Aku menyadari bahwa aku sangat dicintai oleh kedua orang tuaku. Mereka sudah melakukan hal yang amat baik kepadaku. Aku menjadi anak baik meski harus mengalami hal-hal perih. Aku tahu, aku telah belajar dari kehidupan. Aku belajar dari penderitaan dan tidak kekurangan apapun. Aku mencintai diriku, hidupku dan perjalananku...
Nabi Saw bersabda; “aku dibuat mencintai”, cinta disini adalah anak rohani. Jika cinta harus ditempuh dengan nilai-nilai praktis, ketahuilah itu bukan cinta, tapi kehendak. Cinta berbeda dengan kehendak. [Ibnu Arabi, Fushusul al-Hikam; 4/259, 2/189 dan Dzakha’ir al-A’laq)
Minggu, 06 Maret 2022
Kamis, 03 Maret 2022
Depresi #1
Aku mencoba menuliskan tentang depresiku. Aku ingin berbagi kepada orang-orang yang mungkin diluar sana, kini tengah mencari pertolongan, sedang merasa sendirian, tidak punya harapan hidup dan ingin mengakhiri segalanya. Aku pernah dalam posisi itu. Kalian tidak sendiri. Aku memahami bagaimana sepinya hidup didalam depresi, setiap hari, harus punya alasan untuk sekedar bernafas.
Depresi bukan perkara yang datang dengan tiba-tiba, meski dalam beberapa kasus, ia bisa saja datang secara mendadak. Pengalamanku memberikanku gambaran bahwa depresi seperti perangkap yang pelan-pelan menjeratmu seperti labirin dan engkau tidak tahu bagaimana caranya bisa keluar dari perangkap itu.
Depresi berakar dari sesuatu yang kompleks. Ia bisa jadi lahir dari generasi ke generasi tanpa disadari. Ia lahir sebagai buah ketidakmampuan seseorang menangkap makna dari kehidupan. Ini akibat, ia mengalami penderitaan-penderitaan panjang yang sulit.
Seorang manusia, ia adalah survival. Ia akan selalu berupaya bisa terus hidup. Ketika seorang manusia memilih untuk mengakhiri hidupnya, aku bisa meyakini, ia benar-benar sudah tidak mampu menanggung rasa sakit yang tertahankan, dan memilih untuk lari (bunuh diri), dengan harapan beban yang ada didadanya akan hilang dengan sekejap.
Aku merasakan betul, bagaimana sakitnya dadaku saat depresi. Ada palu godam yang memukul batinku hingga aku mengalami mati rasa. Aku mengenalinya saat alm ibuku masuk ke liang lahat dan aku tidak bisa merasakan kesedihan sama sekali. Hal ini pernah kualami saat alm bapakku meninggal 2012. Kesulitan memahami kedukaan membuat segala emosi tidak pernah bisa terjelaskan. Dan itu hanya awalan karena kengerian akan berdatangan setelahnya.
Aku mengingat serangan awal depresi dengan kepanikan yang tidak terjelaskan, sakit yang tidak bisa didiagnosis, pikiran yang bergerak sangat cepat, kesedihan yang tidak habis-habis dimana dalam satu hari, tangisan bisa keluar berkali-kali, ingin menyakiti diri sendiri, tidak ada orang yang bisa memahami rasa sakitmu, kemarahan yang besar pada kehidupan, merasa bahwa apa yang kau tanggung amatlah berat, mulai terdengar suara-suara yang menyuruhmu untuk mengakhiri kehidupan.
Yang dirasakan hanyalah kegelapan dan kengerian, hidup tidak perlu dilanjutkan. Jiwamu hilang seperti disedot oleh keperihan. Rasa dingin di dada, ada sesuatu yang ingin menerkammu hingga engkau tidak boleh lagi hidup...
Aku akan melanjutkan beberapa hal yang ingin kutuliskan...tapi aku benar-benar butuh waktu untuk menuliskannya karena hal ini juga tidak mudah. Aku akan menuliskannya dalam beberapa penggalan tulisan. Dan ini adalah awalan...
Senin, 28 Februari 2022
Awal Mula Pertama
Dari buku inilah semua bermula. Cerita kami berdua. Dua manusia yang saling menemukan dan kemudian memutuskan bersama menjalani kehidupan.
Aku mengingat menjelang usia 20 an, aku membaca buku ini. Ayu Utami, Si Parasit Lajang. Aku banyak menemukan kesamaan cara pandang, cara hidup dan perspektif dalam menjalani kehidupan. Sebagai seorang anak perempuan, yang terbiasa mengerjakan banyak hal secara mandiri, buku Si Parasit Lajang ini memberi banyak persetujuan dari cara hidupku. Bebas, mandiri dan tidak ingin dipusingkan dengan pasangan apalagi pernikahan. Tapi jauh dilubuk hatiku terdalam, sebenarnya itu hanya menutupi banyak hal yang membuatku merasa rentan. Aku mengalami periode kehidupan yang penuh dengan kesedihan. Jelas upayaku untuk mandiri dan tegar, adalah buah dari kemauan sadarku untuk bertahan dalam situasi-situasi sempit. Aku bahkan tidak pernah yakin, aku akan menemukan seseorang yang bisa berjalan dan memahami situasi yang kuhadapi. Aku banyak menutupi rasa sepi dengan seolah-olah ceria dan baik. Banyak hal yang kusembunyikan dan kututup dengan rapat, agar tak ada yang bisa menyentuhnya. Sampai aku bertemu dengannya, Ryan.
Ada banyak kejadian yang kini kusadari sebagai takdir kami. Takdir untuk bersama. Aku menemuinya di akhir 2011 untuk sebuah pekerjaan dan dari sana, semua bermula. Banyak hal yang kusadari digerakan semesta untuk kami bisa bertemu. Dua tahun sebelum kami bertemu, ditengah malam, di pojok ruang persma, aku membuka sebuah jurnal. Aku membuka dan membaca tulisan didalamnya. Di bagian pembuka, aku membaca tulisannya pertama kali. Kesanku, ini menarik. Jurnal itu tentang jurnal tentang sampah. Aku membuka satu lagi jurnal, yang ternyata, ia pula yang menjadi pimpinan umum kala jurnal itu terbit. Aku mulai berkorespondensi dengannya saat ia menanyakan apakah aku berasal dari Solo, dan aku menjawab iya. Ternyata ia juga berasal dari daerah yang sama. Aku hanya meresponnya sebentar dan tidak mengindahkannya lagi.
Percakapanku dengan beberapa kawan, namanya selalu dibawa. Beberapa kawan ini selalu mengatakan bahwa Ryan penulis yang baik. Tidak ada orang yang tulisannya baik, sebaik Ryan, kata seorang kawan. Aku pun mengamininya. Tulisannya memang baik. Beberapa kawan juga mengagumi ketekunannya. Aku belum pernah bekerja dengannya, jadi aku tidak bisa mengatakan setuju dengan apa yang dikatakan beberapa temanku.
Akhir tahun 2011, ketika aku menemuinya pertama kali, kami terlibat perbincangan cukup hangat dan panjang hingga tengah malam. Aku menawari dia pekerjaan sebagai konsultan media ditempatku bekerja. Tawaran itu berjalan baik. Kami sering bekerja bersama. Ia juga bercerita bahwa ia memiliki pacar dan kurasa itu hal yang baik sekaligus membahagiakan untuknya.
Selama aku bekerja dengannya, ada hal-hal yang sering membuatku tercenang. Hal pertama, saat aku menjemputnya di depan kantor, saat pertama kalinya ia datang ke kantorku. Ia mengatakan bahwa orang yang menjadi pasangannya harus menjadi sosok yang tumbuh. Aku cukup terkaget, ia mengatakan itu kepadaku. Meski ia juga mengatakan itu sambil berlalu. Lalu aku mengajaknya menuju ruang direktur. Direkturku saat itu nampak memperhatikan relasi kami. Setelah ia pulang, direkturku bertanya, apa kalian pacaran? Tentu saja aku terkaget, dan berkata bukan, aku sudah punya pacar kataku. Direkturku itu hanya bilang, kalian mirip dan cocok. Dan aku hanya tersenyum kecut sambil menggelengkan kepala. Dan bukan hanya direkturku saja yang selalu bertanya, apakah kami pacaran, aku selalu membantahnya, begitu juga dia. Dianggap mirip dengan laki-laki yang baru kukenal adalah hal pertama yang aku alami.
Suatu siang, saat ia juga berada di kantorku, aku sedang berjalan di ruang depan dengan membawa beberapa buku. Ia memanggilku dengan sebutan "nduk". Aku terkaget dan diam, lalu menoleh kepadanya. Panggilan itu sudah lama sekali tidak kudengar, semenjak bapak tidak bisa bicara beberapa tahun yang lalu. Dan entah darimana ia sengaja atau tidak memanggilku seperti bapak memanggilku. Aku hanya diam lalu berlalu. Tapi semesta menggerakan banyak hal yang diluar kuasa kita.
Empat bulan sejak pertama kali bertemu, Bapakku meninggal. Entah apa yang membuatku justru mengirimkan dia pesan, kalau bapakku sudah pergi. Ia tidak merespon beberapa hari. Dan baru membalas pesanku beberapa hari dan bertanya "kamu sudah kembali ke Jogja belum?". Esoknya aku kembali ke Jogja dan menemuinya. Aku mulai mengalami kesulitan mengutarakan rasa sedih tapi perilakuku menunjukan jika aku mulai mengalami depresi pertama kalinya. Sepertinya Ryan mulai sadar kalau aku membutuhkan bantuan untuk menghadapi rasa sedih dan kedukaan. Ia tidak membiarkanku sendiri.
Aku mengingat dimana aku berkata kepadanya "Aku tidak punya banyak alasan menyelesaikan skripsi dan hidup setelah Bapakku tidak ada". Ia hanya diam. Tidak berkata apapun. Tapi menemaniku kemana pun aku ingin. Ia tidak membiarkan aku jatuh sendirian. Aku mengingat fase dimana aku sendirian di Alkid, ia menemaniku. Ia bukan hanya menemaniku, tapi ia mengajakku naik becak ditengah malam, memutari malioboro dan alun-alun sambil memegang tanganku. Aku sejujurnya kebingungan bagaimana meresponnya. Aku hanya diam. Tapi ia terus memegang tanganku dan mengantarkanku pulang.
Di sela-sela itu pun, ia tahu bahwa aku putus dari pacarku dan mulai sendiri. Aku tahu dia juga memiliki pacar dan tentu aku ingin dia segera menikah. Aku sering berkata "kalau kamu menikah, aku diundang ya". Ia pun selalu bilang "Iya". Aku selalu berharap ia bahagia karena ia sudah sangat baik kepadaku.
Ia juga tahu laki-laki yang mendekatiku. Termasuk beberapa yang berakhir tidak jelas. Aku mengingat masa-masa ini dengan peristiwa di Sendangsono. Saat itu hari libur, aku mengajaknya pergi ke Sendangsono. Saat ia duduk di pinggiran aliran sungai, aku berjalan menuju altar didepan Bunda Maria. Aku duduk cukup lama di depan altar, lalu menghampirinya dan berkata
"Aku sepertinya tidak cocok dengan pernikahan".
"Pernikahan hanya stempel dalam buku nikah, yang mendefinisikan pernikahan itu adalah kita" ucapnya.
"Tapi banyak juga perempuan yang tidak bahagia kalau menikah, ya terpenjara dalam pernikahan (aku mengingat bahwa kakak perempuanku adalah korban KDRT)
"Kalau nikahmu sama aku, ya enggak" tambahnya
Aku tertawa, dan berkata "Gak usah modus".
Lalu kami mencari makan karena aku kelaparan...
Dalam kesempatan yang lain, aku terkaget tatkala ia membaca buku Ayu Utami. Aku bilang kepadanya, bahwa aku menyukai Ayu Utami sejak lama. Ia pun juga menyukainya. Lalu ia sadar dan bertanya, apa aku merasa tidak cocok dengan pernikahan karena membaca Si Parasit Lajang. Dan kujawab iya sambil tertawa. Tampaknya ia mengerti, bahwa memahamiku butuh kedalaman untuk tahu apa saja bacaan yang mempengaruhiku. Kami punya kesamaan pandangan dalam beberapa buku yang ditulis Ayu Utami. Saat itu aku menyadari, bahwa laki-laki yang kuhadapi ini tidak sama dengan laki-laki lain dalam memandangku sebagai perempuan...
#bersambung
Minggu, 27 Februari 2022
Modus
Kalau denger lagu "Pulang" dari Float Project, aku ingat dulu habis patah hati alias putus pacaran, aku ngajak Mas Ryan ke Gua Maria, Sendangsono. Aku duduk dibelakang orang yang berdoa, ada seorang nenek sepuh yang khidmat berdoa, wajahnya teduh. Aku merasa tenang melihat beliau berdoa hingga selesai.
Lalu menghampiri Mas Ryan yang duduk ditangga pinggir aliran air. Lalu bilang
"Kenapa ya, aku gagal mulu kalau pacaran? Memang kayaknya emang bener deh, aku ga cocok sama lembaga pernikahan, pacaran aja kagak ada yang jelas." lalu ikut duduk disebelahnya sambil menerawang ke pemandangan pohon-pohon serta lalu lalang peziarah.
Mas Ryan cuma ketawa
"pernikahan kan hanya stempel dalam buku nikah, yang nantinya mendefinisikan ya yang menikah"
"Oh ya, teori doank mah bisa kali. Kamu kan juga belum nikah masih pacaran. Ditanya nikah kapan, cuma bilang segera. Tapi diluar sana tetap aja tuh yang nikah, istrinya banyak yang dipaksa-paksa dan harus nurut mulu."
"Kalau nikahnya sama aku sih enggak"
"Modus lu" πππ
Dianya senyam-senyum mulu. Dan bilang "Ayo makan, paling kamu ngomong ngelantur karena lapar, makanya ngomel" π
Lima tahun kemudian, kami nikah πππ
Selasa, 22 Februari 2022
My Uncle is My Husband
Karena memiliki muka chubby, banyak yang menyangka, aku anak SMP/SMA. Banyak cerita lucu dimana mukaku yang kayak anak kecil ini, membuatku sering dikira jalan sama om-om.
Ada satu kejadian dimana aku sedang mampir di warung kopi dan memesan kopi dengan suamiku. Saat aku memesan kopi, si masnya tanya, wah mba mau pesan apa? Lalu aku jawab caffe latte. Lalu si masnya nanya lagi, kalau om yang sama mbak ini mau pesan apa? Muka suamiku merah padam.
Aku menahan ketawa...
Aku tahu, memang ia lebih sering dikira om ku, ketimbang suamiku π π€ͺππ€£
Senin, 21 Februari 2022
Ke GAP
Paling kocak itu waktu pacaran, karena emang berusaha nyembunyiin hubungan sih, kita kencan di toko buku (kalo dipikir, jelas itu tempat yang pasti bisa ketemu circle kami). Nah, waktu itu dia udah datang ke toko buku, aku baru sampai di parkiran. Mau nyamperin...eh buset...
Ada teman kami berdua yang di toko buku. Dia nyamperin ryan. Aku langsung belok kanan menuju kamar mandi. Hahahahahaha..anjir, kencan hampir ke GAP! Dia tanya setelah temannya itu pulang, kamu ngumpet mana? Kamar mandi π€£π
Dia ngakak...terus bilang ini tempat ga aman ya buat kencan. Yaelah bambaaaang..udah dari kapan harusnya elu nyadar ππππ₯΄
Kamis, 17 Februari 2022
Bertemu Ibu Mertua
Bagaimana rasanya pacaran dan punya suami lebih matang? Hahahahaha. Aku selalu tertawa dan halu sendiri kalau mengingat bagaimana jarak umur yang cukup jauh bisa membuat banyak hal menjadi lebih menyenangkan. Banyak asiknya.
Saat aku pacaran dengannya, usiaku 23 tahun, sementara ia 30 tahun menjelang 31 tahun. Ini seperti pacaran dengan anak ABG yang sedang halu-halunya. Ia mungkin laki-laki matang dan tenang, berhadapan dengan cewek yang lebih banyak jujur dengan perasaan. Ia selalu takjub dengan hal-hal ajaib yang kulakukan, misalnya jika makan bisa sampai pipi, kalau bete makan es krim dan makan banyak, tidak bisa membedakan lemes karena sakit atau karena lapar (sudah berkali-kali sampai dia hafal, aku lebih banyak lemas karena lapar hahahahha).
Ada satu kejadian yang membuatku sampai hari ini selalu menutup muka saking malunya. Dulu, saat awal-awal aku pacaran dengan dia, bapak dan ibu masih tinggal di Jogja. Saat itu aku datang menghampiri ia di rumah Jogja, ia memperkenalkan bapak dan ibu kepadaku. Kebetulan bapak dan ibu kan punya rumah makan. Aku sering makan disana tapi kata dia, gak usah bayar. Aku bingung, tapi sering nitip uang ke Ryan buat bayar. Aku mungkin terlalu polos kali yak. Ibu dan Bapak ini selalu tersenyum dan baik kepadaku. Sampai berbulan-bulan itu terjadi dan aku sama sekali tidak terpikir bahwa ia bapak dan ibunya mas ryan.
Sampai suatu akhir pekan, mas ryan mengajakku untuk ke pulang ke rumah asalnya. Aku waktu itu menyanggupi, oke.
Begitu sampai rumah, yang kulihat adalah bapak dan ibu yang punya tempat makan. Astaga...
Sumpah, aku cuma melongo sambil menunjuk dan menoleh ke mas ryan. Lalu aku minta izin ke belakang rumah, lalu mas ryan menghampiriku ke belakang dan bilang;
"Kamu memang perempuan paling ajaib yang pernah ada"sambil memandangku datar
Lalu aku bilang
"Terima kasih atas sanjungannya" sambil senyum kecut ke mukanya lalu berjalan tertunduk mengikutinya...
Berbulan-bulan, aku bahkan tidak menyadari itu adalah calon ibu mertuaku, dasar!
Maaf
Semoga maaf ini Engkau dengar. Semoga maaf ini engkau sekalian rasakan. Maafkan semua yang telah terjadi Maafkan kesalahanku. Ampuni aku Say...
-
Banyak orang yang bertanya kepadaku secara pribadi bagaimana ceritanya aku bisa remisi dari depresi dan anxiety. Sejujurnya, aku akan bilang...
-
Aku sangat berterima kasih kepada suamiku. Bersamanya aku serasa memiliki teman hidup dan kekasih yang kucintai setiap hari. Tidak hentinya...
-
Banyak kesedihan yang ku tanggung. Seandainya aku boleh meminta dan mengulang waktu, aku ingin Bapak ku sehat. Menemaniku aku tumbuh dengan ...