Minggu, 27 Februari 2022

Modus

 Kalau denger lagu "Pulang" dari Float Project, aku ingat dulu habis patah hati alias putus pacaran, aku ngajak Mas Ryan ke Gua Maria, Sendangsono. Aku duduk dibelakang orang yang berdoa, ada seorang nenek sepuh yang khidmat berdoa, wajahnya teduh. Aku merasa tenang melihat beliau berdoa hingga selesai.


Lalu menghampiri Mas Ryan yang duduk ditangga pinggir aliran air. Lalu bilang


"Kenapa ya, aku gagal mulu kalau pacaran? Memang kayaknya emang bener deh, aku ga cocok sama lembaga pernikahan, pacaran aja kagak ada yang jelas." lalu ikut duduk disebelahnya sambil menerawang ke pemandangan pohon-pohon serta lalu lalang peziarah. 


Mas Ryan cuma ketawa 


"pernikahan kan hanya stempel dalam buku nikah,  yang nantinya mendefinisikan ya yang menikah"


"Oh ya, teori doank mah bisa kali. Kamu kan juga belum nikah masih pacaran. Ditanya nikah kapan, cuma bilang segera. Tapi diluar sana tetap aja tuh yang nikah, istrinya banyak yang dipaksa-paksa dan harus nurut mulu."


"Kalau nikahnya sama aku sih enggak"


"Modus lu" πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Dianya senyam-senyum mulu. Dan bilang "Ayo makan, paling kamu ngomong ngelantur karena lapar, makanya ngomel" πŸ˜‚


Lima tahun kemudian, kami nikah πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Selasa, 22 Februari 2022

My Uncle is My Husband

Karena memiliki muka chubby, banyak yang menyangka, aku anak SMP/SMA. Banyak cerita lucu dimana mukaku yang kayak anak kecil ini, membuatku sering dikira jalan sama om-om.

Ada satu kejadian dimana aku sedang mampir di warung kopi dan memesan kopi dengan suamiku. Saat aku memesan kopi, si masnya tanya, wah mba mau pesan apa? Lalu aku jawab caffe latte. Lalu si masnya nanya lagi, kalau om yang sama mbak ini mau pesan apa? Muka suamiku merah padam.

Aku menahan ketawa...

Aku tahu, memang ia lebih sering dikira om ku, ketimbang suamiku πŸ˜…πŸ€ͺπŸ˜‚πŸ€£

Senin, 21 Februari 2022

Ke GAP

Paling kocak itu waktu pacaran, karena emang berusaha nyembunyiin hubungan sih, kita kencan di toko buku (kalo dipikir, jelas itu tempat yang pasti bisa ketemu circle kami). Nah, waktu itu dia udah datang ke toko buku, aku baru sampai di parkiran. Mau nyamperin...eh buset...

Ada teman kami berdua yang di toko buku. Dia nyamperin ryan. Aku langsung belok kanan menuju kamar mandi. Hahahahahaha..anjir, kencan hampir ke GAP! Dia tanya setelah temannya itu pulang, kamu ngumpet mana? Kamar mandi πŸ€£πŸ˜‚

Dia ngakak...terus bilang ini tempat ga aman ya buat kencan. Yaelah bambaaaang..udah dari kapan harusnya elu nyadar πŸ˜–πŸ˜–πŸ˜–πŸ₯΄

Kamis, 17 Februari 2022

Bertemu Ibu Mertua

Bagaimana rasanya pacaran dan punya suami lebih matang? Hahahahaha. Aku selalu tertawa dan halu sendiri kalau mengingat bagaimana jarak umur yang cukup jauh bisa membuat banyak hal menjadi lebih menyenangkan. Banyak asiknya.

Saat aku pacaran dengannya, usiaku 23 tahun, sementara ia 30 tahun menjelang 31 tahun. Ini seperti pacaran dengan anak ABG yang sedang halu-halunya. Ia mungkin laki-laki matang dan tenang, berhadapan dengan cewek yang lebih banyak jujur dengan perasaan. Ia selalu takjub dengan hal-hal ajaib yang kulakukan, misalnya jika makan bisa sampai pipi, kalau bete makan es krim dan makan banyak, tidak bisa membedakan lemes karena sakit atau karena lapar (sudah berkali-kali sampai dia hafal, aku lebih banyak lemas karena lapar hahahahha). 

Ada satu kejadian yang membuatku sampai hari ini selalu menutup muka saking malunya. Dulu, saat awal-awal aku pacaran dengan dia, bapak dan ibu masih tinggal di Jogja. Saat itu aku datang menghampiri ia di rumah Jogja, ia memperkenalkan bapak dan ibu kepadaku. Kebetulan bapak dan ibu kan punya rumah makan. Aku sering makan disana tapi kata dia, gak usah bayar. Aku bingung, tapi sering nitip uang ke Ryan buat bayar. Aku mungkin terlalu polos kali yak. Ibu dan Bapak ini selalu tersenyum dan baik kepadaku. Sampai berbulan-bulan itu terjadi dan aku sama sekali tidak terpikir bahwa ia bapak dan ibunya mas ryan.

Sampai suatu akhir pekan, mas ryan mengajakku untuk ke pulang ke rumah asalnya. Aku waktu itu menyanggupi, oke. 

Begitu sampai rumah, yang kulihat adalah bapak dan ibu yang punya tempat makan. Astaga...

Sumpah, aku cuma melongo sambil menunjuk dan menoleh ke mas ryan. Lalu aku minta izin ke belakang rumah, lalu mas ryan menghampiriku ke belakang dan bilang;

"Kamu memang perempuan paling ajaib yang pernah ada"sambil memandangku datar

Lalu aku bilang

"Terima kasih atas sanjungannya" sambil senyum kecut ke mukanya lalu berjalan tertunduk mengikutinya...

Berbulan-bulan, aku bahkan tidak menyadari itu adalah calon ibu mertuaku, dasar!




-___-

 Aku pernah bertanya kepada suamiku, dan sebenarnya ini membuatku tersenyum sekaligus pengen lempar rambutan ke dia (tentu tidak kulakukan)

"Dulu, saat kita pacaran, kamu kan tahu sainganmu banyak. Bahkan saat kamu mengajak aku menikah, ada 2 orang lain yang mengajaku menikah juga. Dua-duanya juga sudah mapan, lebih ganteng juga. Dan aku baru sadar, kamu satu-satunya yang sepertinya tenang, dan tidak terpengaruh apapun yang dilakukan cowok-cowok itu? Why you can be so calm? Is it very competitive, don't you feel like that? 

"Hmm...karena aku tahu, aku akan jadi pemenangnya, sekalipun mereka melakukan hal-hal yang konyol untuk merayumu".

Aku : -_____- (pengen kulempar rambutan!)

Minggu, 16 Januari 2022

Lorong

Ada banyak kenangan buruk yang kuingat dimasa kecilku, yang kulihat sebagai hal yang paling mengerikan didalam rentang kehidupanku. Tembok yang menutupi tubuh dan rasa terkoyak ketakutan, sepi dan kesakitan. Apa yang kurasakan adalah nyata. Aku tak bisa mengubahnya saat kecil, tapi aku punya kesempatan untuk menerobos lorong mengerikan itu hari ini, agar aku bisa menatap masa depan dengan tabah dan kuat.

Ada banyak kesepian yang kutanggung.

Ada banyak rasa takut yang menyeregap

Kupikir akan hilang dengan berjalannya waktu.

Tapi ternyata ia tak cukup tanpa disertai pengertian dan penerimaan

Sabtu, 15 Januari 2022

Kenangan

Ketika aku menuliskan blog ini, hatiku masih dibayang-bayangi kenangan pahit masa lalu. Berupaya untuk menerima dan mengikhlaskan yang telah terjadi bukan hal yang mudah dilakukan. Banyak hal yang kubiarkan untuk terjadi sebagaimana alam menginginkannya tapi ada sebagian yang lain yang terlalu lama kusimpan dengan rapi dan hanya aku bisa kukeluarkan lewat tulisan.

Entah berapa lama aku telah menyimpan luka dan tidak menjadi dewasa karen selalu teringat dan tidak bergerak dari luka. Terlalu banyak yang kutanggung hingga aku yang awalnya adalah sosok kuat lama kelamaan menjadi ambruk dan tidak berdaya dihadapan depresi.Sesungguhnya, keperihan dan kesedihan selalu menghantuiku sejak lama dan aku berupaya senantiasa bangkit untuk bisa menerimanya sebagai proses alamiah didalam kehidupan, namun sayangnya tak semudah itu. Ia ibarat palu godam yang terus menerus menekan tanpa henti. Yang lebih menyedihkan palu yang menekan itu berasal dari keluarga terutama ibuku.

Malam-malam sambil melihat langit, aku tahu, aku telah berjalan sejauh ini meski dengan sempoyongan. Tapi aku memutuskan untuk tetap berjalan meski berpeluh luka sana-sini. Aku selalu bertanya pada diriku sendiri? Apa aku akan kuat menanggungnya? Luka-luka itu terlampau mengerikan dan penuh dengan rasa dingin. Mungkin yang kusebut dingin ini adalah kebencian, ketidakadilan dan rasa dibedakan. Andai aku tahu bahwa awal mula kehidupanku adalah penolakan, andai aku mau menerimanya dengan baik, tapi penolakan juga tak bisa dikatakan sebagai sebuah hal yang normal. Lagi pula, semakin kesini aku makin menyadari bahwa sebagian besar yang kurasakan hari ini adalah penderitaan yang diberikan Tuhan, dimana aku harus belajar syukur ditengah penderitaan. Seluruhnya, aku tahu, bahwa aku harus menikmati nikmat pada hal-hal yang amat minim. Rasa-rasanya bukan hal yang gampang melalui itu semua. Terlalu lama dalam keperihan dan rasa sakit membuatmu benar-benar merasakan mati rasa atas kehidupan. Selama puluhan tahun aku berupaya bangun, membangun dayaku sendiri meski akhirnya aku terjatuh dan terjerembab lagi.

Puluhan kali aku telah dibuat patah hati oleh ibukku sendiri. Ia tentunya tak pernah menginginkan aku menderita, tapi perasaan melindungi kerapkali justru berakhir dengan patah hati. Ini yang kualami dan kurasakan. Sesuatu yang lebih rumit untuk dimengerti. Bahwa ibuku memutuskan untuk mengabaikanku dan membagi cintanya dengan yang lain, melewatkan aku untuk bisa tumbuh dengan kedekatan, adalah sebagian penyesalan yang mungkin harus ibu terima dialam sana. Melihatku penuh kekecewaan dan kemarahan, tapi juga berupaya untuk memaafkannya dan menerima takdirNya.

Aku mengerti, hidup tak selalu liniear dan kadang jalan buntu. Kadang kita harus merubah haluan untuk memahami satu maksud. Kerapkali juga kita didudukan dalam keadaan untuk memilih satu hal yang terburuk dari hal yang paling buruk. Tapi lagi-lagi, pengertuan ini hanya bisa dimengerti dengan mengolah rasa. Hidup secara membabi buta membawa kita pada keadaan gersang, kosong untuk ditanami dengan kebaikan, ditumbuhi dengan kebijaksanaan dan menikmati buah kedewasaan setelah kita mengolahnya dari yang gersang, kering dan tak berupa kehidupan.

Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah

Saat aku depresi berat di 2020, dimana tangan manusia tidak mampu lagi menolong, krisis diri ini membawaku pada satu permintaan tolong kepad...