Selasa, 20 Januari 2026

Dunna

Aku mengingat masa kecil yang menurutku aneh. Ada perasaan dimana aku merasa tidak layak untuk dicintai. Saat kecil aku kerap dimarahi, atau malu lalu kemudian menarik diri karena merasa tidak dicintai. Lalu aku akan mengambil boneka-boneka didalam kamarku lalu menata satu per satu. Mereka, boneka-boneka ini adalah temanku. Ann, inner childku bilang bahwa itu adalah kita. Masa kecil. Masa kecil yang menyebalkan karena orang-orang bahkan tidak paham apa yang kita rasakan. Orang tua sendiri bahkan tidak paham kesepian yang dialami anaknya. Entah mereka berdua tidak layak menjadi orang tua. Aku dulu sering mengatakan bahwa itu tidak baik, tapi membuat anak merasa tidak dicintai adalah hal yang paling fatal yang dilakukan orang tua. Tidak tahu dan memahami perasaan anak adalah hal terburuk yang diwariskan oleh orang tua.

Akhir-akhir ini, aku mulai melihat Ann kecil bukan sebagai anak yang tidak tahu apa-apa. Dia adalah penunjuk jalan bagiku karena ia memiliki sifat dan karakter yang tidak pernah divalidasi oleh siapapun. Ia adalah versi diriku yang tidak pernah aku dengarkan. Aku selalu mendengar dan mencoba memahami orang lain. Tapi tidak pernah bisa memahami diri sendiri dan apa yang ia rasakan. Pantas saja ia marah sekali. 

Ia mengatakan bahwa diri kita adalah hal pertama yang harus didengar. Orang lain itu hidup dengan luka-luka mereka. Tugas memikul luka adalah tugas masing-masing manusia. Bukan ditimpakan kepada manusia lain. 

"Sejujurnya Dunna tahu tidak, aku paling benci harus memahami orang yang bahkan tidak pernah mau memahami orang lain. Orang pertama yang berhak didengar ketika hubungan orang tua dan anak terjadi adalah anak. Anak adalah hasil keputusan sadar dari orang tua. Mereka mau menikah dan melanjutkan keturunan. Jika tidak mampu menanggung emosi dan luka masing-masing jangan pernah ditimpakan ke anak. Kita berdua, tidak perlu menanggung derita yang mereka buat sendiri. Menjengkelkan bagiku, harus memahami mereka. Dunna tidak ada orang didunia ini yang ketika disuruh tanggungjawab malah lari, marah-marah, emosian dan meletakan ketidakmampuannya untuk bertanggungjwab sebagai tanggunjawab anak. Dunna itu kayak orang tua, kita yang anak. Kita berhak menuntut apa yang jadi hak kita. Ini bukan ego, tapi bentuk kesadaran untuk meletakan, bahwa orang tua perlu meletakan ekspektasi, luka dan segala macam trauma dikaki mereka sendiri bukan ke anaknya. Menyebalkan jika ada orang dewasa seperti itu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ramadhan

Bulan ramadhan tahun ini sangat spesial bagiku. Di hari ke 17, aku sudah hampir merampungkan 19 juz. Bahagaia sekali. Ditengah-tengah kesibu...