Kurang lebih 3 tahun yang lalu, saya akhirnya bertemu dengan Tuhan. Saya menemukannya ketika saya berjalan-jalan di toko buku. Entah mengapa kaki saya berjalanan menuju ke pojok toko buku. Tempat dimana disana terdapat banyak kitab tafsir dan juga Al Quran. Saya membeli sebuah Al Quran dan membawanya pulang. Sampai dirumah saya membacanya. Bukan membaca huruf arabnya, Saya justru membaca bahasa Indonesia. Sebelum membacanya, saya sempat mengancam Gusti Allah. Kalau Gusti Allah sampai tidak memberikan saya jawaban, saya akan marah besar pada Beliau. Masak katanya ini kitab pemberi petunjuk, saya tidak bisa menemukan jawabannya. Bayangkan, membaca dengan niat mencari tetapi dengan nada mengancam.

Lembar demi lembar pun saya buka, Sampai akhirnya di sebuah Surah Al Baqoroh, saya menemukan jawaban yang membuat saya mati kutu dihadapan Gusti Allah. Kurang lebih artinya seperti ini "Dimana pun kamu memandang, disitulah ada wajahKu berada". Seketika itu juga saya sujud dan menangis tersedu-sedu. Saya menangis tak karuan, Saya merasa malu. Ya malu melihat tingkah saya yang seolah-olah tak melihat Gusti Allah tapi sebenarnya Gusti Allah melihat saya dengan sangat teliti dan berbaik hati. Disela-sela menangis itu akhirnya saya pun akhirnya tertawa. Duh Gusti, saya ini memang manusia rendahan. Sok-sok an mencari. Padahal sudah Sampeyan pandangi saya dari tadi. Dari saya masih di rahim ibu sampai saya segede ini. Duh Gusti. Sejak itulah, saya memahami bahwa pencariaan akan Gusti Allah itu pribadi. Gak bisa disama-samakan rek antara satu orang dengan orang lain. Makanya sejak itu, saya tahun bahwa rukun iman itu domain Gusti Allah. Kamu gak bisa mengkafirkan orang lain, menilai orang lain, memaksa orang lain untuk sama denganmu. Kita sering kali tak tahan jika orang lain tak sama dengan kita. Berbeda. Dan kemudian itu menjadi sebuah masalah.

Pertemuan saya dengan Gusti Allah pun kemudian tak serta merta membuat saya jadi religius. Sama sekali tidak. Saya masih memiliki dua pertanyaan yang lain, siapa diri saya dan mengapa saya ada disini. Pencarian itu seperti pertarungan babak belur. Saya merasa tak nyaman dengan diri saya sendiri. Saya menemukan relasi dan konflik yang terus berbalut dalam hidup saya. Saya banyak melihat orang yang sak enake udele dewe (seenaknya sendiri). Gila kuasa, senggol kanan senggol kiri untuk dapatkan kuasa. Saya merasa kadang sampai frustasi sendiri, kok orang bisa tidak nguwongke wong liyo alias mengorangkan orang lain dalam bersikap dan bertingkah laku. Belum lagi sok-sokan diskusi soal Indonesia. Lah, saya malah kecemplung dalam kondisi keprihatinan yang tak habis-habis. Bagaimana mungkin manusia bisa-bisanya merendahkan manusia lain yang dari Gusti Allah lah dia juga diciptakan.

Fase-fase pencarian saya ini agak epik. Pegangan saya hanya satu, pesennya malaikat Jibril dari Gusti Allah pada Kanjeng Nabi di gua Hiro "Bacalah". Ya ming itu saja. Setelah baca, tahu sumber informasinya, ya saya harus konfirmasi pada orang yang lebih tahu dan paham. Saya ini ncen sadar bahwa saya kepengen banyak tahu. Tapi akhire bingung dewe. Kebingungan-kebingungan ini amat wajar sebenarnya. Sebagai perempuan Jawa, saya hampir sepenuhnya mencari jawaban soal hidup bukan dari sumber saya dibesarkan yakni di Jawa. Wejangan-wejangan soal hidup, utamanya dari bapak, hanya setengah-setengah saya dapatkan. Bapak saya yang semi-semi abangan dan Nahdiyin itu tak langsung menurunkan ilmu hidupnya secara langsung. Lebih tepatnya cuma tersamar, karena menjelang saya berusia 12 tahun, bapak terkena stroke pertama. Bapak sangat sensitif dan suka nangis sendiri. Lha  kalau sampai tak tanya yang berat-berat, bisa kambuh stroke bapakku. Yo ra?

Belum sempat nanya, eh bapak ku malah dipendet. Pokok e aku malah tambah mangkel sama Gusti Allah. Lha aku tanya siapa?

Tiga tahun setelah bapak tidak ada, saya ini kayak kapal yang gak jelas arahnya. Pesawat yang bingung mau mendarat dimana. Dari Merry Riana sang motivator sampai Pram yang di buru di Buru sana saya jumpai. Ning yo hasilnya bukan nihil sih. Tapi gak ana rasane. Ibarat sayur lodeh, yo rasane gak gurih. Saya pentalitan (jungkir balik) juga dengan buku-buku jepang, tapi ya hambar. Sampai titik ketemu itu mulai ketemu ketika saya berdialog dengan seorang teman. Di sebuah senja, di pelataran atas Taman Sari Yogyakarta.

Saya dan dia berdialog tentang kekecewaan-kekecewaan saya soal hidup saya. Ia kemudian menawarkan saya untuk kembali pada identitas saya. Pada kejawaan saya. Pada leluhur saya. Ia mengingatkan saya untuk menelusur lagi identitas kejawaan saya. Siapa tahu disana ketemu jalannya, karena disanalah akar saya. Sebagai anak perempuan Jawa, Solo maneh, hidup saya dipenuhi dengan tata krama jawa yang kental. Saya suka sebel memang, kolot sih. Tapi tak ada salahnya saya mulai membuka kembali. Karena ari-ari saya yang dikubur di Jawa dan keturunan saya amat kental budaya Jawa.

Mulailah kembali saya buka manuskrip-manuskrip soal Jawa. Mula saya membaca pemikiran psikologi Jawa, Darmanto Jatman. Setelah membacanya saya agak tentram. Tidak tentram-tentram banget sebenarnya tetapi lebih baik. Disusul kemudian saya membaca Ki Ageng Suryomentaraman (KAS). Soal bagaimana mengolah rasa, getun sumelang, dan turun-turunanya. Tapi belum damai 100%. Sampai akhirnya saya menemukan ketenangan itu semalam, di tempat yang sama saya memulai dialog soal kejawaan saya, dipusat keraton Mataram, Taman Sari.

Dua hari sebelum kejadian ini saya diajak Mas (sebutan saya untuk pacar) untuk nonton Cak Nun dan Kyai Kanjeng. Sudah lama dia bilang tidak nonton Cak Nun dan Kyai Kanjeng. Maklum, dia ngaktivis NU. Jadi ya sukanya dengerin Cak Nun, Gus Dur, Habib Syech dan shalawatan. Walau kadang sholatnya gak teratur-atur amat. Kalau ku tanya kok gak sholah? Jawabane mesti" udah sholat, kamu gak lihat". Kalau gitu, ya tak biarin saja. Saya memang tak pernah mencampuri urusan dia dengan Gusti Allah. Itu hak preogatif si Mas.

Saya mancal (pergi) dengan dengan si Mas jam 8 malam. Niat saya sih ingin paling tidak bersua dengan teman-teman Maiahan. Setelah lama tak sempat ke Kasihan setiap tanggal 17. Kali ini Cak Nun bicara soal identitas Jawa. Ya Jawa, mbuh pas opo gak, Gusti Allah ngekon aku menyang acara yang ternyata aku disuruh nyari jawabannya ya disitu.

Cak Nun bicara banyak soal konsep Punokawan, Ksatria, Brahmana dan Dewa. Ia juga berkata soal konsep Jawa yang telah berdiaspora dengan berbagai negara. Saya menikmati musiknya yang mencampurkan konsepsi semua kebudayaan. Sloga Cak Nun adalah "Jawa digawa, Arab digarap, Barat diruwat".  Cak Nun menguatkan diri kami. Diri saya secara pribadi sebagai Jawa yang terasa minder dan kalut dengan persoalan-persoalan kekinian, Ketakutan akan ketidakpastian. Ia mengingatkan saya bahwa sebagai Jawa jangan sampai saya kehilangan kejawaan saya. Bukan dalam artian jawa lebih unggul dalam peradaban yang lain. Jawa adalah kebudayaan yang bisa mangku apapun, bukan menjajah, tapi nguwongke wong liyo.

Tiga tingkatan bahasa dalam jawa, kromo, madyo dan ngoko bukanlah perkara stratifikasi atau level bahasa, karena bahasa Jawa adalah soal rasa. Rasa dalam kata yang tak pantas diucapkan tanpa rasa hormat kepada orang yang kita ajak bicara.  Pesan itu saya resapi dengan dalam-dalam. Pesan yang membuat hati saya dipengujung malam tak terasa rasa kantuk sekalian bersholawatan.  Ada tiga pesan yang paling saya remuk redamkan dalam hati saya. Wong Jowo itu kudu bisa toleran terhadap yang berbeda. Bisa menghormati dan tidak menginjak-injak harga diri orang lain. Dan satu, bisa berdialog dengan alam.

Titik puncaknya adalah Manunggaling Kawula Gusti. Disana banyak tafsirnya. Tapi tafsir sederhananya sepertinya;

Manunggaling kawula Gusti iku nek njenengan kelingan Gusti Allah, kapan pun, dimana pun. Tiap laku panjenengan iku ana Gusti Allah. Nek sampeyan merasa uripe susah, rasah khawatir. Ndongo karo Gusti Allah. Tetep do solawatan kalian kanjeng Nabi. Arep uripmu susah, ra kepenak, asal panjenengan ora di dukani opo dinesoni Gusti Allah lak yo rampung. Yo ra"

Manunggaling Kawula Gusti adalah saat Anda ingat Gusti Allah, kapan pun dan dimana pun. Tiap sikap, perilaku Anda itu ada Gusti Allah disana.  Kalau Anda merasa susah, tidak usah khawatir. Berdoalah kepada Gusti Allah. Tetaplah bersholawat untuk Kanjeng Nabi. Mau hidupmu susah, tidak enak, asal Anda tidak dimarahi Gusti Allah ya kan gak ada masalah. Ya gak?"

Jawaban itu membuat saya menunduk, menangis, Menangis karena saya terlalu banyak kesalahan dan dosa. Terlalu sombong, Terlalu dan terlalu. (sampai menulis ini saya masih ingin menangis). Ditengah malam itu, saya bersholawat. Duduk di belakang panggung, mengarah ke utara. Saya berucap

"Gusti, nek saya balik ke Panjenengan suatu saat, saya ingin dalam keadaan bersih, khusnul qotimah. Saya ingin balik ke Sampeyan dengan bahagia dan tenang. Jika malam ini kau limpahkan dua keranjang rizki dan kebaikan, saya hanya ingin rezeki itu adalah pemaafan dan kebaikan untuk sesama manusia. Kelak saya ingin balik sebagai bayi lagi yang suci. gak kurang gak lebih, cuma itu Gusti"

Sholawat terus berkumandang dan saya meneteskan lagi air mata yang diusap dengan syal lembut oleh Mas dan ia tersenyum.

"Saya menemukan jawabannya"

Ia menjawab dengan matanya, "Ya, Nduk"


Senin, 29 September 2014

Rahim, Tempat Kemanusiaan Dimulai

diundunh dari www.flickr.com/photos/tipstimesadmin
Kali ini saya ingin menulis soal rahim. Perkara rahim nyatanya bukan persoalan sepele. Oleh Tuhan (jika kalian mempercayaiNya) perempuan diberikan rahim.  Rahim sebuah kantung tempat bertabrakan antara sel telur dan sperma. Didalamnya jika ada ledakan maka menghasilkan janin kemudian tumbuh menjadi bayi. Saya, Anda dan kalian semua adalah hasil tabrakan antara sel telur dan sperma yang kemudian menghasilkan manusia. 

Manusia dibagi menjadi dua kelamin, disini saya tidak akan berbicara orientasi seksual. Lahir jelas menjadi perempuan dan laki-laki. Soal nantinya mau memilih orientasi seksual yang mana, ya itu hak. Jika Anda adalah laki-laki maka didalam tubuhnya akan ada seperangkat alat reproduksi dari penis, testis dan menghasilkan sperma.

Rabu, 03 September 2014

Surat Untuk Bapak #2

Bapak saat serangan stroke yang keempat

Malam ini saya berjanji untuk menulis tentang bapak. Bapak memiliki nama yang berbeda-beda. Kok bisa? Ya, di KTP namanya adalah Juri Suharto, di akte kelahiran saya ia menyebut namanya Suharto, sementara di kantor namanya adalah Suharto Sapto Cahyono. Di KTP tertera bahwa ia lahir tanggal 15 Mei 1955. Ia menutup usianya pada tanggal 14 Februari 2012, tepat pukul 15.55. 

Rabu, 11 Juni 2014

Surat untuk Bapak #1

Bagaimana menaguhkan rinduku padamu Pak. Rasa didadaku amat berkecamuk tak karuan. Makin lama jarak waktu dari hari kematianmu, hatiku makin tersayat-sayat, sesak dan kehilangan arahnya untuk pulang. Disana Bapak melihat semuanya dengan terang terhadapku tapi aku tidak pak, aku lepas tak terkendali.

Tiap kali aku ingin menangis, aku tak punya bapak untuk mengadu. Ingin kutahan air mata, tapi akhirnya ia jatuh juga. Doa-doa terucap, menatap ke langit. Aku tahu Pak, kau baik disana tapi rindu ternyata berbeda dengan rapalan janji doa akan tempat terbaik disana. Rindu berbeda dengan itu semua, jika rindu itu makin melebar, ia seperti lubang yang menganga. Seperti virus yang menyebar dan menghidupkan sendi kesedihan dalam rongga hati.

Pak, bagiku semua nampak sangat beragam ketika aku dihadapkan pada umur dari akte, berusia 24 tahun. Didepan cermin, kerapkali aku menatap diriku. Aku nampak seperti anak manja, yang tak pernah berubah, merasa bahwa masih ada ayah yang setia tidur bersamaku, mengompres panasku, membikinkan mie goreng jika aku kelaparan, mengantarkanku ke toko buku dan mengajakku naik motor menjelang tidur agar aku lekas terlelap. Pak, aku gagap untuk ditinggal sendiri. Tak kusangka, semua begitu amat pahit dari waktu dimana kau berada di pusara untuk pertama kalinya.

Dua hari lalu kau datang dalam mimpi, nampak kala itu, kau menggunakan batik, berpeci hitam, tengah mencopot sepatu. Berwajah segar dan hanya tersenyum sekilas saja. Kau menatapku, tak berkata apapun. Tapi dari sana, aku paham bahwa itu wajah rindumu. Dulu ketika Bapak masih ada, kerapkali aku melihat bapak menatapku tanpa aku pernah menyadarinya, lalu jika aku tak sengaja melihat bapak menatapku, maka bapak akan tersenyum saja.


Pak, hatiku terasa lengang. Mungkinkah ini yang disebut kehilangan. Bahkan doa pun tak mampu mengobati untuk meringankan. Aku tak memahaminya, sungguh Pak.

Rabu, 11 Desember 2013

Kekerasan Seksual : Korban Wajib Dibela

Tulisan ini dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat Jogja, tanggal 10 Desember 2013.

Kasus SS, seorang kurator, dosen dengan bermacam penghargaan penulisan puisi menjadi sorotan hangat berbagai media nasional. Bukan karena hasil karya yang menghiasi dinding penghargaan, SS kini tengah disorot akibat dugaan kasus perkosaan yang mengakibatkan seorang mahasiswi di Universitas Indonesia, berinisial RW  yang mengalami kehamilan yang tidak dikehendaki.

Kasus ini mulai mencuat, ketika RW melaporkan kasus dugaan perkosaan yang dialaminya kepada kepolisian Polda Metro Jaya. Bagi para penggiat isu kekerasan terhadap perempuan,  kasus SS  harusnya bisa menjadi alarm bagi semua kalangan, bahwa kekerasan seksual baik dalam bentuk perkosaan, pelecehan seksual, eksploitasi seksual dan bahkan berdampak pada kehamilan yang tidak dikehendaki adalah realitas yang tidak bisa dibantah, yang bertanggung jawab terhadap perilaku kekerasan adalah pelaku, dan jangan lagi menyalahkan korban.

Jika kita mau merawat ingatan, tentunya publik seharusnya tidak akan lupa kasus kekerasan seksual yang pernah menjadi pembicaraan warga dunia, pada kasus perkosaan berkelompok terhadap seorang gadis perempuan di India, yang berujung pada kematian korban. Publik India kala itu marah, laki-laki dan perempuan turun ke jalan dan bahkan mengecam tindakan salah satu pejabat, yang mengatakan bahwa perkosaan terjadi karena perempuan tidak bisa menjaga cara berpakaiannya.

Selasa, 10 Desember 2013

Real Partner

Ia laki-laki baik yang saya temui, sebelumnya kami berteman akrab. Perkenalan kami dimulai dari jejaring sosial media, setelah saya mengenalnya dari tulisan yang sempat ia guratkan di sebuah jurnal. Saya tidak pernah kepikiran untuk menjadi bagian terpenting dalam hidupnya, tapi dimana pun dan kapanpun saya memang selalu menaruh rasa hormat pada sosok laki-laki yang mampu menjadi teman, sahabat dan menempatkan diri dalam kadar kedewasaan dalam berorganisasi maupun kehidupan.

Sejak awal kuliah, saya sangat suka membaca Hok Gie dan Kasino. Laki-laki pertama, saya temui lewat Catatan Seorang Demonstran. Gie menampakan dirinya kepada saya dalam wujud yang cukup culas namun misterius. Gie menerbangkan imajinasi saya pada sosok yang tak perlu ragu untuk tak dikenang, tentang mencintai buku, cinta dan pesta. Meski saya merevisinya menjadi buku, cinta dan kopi. Gie mengingatkan saya untuk selalu berdamai dan kembali menikmati alam, kala tubuh mulai enggan dan sulit untuk berkoordinasi dengan pikiran. Letakanlah beban dan lara dalam perjalanan, disana akan kau temui berbagai sudut pandang dan saat pulang, kau akan kaya. Ia bagai kamus berjalan, sejatinya saya selalu menyukai pemikiran laki-laki yang cerdas bukan hanya intelektual, tetapi juga tentang hidup dan memanusiakan.

Ramadhan

Bulan ramadhan tahun ini sangat spesial bagiku. Di hari ke 17, aku sudah hampir merampungkan 19 juz. Bahagaia sekali. Ditengah-tengah kesibu...