Jumat, 17 Desember 2021

Surat untuk Ibun

Genduk Ann, Ibun, sayang...

Hari ini mbak sengaja menulis untukmu, bagian diriku yang selalu setia menemaniku, terima kasih tak terkira kamu sudah bertahan sejauh ini. Tidak ada kata lain selain bersyukur bahwa dirimu selamat dan baik-baik saja, setelah semua badai yang terjadi. Mbak tahu, tidak mudah tentunya untukmu untuk melalui semuanya, meski sering terjatuh dan menangis, Mbak tahu, kamu kuat ya Ibun.

Mbak, rasanya ingin menangis, memelukmu dan mendekapmu erat tanpa lepas lagi. Apa yang terjadi pada dirimu adalah hal yang bukan hal yang mudah. Ketakutan, kesedihan, kegelisahan, setiap saat tanpa tahu bagaimana caranya buat bangkit. Ada beban berat yang selalu kamu pegang, tapi Nduk, ayo dilepaskan. Ada mbak sekarang, semua sudah terlalui dengan baik. Tenang ya Nduk, ada Mbak yang akan setia menemanimu sampai kita ketemu Gusti nanti sayang.

Mbak tidak akan meninggalkanmu sayang, percayalah. Mbak akan selalu disisimu sampai kapanpun. Jangan khawatir lagi ya Nduk Ann. Segala yang kita lalui bersama adalah ijazah hidup kita. Adalah pengalaman yang tak akan terbayar dengan apapun. Semua sudah baik dan kamu akan sangat aman. Percayalah, tak akan ada lagi yang akan menyakitimu. Sayangku, jangan jauh dariku. Cintaku selalu tersedia tanpa batas untukmu Ibun...

Sabtu, 11 Desember 2021

Hidup Pasca Depresi

Aku bukan orang Jawa yang memahami bagaimana sistem kosmik dan kehidupan Jawa diatur. Aku hanya seorang anak yang setiap malam jumat, selalu diajak almarhum bapak dan ibu untuk menyekar ke simbah-simbah kami. Berdoa, agar mereka diberikan keselamatan. Aku seorang anak pedagang yang ulet, bernama Ibu Sudarmi, yang mengabdikan seluruh kehidupannya untuk bekerja, suami dan anak-anaknya. Seorang Ibu yang sangat kuat dan tangguh mengarungi kehidupan yang penuh dengan liku. Aku ingin menceritak ibuku, yang membuatku kembali mengakar dan hidup kembali dialam Jawa, setelah sekian lama, aku tak pernah mau menengok akar dan asal usulku.

Kepergian ibu 13 Juni 2020, telah menggoncangku jiwa, raga dan kosmik kehidupanku sebagai seorang anak. Kehidupanku malik grembyang alias berputar 360 derajat. Saat Ibuku tercinta pergi, aku tidak mengenal alam ini. Rasanya berbeda dengan saat Bapak pergi di tahun 2012. Aku hanya terdiam, tak berkata apa-apa. Ini rasa hilang yang tak kumengerti, lebih dalam dibanding kehilangan Bapak. Aku mengingat lagi lubang hitam bernama depresi yang sempat menghampiriku tahun 2012 itu kembali datang tapi kali ini gelombangnya lebih dahsyat.

Aku mulai mencari pertolongan ke psikiater dan psikolog. Ini jauh lebih berat dari yang awal kuduga. Aku menghabiskan puluhan jam melamun, bergulung-gulung, meninju tembok dan melempar buku. Sebuah perasaan yang tak aku mengerti, yang kurasakan hanya dada terasa sakit hebat, marah, sedih sekaligus. Kesedihan yang dalam. Aku menyadari, ini alam bawah sadarku lah yang benar-benar tergoncang.Tapi aku tidak pernah berpikir ini akan sangat dahsyat.

Depresi tak ada korelasinya dengan iman yang buruk. Ini situasi yang kerap menjadi momok bagi siapapun yang mengalami kedukaan. Aku memiliki rekam panjang mengalami kedukaan yang berat pada saat kehilangan Bapak. Aku tertolong setelah 1 tahun, suamiku sekarang hadir dan tidak membiarkan diriku sendiri menghadapi duka. Ia datang dikala aku sudah merasa hidup tak ada harapan setelah kepergiaan bapakku terkasih. 

Di psikiater aku menjalani obat atau farmakologi. Setidaknya, sampai saat ini, konsumsi obatku sudah amat turun tapi nyeri didada kerap terjadi karena memang pengobatan syaraf otak membutuhkan waktu. Proses psikoterapiku lah yang kurasakan paling dahsyat bagiku secara personal. Menghadirkan kembali memori-memori yang membuatku ingin berteriak, menangis dan merasakan sesak didada. Selama kurun waktu Juni 2021, setelah proses farmakologi yang menguras energiku, aku masuk ke fase psikoterapi. 

Di bulan Juni, aku bertemu pertama kali dengan bu Gamayanti. Dosen sekaligus psikolog senior di UGM atas rekomendasi suamiku. Suamiku memberikan saran agar aku menghubungi beliau. Aku melakukan konseling sebanyak 3 kali melalui online. Proses psikoterapiku sangat dibantu dengan kemampuanku untuk menulis. Proses menulis telah membuat aku bisa merunut dimana akar depresiku. Ia berasal dari inner child yang sakit karena proses kehidupan keluarga kami seperti roller coster. Cerita ini telah mempengaruhi mentalku secara siginifikan. Aku banyak kecewa dengan kondisi kehidupan yang mengharuskanku kehilangan sosok bapak di usia 12 tahun, tidak mendapat perhatian ibu karena ibu harus bekerja dan kebencian pada laki-laki yang menjadi kakak iparku yang menjerumuskan keluarga dalam persoalan pelik tanpa ia mau bertanggungjawab.

Kepergian bapak dan ibu telah menyimpan kesakitan luar biasa dibatinku, terutama melihat nasib mereka yang harus menanggung penderitaan. Sebagai anak aku tak pernah sampai hati melihat orang tuaku dalam posisi seperti itu. Mereka diberikan cobaan oleh kakak iparku hingga mereka drop dan jatuh pada lubang kesedihan yang dalam. Meski hari ini, mbakku sudah memutuskan untuk berpisah. Aku bersyukur untuk hal itu.

Di Bu Gamayanti inilah, aku akhirnya mau masuk ke memori-memori paling menyakitkan seumur hidupku dan dikeluarkan emosinya. Rasanya setiap psikoterapi, semua teraduk-aduk jadi satu. Sampai aku kelelahan sendiri tapi aku melakoni proses itu karena aku tahu jalan kebaikan ada disana meski ini proses yang melelahkan dan tidak mudah. Selain itu, aku tahu, sekarang aku sudah aman karena memiliki keluarga suamiku yang sangat perduli dengan keadaanku pasca ibu pergi. Aku tak pernah sendiri. Aku punya ibu, mbah Uti, Ibu Harso Wagiyem. Ibukku yang amat kucintai. Yang ingin kujaga. Karena dari doanya lah, aku kembali hidup setelah aku mengalami masuk ke jurang depresi yang dalam. Aku telah berupaya kembali dan aku kuat meski tertatih. (bersambung) 

 

Jumat, 19 November 2021

Ikhlas

Hari ini aku mengerti arti apa itu ikhlas.

Ikhlas atas nasib yang kuterima sebagai makhluknya Gusti.

Ketidaknyamanan diterima sebagai bagian dari cara Gusti mengenalkan diriNya. Mengenalkan bahwa kita harus bersimpuh dan memohon hanya kepadaNya. Atas rahmat hidup yang Ia berikan. 

Senin, 25 Oktober 2021

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهٖ وَصَحْبِهٖ اَجْمَعِيْنَ

Perjumpaanku dengan Nabi Muhammad adalah perjalanan yang panjang. Sebuah perkenalan yang mengantarkanku pada cahayaNya. Engkau pelita, cahaya kami, pemberi syafaat, penerang hidup, Ya Rasulullah. Bertahun-tahun, hamba mencari cahaya itu. Engkau memberi cahaya itu, disaat aku benar-benar terpuruk tak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi. Entah kepada siapa lagi, hamba harus mengadu ketika hati terasa buntu. Hamba berpegang kepada talimu Ya Rasulullah, atas hidup yang tertatih penuh dengan lumuran dosa, kesedihan, keperihan tanpa pernah sekalipun kehilangan harapan bahwa Gusti Allah dan Nur Muhammad pasti menolong ketika benar-benar aku terjatuh dalam keterpurukan. 

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهٖ وَصَحْبِهٖ اَجْمَعِيْنَ

Allahumma sholli ala Sayyidina Muhammad wa ala alihi washohbihi ajma’in

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta keluarga dan sahabat semuanya.”

Senin, 18 Oktober 2021

Ya Rasululloh, Terima Kasih.


المدد ، المداد ، المدد يا رسول الله
Almadad Almadâd , Almadad yâ Rosûlallâh

المدد ، المداد، المدد ياحبيب الله
Almadad Almadâd , Almadad yâ habîballâh


Malam ini Ya Rasululloh, hamba ingin menulis untukmu. 
Rasanya memang tak pantas, hamba yang bukan apa-apa, penuh dosa, menulis kepadamu.
Tapi hamba memberanikan diri Ya Rasululloh. 

Hamba menulis ini, ingin mengucapkan terima kasih tidak terhingga kepada Engkau. Cahaya yang indah. Penerang dalam kegelapan. Penuh cinta dan kehangatan. Hamba tahu, Engkau dilahirkan untuk kami, memberi petunjuk, pemberi contoh, teladan dan bahkan syafaat kelak di hari akhir. 

Hamba ingat, dimana hari-hari gelap menghampiri hamba setelah kehilangan yang dalam, dengan penuh ratapan, hamba meratap kepada Gusti Allah dan kepada Engkau, Ya Rasululloh. Meminta cahaya. Ketika gelap benar-benar melingkupi batinku yang penuh dengan tangis dan kesedihan.

Malam-malam dimana hanya Al Fatihah yang terucap dari mulut. Suara psikotik yang pertama kudengar adalah Allah-Allah. Hanya mampu berdoa, semoga hamba selamat. 

Tapi, yang selalu kukenang adalah pertemuan kita didalam mimpi. Cahaya yang indah. Cahaya yang kutemui diatas langit yang gelap. Engkau memberi cahaya penuh cinta. Lafaldz Muhammad diatas langit, dan hamba dibawah hanya tertunduk dan menangis. Melihat bahwa engkau hadir dalam mimpiku. Melihat cahaya yang penuh dengan keindahan. Ya Rasululloh, hamba tahu, Engkau tak akan meninggalkan kami, bahkan disaat yang penuh gelap. Dimana hamba benar-benar tak tahu jalan dan hanya menggantungkan doa sebagai cara untuk selamat. Malam ini dihari kelahiranmu, disaat cahaya-cahaya berpedar di langit, dan semesta menyambut kelahiranmu. Semoga segala suri tauladanmu selalu menjadi contoh bagi kami semua. Rasa kasih dan cintamu, menyinari seluruh semesta. 

Ya Rasululloh, terima kasih.
Ya Rasululloh, cahaya kami.
Ya Rasululloh, tolonglah kami selalu.
Ya Rasululloh, tolonglah kami selalu.
Ya Rasululloh, tolonglah kami selalu.

Sabtu, 02 Oktober 2021

Hidup Setelah Depresi

Enam bulan sudah, aku mengalami depresi. Sesuatu yang kuanggap menjadi titik balik didalam hidupku sebagai seorang manusia. Sebuah proses dimana Gusti Allah memanggilku kembali menjadi orang Islam dan orang Jawa. Sebuah proses kembali ke akar yang sangat penuh keperihan tapi juga kemewahan. Kemewahan yang tak terkira, aku selamat dan aku kembali menemukan jalan terang setelah hampir 30 tahun kehidupanku penuh kurasakan dengan kesuraman.

Harus kuakui, 30 tahun awal ini, aku ditempa Gusti Allah dengan sangat dahsyat. Ibu yang keras, Bapak yang sakit stroke bertahun-tahun, saudara yang tak memperhatikan, kesepian, kesendirian, ketakutan dan penuh kecemasan. Puncaknya saat Ibu meninggal. Aku masuk kedalam lorong gelap bernama depresi dan kini aku kembali berproses menjadi orang yang berbeda dan berubah 180 derajat.

Aku dulu orang yang mudah sekali terganggu oleh orang lain. Aku tidak bisa merasa tenang. Aku merasa benci banyak hal.Aku penuh dengan ambisi. Tapi semua ternyata semu. Aku mengejar seusatu yang amat fana. Sementara waktuku hidup tak pernah abadi.

Semoga inilah waktuku benar-benar kembali, bertarung melawan hawa nafsu dan egoku sendiri. Aku ingin menemukan kesejatianku, sebagai mahkluknya Gusti Allah. Mudah? Tidak. Tapi aku yakin bisa..

Minggu, 08 Agustus 2021

Hai Diriku

Hai diriku,

Terima kasih sudah bertahan dalam keadaan sempit sekali pun.

Terima kasih sudah mengajarkanku bagaimana bersabar tanpa batas waktu.

Terima kasih sudah mengajarkan bagaimana menjadi kuat dan punya daya tahan tanpa batas.

Terima kasih sudah tetap hidup meski tertatih.

Aku mencintaimu.

Maafkan aku yang sering tidak memperhatikanmu.

Kini, kau kucintai apa adanya.

Lebih tulus dari apapun.

Terima kasih sudah menguatkanku dimasa-masa paling gelap. 

Bahwa kita telah baik-baik saja dan kita selamat


Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah

Saat aku depresi berat di 2020, dimana tangan manusia tidak mampu lagi menolong, krisis diri ini membawaku pada satu permintaan tolong kepad...