Senin, 25 Oktober 2021

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهٖ وَصَحْبِهٖ اَجْمَعِيْنَ

Perjumpaanku dengan Nabi Muhammad adalah perjalanan yang panjang. Sebuah perkenalan yang mengantarkanku pada cahayaNya. Engkau pelita, cahaya kami, pemberi syafaat, penerang hidup, Ya Rasulullah. Bertahun-tahun, hamba mencari cahaya itu. Engkau memberi cahaya itu, disaat aku benar-benar terpuruk tak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi. Entah kepada siapa lagi, hamba harus mengadu ketika hati terasa buntu. Hamba berpegang kepada talimu Ya Rasulullah, atas hidup yang tertatih penuh dengan lumuran dosa, kesedihan, keperihan tanpa pernah sekalipun kehilangan harapan bahwa Gusti Allah dan Nur Muhammad pasti menolong ketika benar-benar aku terjatuh dalam keterpurukan. 

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهٖ وَصَحْبِهٖ اَجْمَعِيْنَ

Allahumma sholli ala Sayyidina Muhammad wa ala alihi washohbihi ajma’in

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta keluarga dan sahabat semuanya.”

Senin, 18 Oktober 2021

Ya Rasululloh, Terima Kasih.


المدد ، المداد ، المدد يا رسول الله
Almadad Almadâd , Almadad yâ Rosûlallâh

المدد ، المداد، المدد ياحبيب الله
Almadad Almadâd , Almadad yâ habîballâh


Malam ini Ya Rasululloh, hamba ingin menulis untukmu. 
Rasanya memang tak pantas, hamba yang bukan apa-apa, penuh dosa, menulis kepadamu.
Tapi hamba memberanikan diri Ya Rasululloh. 

Hamba menulis ini, ingin mengucapkan terima kasih tidak terhingga kepada Engkau. Cahaya yang indah. Penerang dalam kegelapan. Penuh cinta dan kehangatan. Hamba tahu, Engkau dilahirkan untuk kami, memberi petunjuk, pemberi contoh, teladan dan bahkan syafaat kelak di hari akhir. 

Hamba ingat, dimana hari-hari gelap menghampiri hamba setelah kehilangan yang dalam, dengan penuh ratapan, hamba meratap kepada Gusti Allah dan kepada Engkau, Ya Rasululloh. Meminta cahaya. Ketika gelap benar-benar melingkupi batinku yang penuh dengan tangis dan kesedihan.

Malam-malam dimana hanya Al Fatihah yang terucap dari mulut. Suara psikotik yang pertama kudengar adalah Allah-Allah. Hanya mampu berdoa, semoga hamba selamat. 

Tapi, yang selalu kukenang adalah pertemuan kita didalam mimpi. Cahaya yang indah. Cahaya yang kutemui diatas langit yang gelap. Engkau memberi cahaya penuh cinta. Lafaldz Muhammad diatas langit, dan hamba dibawah hanya tertunduk dan menangis. Melihat bahwa engkau hadir dalam mimpiku. Melihat cahaya yang penuh dengan keindahan. Ya Rasululloh, hamba tahu, Engkau tak akan meninggalkan kami, bahkan disaat yang penuh gelap. Dimana hamba benar-benar tak tahu jalan dan hanya menggantungkan doa sebagai cara untuk selamat. Malam ini dihari kelahiranmu, disaat cahaya-cahaya berpedar di langit, dan semesta menyambut kelahiranmu. Semoga segala suri tauladanmu selalu menjadi contoh bagi kami semua. Rasa kasih dan cintamu, menyinari seluruh semesta. 

Ya Rasululloh, terima kasih.
Ya Rasululloh, cahaya kami.
Ya Rasululloh, tolonglah kami selalu.
Ya Rasululloh, tolonglah kami selalu.
Ya Rasululloh, tolonglah kami selalu.

Sabtu, 02 Oktober 2021

Hidup Setelah Depresi

Enam bulan sudah, aku mengalami depresi. Sesuatu yang kuanggap menjadi titik balik didalam hidupku sebagai seorang manusia. Sebuah proses dimana Gusti Allah memanggilku kembali menjadi orang Islam dan orang Jawa. Sebuah proses kembali ke akar yang sangat penuh keperihan tapi juga kemewahan. Kemewahan yang tak terkira, aku selamat dan aku kembali menemukan jalan terang setelah hampir 30 tahun kehidupanku penuh kurasakan dengan kesuraman.

Harus kuakui, 30 tahun awal ini, aku ditempa Gusti Allah dengan sangat dahsyat. Ibu yang keras, Bapak yang sakit stroke bertahun-tahun, saudara yang tak memperhatikan, kesepian, kesendirian, ketakutan dan penuh kecemasan. Puncaknya saat Ibu meninggal. Aku masuk kedalam lorong gelap bernama depresi dan kini aku kembali berproses menjadi orang yang berbeda dan berubah 180 derajat.

Aku dulu orang yang mudah sekali terganggu oleh orang lain. Aku tidak bisa merasa tenang. Aku merasa benci banyak hal.Aku penuh dengan ambisi. Tapi semua ternyata semu. Aku mengejar seusatu yang amat fana. Sementara waktuku hidup tak pernah abadi.

Semoga inilah waktuku benar-benar kembali, bertarung melawan hawa nafsu dan egoku sendiri. Aku ingin menemukan kesejatianku, sebagai mahkluknya Gusti Allah. Mudah? Tidak. Tapi aku yakin bisa..

Minggu, 08 Agustus 2021

Hai Diriku

Hai diriku,

Terima kasih sudah bertahan dalam keadaan sempit sekali pun.

Terima kasih sudah mengajarkanku bagaimana bersabar tanpa batas waktu.

Terima kasih sudah mengajarkan bagaimana menjadi kuat dan punya daya tahan tanpa batas.

Terima kasih sudah tetap hidup meski tertatih.

Aku mencintaimu.

Maafkan aku yang sering tidak memperhatikanmu.

Kini, kau kucintai apa adanya.

Lebih tulus dari apapun.

Terima kasih sudah menguatkanku dimasa-masa paling gelap. 

Bahwa kita telah baik-baik saja dan kita selamat


Senin, 02 Agustus 2021

Surat Untuk Suamiku

Mas, aku ingin mengucapkan rasa syukur dan rasa sayangku kepadamu. Tidak ada yang tak aku syukuri bahwa Mas hadir didalam hidupku. Selama hampir 10 tahun saling mengenal, cintaku kepadamu makin hari semakin mendalam. Sama seperti pertanyaanmu dulu kepadaku ketika menerima pinanganmu untuk menikah, sampai hari ini aku tak pernah menemukan alasan mengapa aku mencintaimu. Ya ia hadir dariNya, tanpa perlu dipertanyakan mengapa dan kenapa.

Sewaktu aku masih sendiri, Mas tentunya tahu, aku tak memiliki figur Bapak yang lengkap. Selama kurun waktu lama, aku menguatkan diriku sendiri untuk mandiri melakukan apapun, tanpa posisi Bapak yang ideal karena beliau sakit. Rasa-rasanya, aku menemukan Bapak kembali saat 2012, didepan kantorku lama, saat aku bertanya, bagaimana memang kamu nanti mau memperlakukan pasanganmu? Lalu, Mas menjawab "membiarkan tumbuh, bahkan setelah menikah". Aku hanya tersenyum dan bilang lirih, kamu mirip Bapak.

Aku tahu, bahwa kelak beberapa tahun kemudian kita berpacaran. Mungkin awalnya hanya karena iseng, kamu patah hati, aku tahu kamu patah hati. Dan orang patah hati memang layak diisengin hehehe. Aku waktu itu hanya ingin, kamu tidak merasa sendirian. Kamu pernah mendampingiku dimasa-masa paling sulit saat aku kehilangan Bapak. Masa paling suram dan gelap dimana aku benar-benar merasa sendiri.

Aku mungkin terlihat tegar diluar, tapi kalau sudah soal orang tua, lain halnya. Mas tahu, aku dibesarkan dengan penuh gemblengan dari Ibu. Keadaan memaksaku kuat sedari awal. Pilihan-pilihan hidupku juga tak sepenuhnya mudah. Aku selalu ingat bagaimana, aku terpontang panting penuh kekhawatiran melihat orang tua sakit, berupaya sekuat tenaga untuk tetap berprestasi di sekolah, masuk UGM, membaca buku-buku, bekerja sembari jalan-jalan. Aku banyak mengambil kata "berani" karena aku tak punya pilihan selain jadi pemberani dan kuat. Hidup sudah menempaku seperti itu.

Tapi rasa-rasanya ujian cinta yang kita alami paling besar adalah saat aku masuk ke depresi. Beberapa bulan setelah Ibu pergi. Aku mengalami fase mood swing yang cepat. Gangguan fisik hingga ke 15 dokter. Tangis yang meledak tanpa sebab. Aku ingat kamu meneteskan air mata, saat aku berguling-guling di lantai karena merasa sakit yang teramat sangat dibatinku. Malam-malam aku memukul tembok, menangis seperti orang gila. 

Aku ingat waktu yang tak mudah kita lalui. Tangisan demi tangisan. Tapi Mas selalu ada. Tidak mundur bahkan saat aku sudah ingin mengakhiri semuanya. Mas selalu bilang, aku bisa melalui ini semua. Seumur hidupku, mungkin selain Bapak dan Ibu, hanya Mas satu-satunya orang yang berani bertaruh banyak hal untukku. Saat aku benar-benar merasa sendirian dan jatuh dalam lorong depresi, Mas memegangku, memberiku kesadaran bahwa aku tidak sendirian, aku berharga dan hidup harus tetap dilanjutkan.

Aku berjuang dengan berbagai psikoterapi dan Mas selalu hadir untuk memastikan aku mendapatkan hal yang terbaik untuk sembuh. Hingga aku menyadari, aku dicintai dengan sangat tulus. Kita bertemu sebagai "rasa" suami istri. 

Malam-malam engkau memelukku. Tidak berkata apa-apa, hadir memelukku penuh kasih. Aku tahu, cinta kita bukan hanya komitmen, akhirnya kita sampai pada raos rabi. Belajar bersuami istri dengan menggunakan "rasa" bukan semata keinginan atau karep.

Mas, adalah salah 1 anugerah terindah yang pernah ada dihidupku. Aku bersyukur sekali memilikimu. Jodoh kita dunia akhirat ya Mas :)

Selasa, 02 Maret 2021

Ibu #1

Selama bertahun-tahun, inilah mungkin tahun dimana aku akan membuka semua tabir yang kusimpan rapi dalam batin, diri dan jiwa didalam diriku. Sudah saatnya aku menumpahkannya karena orang yang selama ini membuatku meratap tapi sekaligus kusayangi telah pergi. Ibuku.

Tulisan di blog ini aku buat untuk menerapi diriku sendiri. Menuangkan semua derita yang pernah kualami sebagai anak dan relasi ibu anak yang berimbas pada hubungan kami yang up and down dan diakhiri dengan kepergiaan yang menurutku tragis dan menyakitkan. Aku tidak pernah menyangka kami dipisahkan seperti ini, saat dimana aku mulai menerima ia apa adanya sebagai seorang Ibu.

Aku membenci ibuku. Itu yang pertama ingin kukatakan sebagai anak. Aku bahkan sudah merasa ia ibu tiri yang jahat sejak aku berusia 5 tahun. Sejak semua tragedi keluarga terjadi dan baru kutahu, ia juga seperti aku karena keadaaan.

Ibu orang keras. Orang kokoh dan teguh. Orang punya keinginan yang tak bisa dipengak kalau orang Jawa bilang. Tapi kelak, setelah aku dewasa aku tahu, sisi inilah yang membuat keluarga kami bakoh, diterpa badai seberat apapun hingga kepergiaanya.

Ibu lahir sebagai anak ke 4, dari Mbah Joyo. Seorang perempuan yang juga merasakan jurang kehancuran saat ditinggal mati suaminya di masa sangat muda dengan meninggalkan 7 orang anak. Saat Mbah Joyo kakung pergi inilah, aku tahu ibu sebenarnya goncang secara psikis hingga ia dititipkan kepada kakak pertamanya karena mbah Joyo putri sudah tidak kuat menanggung beban ekonomi dengan anak yang cukup banyak sementara suaminya meninggal.

Ibu sendirian. Ibu bertahan dengan ketidakmampuan finansial orang tuanya dan mungkin juga menanggung derita yang kuat karena juga tak mampu membagi apapun dengan siapapun saat itu hingga mungkin ia baru bisa menjadi lebih ayem ketika menikah dengan Bapak. Ibu dan Bapakku menikah juga bukan dengan perkara yang mudah. Keluarga bapak menentang pernikahan itu karena Ibu dianggap keluarga yang tidak lengkap dan keras. Hanya mbah kakung dari Bapak yang menerima Ibu apa adanya. Itulah kenapa Ibu begitu terpukul ketika mbah kakung dari Bapak pergi karena ia merasa bahwa mbah kakung adalah pengganti Bapaknya. 

Ibu bertahan dan bertahan dengan banyak situasi sulit. Ia memutuskan tidak sekolah, hanya lulus SD demi mengalah untuk adik-adiknya. Ia berdagang, menggotong daun jati, berjalan puluhan kilo untuk bisa berjualan apapun agar ia bisa makan dan memberi makan adik-adiknya. Saat menuliskan ini, aku meneteskan air mata. Meneteskan air mata kepedihan betapa hidupnya tak mudah dan bagaimana ia pasti berusaha keras agar aku menjadi orang berhasil dengan cara yang cukup keras. Walaupun itu juga membutuhkan air mata kesedihan untuk melepaskan seluruh dendam, kebencian dalam relasi kami yang akhirnya aku tahu, ia cinta yang sepaket dengan sakitnya pula.

Aku ingin mengakhiri dulu tulisan ini karena aku belum kuat lagi menulis karena akan ada banyak hal menyakitkan yang selama ini kusimpan sendiri sebagai anak akan kugoreskan dalam pena. Ini cara satu-satunya cara yang kupunya selain ke psikiater untuk memaafkan segala hal yang terjadi dalam relasi kami sebagai ibu dan anak. 

Al Fatihah untuk Ibu

Jumat, 26 Februari 2021

Melepas itu juga belajar membahagiakan

Akhirnya aku menuliskan ini, ini masa-masa yang paling berat didalam kehidupan yang memukulku telak secara psikis dan berpengaruh ke fisik. Aku ingin berbagi ke teman-teman agar aware sejak awal untuk segera mencari pertolongan ke psikolog atau bahkan ke psikiater jika dirasa membutuhkan bantuan. Semakin lama menunda, teman-teman hanya meledakan bom waktu yang nyalanya seperti bom atom.

Pertama, sejak pandemi, saya yang biasa traveling untuk bekerja terkungkung didalam rumah dan ini membuat saya secara psikologis frustasi. Maret minggu terakhir saya menangis tanpa alasan yang jelas karena merasa tidak berguna. Dan ternyata itu hanya permulaan. 

Bulan april-mei saya mulai ikut kegiatan di Panggungharjo, menyiapkan kongres kebudayaan desa. Ini membantu saya pulih secara psikis karena bekerja kembali. Tapi Allah berkata lain, tepat disaat saya mulai menyiapkan kongres kebudayaan desa, menyiapkan TOR menulis sana-sini, Ibu berpulang.

Ibu koma 2 hari dan meninggal. Ibu kena stroke dan dimakamkan dengan protokol covid-19. Saya waktu itu tak menangis, kebingungan, tertegun, tak sadar entah jiwa saya kemana hingga saat ini. Saya merasa bukan saya. Saya merasa tak lagi sama. Saya hilang, diam, terjerumus dalam lubang yang tak saya mengerti.

Bulan Juli-November semua kegiatan Kongres diikuti Festival Inklusi terlalui dengan baik meski saya tertatih. Saya masih bisa berjalan. Tapi semua meledak ketika bulan desember.

Desember awal saya kena ISK, setelah saya telaah jauh bakterinya sangat sedikit. Tapi saya mengalami kesakitan luar biasa di punggung. Saya cemas dengan kondisi saya sendiri ditengah pandemi. Akan saya  ceritakan kronologisnya biar teman-teman aware bahwa ini bukan proses normal orang sakit fisik. 

Pertama, saya tes lab di RS Pemerintah di Kota Jogja, hasil lab menunjukan ada kristal di urine saya. Saya panik, kemudian esoknya saya ke puskesmas Sewon dan oleh dokter di rujuk ke RS Swasta di Bantul ke dokter urologi. Di dokter urologi, semua di cek dan tak ada masalah. Obat saya minum tapi perasaan saya, tubuh saya tak kunjung membaik. 

Saya langsung panik dan lari ke RS Panti Rapih masuk IGD dengan diagnosis yang sama ISK. Tapi dokter ingin mengecek keseluruhan, saya di USG perut atas dan bawah dengan diagnosis ISK tapi ada dugaan cairan cavum douglasi sehingga esoknya saya di rujuk di dokter obgyn. Esoknya dokter obgyn mendiagnosa tak ada masalah dengan rahim saya dan diberi obat ISK. Selama pengobatan lebih dari 4 kali saya memeriksakan diri ke dokter umum agar ISK saya cepat sembuh, cek lab dst. Hingga hari dimana saya merasakan kesembuhan dan pulang kembali ke rumah, saya didera sakit punggung yang luar biasa menyakitkan. Saya panik, suami saya langsung mengantar kembali saya ke IGD Panti Rapih. Disana saya langsung di rontgen punggung dan paha saya dan tak ada masalah. Sampai akhirnya dokter sendiri pusing dengan kondisi saya. Suami saya sudah bilang saya psikosomatis dan meminta di rujuk ke psikolog.

Setelah 1/2 bulan membaik, serangan nyeri datang kembali, kali ini ke gigi geraham. Gigi geraham saya nyeri hebat hingga saya mendatangi 2 dokter gigi dan 1 dokter di RSGM. Sampai rontgen gigi tanpa ada apapun yang sakit. Saya makin kebingungan, hingga suatu malam kepala saya sakit sekali dan saya udah pamitan kalau gak kuat ke suami. Ia langsung sholat dan diam. Karena seumur-umur saya sebagai istrinya tak pernah mengeluh seperti itu. Artinya itu tanda bahwa saya benar-benar kesakitan. 

Esoknya aku berinisiatif mencari dokter akupuntur. Bertemulah dengan dokter david, ia adalah dokter akupuntur yang belajar kedokteran timur. Darinya, ia langsung bilang. Ibu, ibu kena psikosomatis. Silahkan cek di 2 dokter untuk komparasi, bisa ke syaraf dan langsung ke psikiater. 

Lalu dari dokter syaraf panti rapih, dr Ersa mendiagnosa bahwa sakit kepala saya sama sekali tak berpola. Ini benar-benar psikosomatis. Ia langsung meminta saya ke psikiater dan dibawa ke pak wahyudi.

Di psikiater inilah semua masalah terbuka. Saya njempalik alias depresi dan cemas karena kondisi kepergian Ibu. Njempalik senjempalik jempaliknya kata orang Jawa. Kosmik saya berantakan. Pakde saya yang punya ilmu batin hanya geleng-geleng bahwa seandainya suami saya bukan Ryan atau belum menikah mungkin saya sudah sampai RSJ saking goncang ditinggal Ibu. 

Dulu 6 bulan awal saya masih baik, tapi 6 bulan setelah kepergiaan inilah masa krusial. Rasa bersalah, rasa tak terima, saya melempar buku, memukul tembok, menyalahkan keadaan, menangis dengan intensitas puluhan kali dan membuat saya kelalahan. Saya merasa dihantui rasa kesedihan yang tak saya mengerti. Pertanyaan kenapa Ibu harus pergi? Kenapa ia harus pergi tanpa aku pernah melihat. Segala pertanyaan itu yang tak pernah ada jawabannya hanya aku pasarahkan dalam trantum dan memukul-mukul benda yang ada di sekitarku.

Malam, ketika kesedihanku benar-benar memuncak tak karuan, aku menelepon pakde. Orang yang secara spiritual memiliki lelaku yang kuat. Beberapa hari yang lalu aku diberi mimpi, bapak datang. Bapak biasanya datang kala aku benar-benar sudah kebingungan dengan kondisi kehidupan yang tak kumengerti. Ia mengajakku naik bukit tinggi hingg aku ngos-ngosan tanpa bisa bernafas. Ia mengajakku sampai puncak dan bertemu mata air. Meminumnya dan ia kemudian pergi tanpa kata. Aku bilang, pak aku capek dalam mimpi itu. Ia bicara dalam diam, kamu bisa. Meski tak mudah.

Saat menulis ini, aku menarik nafas dalam-dalam. Pakde bilang, Ibu sudah baik banget disana. Sudah dipapapake dengan tenang. Tinggal kamu yang goncang. Ibarat jabang bayi, jiwa saya entah kemana. Mata saya bukan saya kata suami saya. Tatapan kosong, kehilangan arah. Saya biasanya berusaha kembali dengan mudah, tapi ini tak bisa lagi. Pakde ingin saya puasa weton, mengembalikan lagi kosmik saya yang hilang. Yang goncang, yang hilang, yang penuh dengan kesedihan, penuh kekelutan. 

Kini minimal saya sudah tidak trantum dan menangis. Tiap kali  saya ingat kesedihan itu, saya berdoa Al Fatihah mungkin berulang, ratusan kali, berdoa agar doa itu sampai ke Ibu. Tapi itu membuat saya tenang. Perkataan Pakde bahwa Ibu sudah tenang disana membuat psikis saya lebih baik. Selama ini saya selalu dihantui perasaan apakah ia bahagia disana? Apa ia baik selama 4 bulan tak melihatku karena covid-19, apa ia merasa menyesal? Segala pertanyaan yang tak pernah ada jawabannya? Hingga aku tahu, jawabannya hanya pemaafan dan ikhlas. Sulit sekali merasakan kenyataan bahwa Ibu dan saya dipisahkan dengan cara yang menurut saya tragis. Melindungi tapi ditinggal pergi, tanpa pesan. Tanpa kata. Hampa. Kosong. 

Sekarang saya sudah terapi akupuntur dan ke psikiater. Kondisi progress saya jauh membaik. Teman-teman, pandemi ini bukan perkara mudah. Kehilangan keluarga, pekerjaan, kecemasan, takut, kalut pasti dialami semua. Aku hanya ingin bilang, jika memang kalian butuh bantuan, segera cari bantuan. It's oke not to be oke di masa pandemi. Hasil riset-riset pun juga mengatakan bahwa depresi meningkat 3 kali lipat. Kita tidak dalam masa baik. Penanganan sejak dini membantu benar agar kita bisa sembuh. Kita gak gila kok kalau ke psikiater. Kalau teman-teman mau tahu, 1 dokter yang menanganiku, dalam 1 hari ia bisa menangani 120-150 pasien. Saya termasuk bisa ngobrol dengan dokter dan dia sungguh supportif bahwa saya pasti sembuh asal stabil di Ibu. Semua rasa sakit yang saya alami, murni adalah gejala depresi dan cemas. Wajar dikondisi kayak gini. Saya beruntung bisa tertolong. Kata dokter akupuntur pun ia bilang, pasien saya banyak yang psikosomatis dan mungkin banyak yang tak terdiagnosa diluaran sana. Bersyukurlah Ibu bisa sedini mungkin mencari pertolongan. Kami-kami (Psikolog, psikiater, perawat jiwa, dokter akupuntur) adalah orang-orang yang mendapat cipratan awu dari pandemi karena ternyata masalahnya holistik, bukan semata orang sakit fisik. Tapi aku selalu yakin, akan ada cahaya ditengah gelap segelap apapun. Aku hanya butuh proses untuk sembuh. Menerima kepergiaan orang terkasih, yang darahnya mengalir di darah kita bukan perkara mudah. Apalagi dimasa pandemi. Tapi bukan berarti gak bisa ya, aku pelan sudah menerima bahwa memang Ibu sudah pulang. Meski ya pelan. Aku masih ada rasa semi-semi tak rela dan itu alamiah sebagai seorang anak melepaskan ia pergi. Tapi, ia sudah pulang dan kadang yang menyakitkan adalah ia harus pergi tapi yang melegakan, semakin cepat aku mengikhlaskan ia akan pergi dengan baik. Dilema ya, ya kadang  hidup tak memberi pilihan yang enak. Termasuk ketika aku akhirnya belajar menerima bahwa melepas itu juga belajar membahagiakan :)

Maaf

Semoga maaf ini Engkau dengar. Semoga maaf ini engkau sekalian rasakan. Maafkan semua yang telah terjadi Maafkan kesalahanku. Ampuni aku Say...