Aku makin menyukai kelambatan. Sering bahkan terlambat dalam banyak hal di hidup. Ternyata Tuhan menuntunku makin pelan menjalani kehidupan. Bukan berlari seperti dahulu. Pelan-pelan, aku menyukai prosesku dengan segala keterlambatan yang dikira oleh orang-orang modern. Kupikir, terlambat itu hal yang buruk, tapi aku ingat sebuah kata-kata dari Pak Quraish Shihab yang mengatakan jika mungkin keterlambatanmu adalah mungkin hal yang menyelamatkanmu.
Dalam banyak cerita hidup yang kujalani selama 36 tahun ini, aku memang banyak terlambat. Banyak hal yang membuatku sesak. Tapi, yang aku bangga dari diriku, mungkin adalah diantara segala pahit getir, aku tidak lari. Itu yang kusyukuri.
Sebagai anak, aku mungkin kurang mendapat tempat aman sejak kecil. Kedua orang tuaku, berupaya sebisa mereka menjadi orang tua. Mereka menjalani hidup dengan gudang pengetahuan yang mereka miliki. Sederhananya, mereka terbatas mendapatkan akses untuk berpengetahuan sebagai orang tua. Tapi mereka pasti mengusahakan yang terbaik. Namun, yang perlu jadi catatan, tidak semua anak berhasil terhubung dengan orang tua. Aku mungkin berhasil dalam satu hal, tapi gagal dalam hal yang lain. Aku sampai hari ini masih sering bertanya, mengapa ibuku sangat beringas, terburu-buru menghakimi dan ketakutan akan hidup. Luka generasi macam apa ini yang terus menerus dirawat tanpa ada upaya berhenti untuk memutusnya.
Aku pernah mengalami apa yang dialami ibuku tapi aku mencari ruang aman untuk menyelamatkan diri. Dulu, aku mengira betapa lemahnya aku. Tapi aku baru menyadari, betapa kuatnya Allah SWT menopangku betahun-tahun tanpa support system sesama manusia. Saat aku roboh di 2020, Allah SWT tidak meninggalkanku. Bantuan datang beriringan ketika raga dan mental sudah tidak mampu lagi menopang (aku nulis ini sambil nangis). Untuk pertama kalinya, aku merintih dan berdoa. Ketika jalan semua sudah tertutup. Pilihannya hanya mati atau hidup. Allah memintaku hidup. Berjalan lagi meski tertatih. Semua perasaan buruk yang turun menurun dalam generasi, diputus dengan cara pelan-pelan.
Aku menenggak obat psikiatri hampir 5 tahun. Bukan lamanya, aku menyadari betapa beratnya beban yang kutanggung bertahun-tahun secara psikis hingga butuh waktu bertahun-tahun aku kembali pulih. Aku tidak malu lagi mengatakan bahwa aku menderita sangat panjang. Aku minum obat psikiatri untuk pulih. Menjalani serangkaian psikoterapi, tetap memutuskan kembali bekerja. Sembari mengusahakan agar otakku bisa pulih untuk bisa S2. Semua terkesan terlambat, tapi aku bersyukur, aku menjalaninya dengan pelan dan merasakan proses naik turunnya.
Kemewahan yang mungkin aku rasakan saat masa hancur adalah aku memperoleh waktu istirahat bahkan hiatus dalam waktu yang panjang. Aku banyak menggunakan waktu itu untuk memulihkan psiskisku setelah diterpa badai depresi. Siapa sangka, itu adalah titik balikku untuk berubah jadi manusia siput alias pelan-pelan menjalani hidup
Tidak ada komentar:
Posting Komentar