Selasa, 02 Maret 2021

Ibu #1

Selama bertahun-tahun, inilah mungkin tahun dimana aku akan membuka semua tabir yang kusimpan rapi dalam batin, diri dan jiwa didalam diriku. Sudah saatnya aku menumpahkannya karena orang yang selama ini membuatku meratap tapi sekaligus kusayangi telah pergi. Ibuku.

Tulisan di blog ini aku buat untuk menerapi diriku sendiri. Menuangkan semua derita yang pernah kualami sebagai anak dan relasi ibu anak yang berimbas pada hubungan kami yang up and down dan diakhiri dengan kepergiaan yang menurutku tragis dan menyakitkan. Aku tidak pernah menyangka kami dipisahkan seperti ini, saat dimana aku mulai menerima ia apa adanya sebagai seorang Ibu.

Aku membenci ibuku. Itu yang pertama ingin kukatakan sebagai anak. Aku bahkan sudah merasa ia ibu tiri yang jahat sejak aku berusia 5 tahun. Sejak semua tragedi keluarga terjadi dan baru kutahu, ia juga seperti aku karena keadaaan.

Ibu orang keras. Orang kokoh dan teguh. Orang punya keinginan yang tak bisa dipengak kalau orang Jawa bilang. Tapi kelak, setelah aku dewasa aku tahu, sisi inilah yang membuat keluarga kami bakoh, diterpa badai seberat apapun hingga kepergiaanya.

Ibu lahir sebagai anak ke 4, dari Mbah Joyo. Seorang perempuan yang juga merasakan jurang kehancuran saat ditinggal mati suaminya di masa sangat muda dengan meninggalkan 7 orang anak. Saat Mbah Joyo kakung pergi inilah, aku tahu ibu sebenarnya goncang secara psikis hingga ia dititipkan kepada kakak pertamanya karena mbah Joyo putri sudah tidak kuat menanggung beban ekonomi dengan anak yang cukup banyak sementara suaminya meninggal.

Ibu sendirian. Ibu bertahan dengan ketidakmampuan finansial orang tuanya dan mungkin juga menanggung derita yang kuat karena juga tak mampu membagi apapun dengan siapapun saat itu hingga mungkin ia baru bisa menjadi lebih ayem ketika menikah dengan Bapak. Ibu dan Bapakku menikah juga bukan dengan perkara yang mudah. Keluarga bapak menentang pernikahan itu karena Ibu dianggap keluarga yang tidak lengkap dan keras. Hanya mbah kakung dari Bapak yang menerima Ibu apa adanya. Itulah kenapa Ibu begitu terpukul ketika mbah kakung dari Bapak pergi karena ia merasa bahwa mbah kakung adalah pengganti Bapaknya. 

Ibu bertahan dan bertahan dengan banyak situasi sulit. Ia memutuskan tidak sekolah, hanya lulus SD demi mengalah untuk adik-adiknya. Ia berdagang, menggotong daun jati, berjalan puluhan kilo untuk bisa berjualan apapun agar ia bisa makan dan memberi makan adik-adiknya. Saat menuliskan ini, aku meneteskan air mata. Meneteskan air mata kepedihan betapa hidupnya tak mudah dan bagaimana ia pasti berusaha keras agar aku menjadi orang berhasil dengan cara yang cukup keras. Walaupun itu juga membutuhkan air mata kesedihan untuk melepaskan seluruh dendam, kebencian dalam relasi kami yang akhirnya aku tahu, ia cinta yang sepaket dengan sakitnya pula.

Aku ingin mengakhiri dulu tulisan ini karena aku belum kuat lagi menulis karena akan ada banyak hal menyakitkan yang selama ini kusimpan sendiri sebagai anak akan kugoreskan dalam pena. Ini cara satu-satunya cara yang kupunya selain ke psikiater untuk memaafkan segala hal yang terjadi dalam relasi kami sebagai ibu dan anak. 

Al Fatihah untuk Ibu

Jumat, 26 Februari 2021

Melepas itu juga belajar membahagiakan

Akhirnya aku menuliskan ini, ini masa-masa yang paling berat didalam kehidupan yang memukulku telak secara psikis dan berpengaruh ke fisik. Aku ingin berbagi ke teman-teman agar aware sejak awal untuk segera mencari pertolongan ke psikolog atau bahkan ke psikiater jika dirasa membutuhkan bantuan. Semakin lama menunda, teman-teman hanya meledakan bom waktu yang nyalanya seperti bom atom.

Pertama, sejak pandemi, saya yang biasa traveling untuk bekerja terkungkung didalam rumah dan ini membuat saya secara psikologis frustasi. Maret minggu terakhir saya menangis tanpa alasan yang jelas karena merasa tidak berguna. Dan ternyata itu hanya permulaan. 

Bulan april-mei saya mulai ikut kegiatan di Panggungharjo, menyiapkan kongres kebudayaan desa. Ini membantu saya pulih secara psikis karena bekerja kembali. Tapi Allah berkata lain, tepat disaat saya mulai menyiapkan kongres kebudayaan desa, menyiapkan TOR menulis sana-sini, Ibu berpulang.

Ibu koma 2 hari dan meninggal. Ibu kena stroke dan dimakamkan dengan protokol covid-19. Saya waktu itu tak menangis, kebingungan, tertegun, tak sadar entah jiwa saya kemana hingga saat ini. Saya merasa bukan saya. Saya merasa tak lagi sama. Saya hilang, diam, terjerumus dalam lubang yang tak saya mengerti.

Bulan Juli-November semua kegiatan Kongres diikuti Festival Inklusi terlalui dengan baik meski saya tertatih. Saya masih bisa berjalan. Tapi semua meledak ketika bulan desember.

Desember awal saya kena ISK, setelah saya telaah jauh bakterinya sangat sedikit. Tapi saya mengalami kesakitan luar biasa di punggung. Saya cemas dengan kondisi saya sendiri ditengah pandemi. Akan saya  ceritakan kronologisnya biar teman-teman aware bahwa ini bukan proses normal orang sakit fisik. 

Pertama, saya tes lab di RS Pemerintah di Kota Jogja, hasil lab menunjukan ada kristal di urine saya. Saya panik, kemudian esoknya saya ke puskesmas Sewon dan oleh dokter di rujuk ke RS Swasta di Bantul ke dokter urologi. Di dokter urologi, semua di cek dan tak ada masalah. Obat saya minum tapi perasaan saya, tubuh saya tak kunjung membaik. 

Saya langsung panik dan lari ke RS Panti Rapih masuk IGD dengan diagnosis yang sama ISK. Tapi dokter ingin mengecek keseluruhan, saya di USG perut atas dan bawah dengan diagnosis ISK tapi ada dugaan cairan cavum douglasi sehingga esoknya saya di rujuk di dokter obgyn. Esoknya dokter obgyn mendiagnosa tak ada masalah dengan rahim saya dan diberi obat ISK. Selama pengobatan lebih dari 4 kali saya memeriksakan diri ke dokter umum agar ISK saya cepat sembuh, cek lab dst. Hingga hari dimana saya merasakan kesembuhan dan pulang kembali ke rumah, saya didera sakit punggung yang luar biasa menyakitkan. Saya panik, suami saya langsung mengantar kembali saya ke IGD Panti Rapih. Disana saya langsung di rontgen punggung dan paha saya dan tak ada masalah. Sampai akhirnya dokter sendiri pusing dengan kondisi saya. Suami saya sudah bilang saya psikosomatis dan meminta di rujuk ke psikolog.

Setelah 1/2 bulan membaik, serangan nyeri datang kembali, kali ini ke gigi geraham. Gigi geraham saya nyeri hebat hingga saya mendatangi 2 dokter gigi dan 1 dokter di RSGM. Sampai rontgen gigi tanpa ada apapun yang sakit. Saya makin kebingungan, hingga suatu malam kepala saya sakit sekali dan saya udah pamitan kalau gak kuat ke suami. Ia langsung sholat dan diam. Karena seumur-umur saya sebagai istrinya tak pernah mengeluh seperti itu. Artinya itu tanda bahwa saya benar-benar kesakitan. 

Esoknya aku berinisiatif mencari dokter akupuntur. Bertemulah dengan dokter david, ia adalah dokter akupuntur yang belajar kedokteran timur. Darinya, ia langsung bilang. Ibu, ibu kena psikosomatis. Silahkan cek di 2 dokter untuk komparasi, bisa ke syaraf dan langsung ke psikiater. 

Lalu dari dokter syaraf panti rapih, dr Ersa mendiagnosa bahwa sakit kepala saya sama sekali tak berpola. Ini benar-benar psikosomatis. Ia langsung meminta saya ke psikiater dan dibawa ke pak wahyudi.

Di psikiater inilah semua masalah terbuka. Saya njempalik alias depresi dan cemas karena kondisi kepergian Ibu. Njempalik senjempalik jempaliknya kata orang Jawa. Kosmik saya berantakan. Pakde saya yang punya ilmu batin hanya geleng-geleng bahwa seandainya suami saya bukan Ryan atau belum menikah mungkin saya sudah sampai RSJ saking goncang ditinggal Ibu. 

Dulu 6 bulan awal saya masih baik, tapi 6 bulan setelah kepergiaan inilah masa krusial. Rasa bersalah, rasa tak terima, saya melempar buku, memukul tembok, menyalahkan keadaan, menangis dengan intensitas puluhan kali dan membuat saya kelalahan. Saya merasa dihantui rasa kesedihan yang tak saya mengerti. Pertanyaan kenapa Ibu harus pergi? Kenapa ia harus pergi tanpa aku pernah melihat. Segala pertanyaan itu yang tak pernah ada jawabannya hanya aku pasarahkan dalam trantum dan memukul-mukul benda yang ada di sekitarku.

Malam, ketika kesedihanku benar-benar memuncak tak karuan, aku menelepon pakde. Orang yang secara spiritual memiliki lelaku yang kuat. Beberapa hari yang lalu aku diberi mimpi, bapak datang. Bapak biasanya datang kala aku benar-benar sudah kebingungan dengan kondisi kehidupan yang tak kumengerti. Ia mengajakku naik bukit tinggi hingg aku ngos-ngosan tanpa bisa bernafas. Ia mengajakku sampai puncak dan bertemu mata air. Meminumnya dan ia kemudian pergi tanpa kata. Aku bilang, pak aku capek dalam mimpi itu. Ia bicara dalam diam, kamu bisa. Meski tak mudah.

Saat menulis ini, aku menarik nafas dalam-dalam. Pakde bilang, Ibu sudah baik banget disana. Sudah dipapapake dengan tenang. Tinggal kamu yang goncang. Ibarat jabang bayi, jiwa saya entah kemana. Mata saya bukan saya kata suami saya. Tatapan kosong, kehilangan arah. Saya biasanya berusaha kembali dengan mudah, tapi ini tak bisa lagi. Pakde ingin saya puasa weton, mengembalikan lagi kosmik saya yang hilang. Yang goncang, yang hilang, yang penuh dengan kesedihan, penuh kekelutan. 

Kini minimal saya sudah tidak trantum dan menangis. Tiap kali  saya ingat kesedihan itu, saya berdoa Al Fatihah mungkin berulang, ratusan kali, berdoa agar doa itu sampai ke Ibu. Tapi itu membuat saya tenang. Perkataan Pakde bahwa Ibu sudah tenang disana membuat psikis saya lebih baik. Selama ini saya selalu dihantui perasaan apakah ia bahagia disana? Apa ia baik selama 4 bulan tak melihatku karena covid-19, apa ia merasa menyesal? Segala pertanyaan yang tak pernah ada jawabannya? Hingga aku tahu, jawabannya hanya pemaafan dan ikhlas. Sulit sekali merasakan kenyataan bahwa Ibu dan saya dipisahkan dengan cara yang menurut saya tragis. Melindungi tapi ditinggal pergi, tanpa pesan. Tanpa kata. Hampa. Kosong. 

Sekarang saya sudah terapi akupuntur dan ke psikiater. Kondisi progress saya jauh membaik. Teman-teman, pandemi ini bukan perkara mudah. Kehilangan keluarga, pekerjaan, kecemasan, takut, kalut pasti dialami semua. Aku hanya ingin bilang, jika memang kalian butuh bantuan, segera cari bantuan. It's oke not to be oke di masa pandemi. Hasil riset-riset pun juga mengatakan bahwa depresi meningkat 3 kali lipat. Kita tidak dalam masa baik. Penanganan sejak dini membantu benar agar kita bisa sembuh. Kita gak gila kok kalau ke psikiater. Kalau teman-teman mau tahu, 1 dokter yang menanganiku, dalam 1 hari ia bisa menangani 120-150 pasien. Saya termasuk bisa ngobrol dengan dokter dan dia sungguh supportif bahwa saya pasti sembuh asal stabil di Ibu. Semua rasa sakit yang saya alami, murni adalah gejala depresi dan cemas. Wajar dikondisi kayak gini. Saya beruntung bisa tertolong. Kata dokter akupuntur pun ia bilang, pasien saya banyak yang psikosomatis dan mungkin banyak yang tak terdiagnosa diluaran sana. Bersyukurlah Ibu bisa sedini mungkin mencari pertolongan. Kami-kami (Psikolog, psikiater, perawat jiwa, dokter akupuntur) adalah orang-orang yang mendapat cipratan awu dari pandemi karena ternyata masalahnya holistik, bukan semata orang sakit fisik. Tapi aku selalu yakin, akan ada cahaya ditengah gelap segelap apapun. Aku hanya butuh proses untuk sembuh. Menerima kepergiaan orang terkasih, yang darahnya mengalir di darah kita bukan perkara mudah. Apalagi dimasa pandemi. Tapi bukan berarti gak bisa ya, aku pelan sudah menerima bahwa memang Ibu sudah pulang. Meski ya pelan. Aku masih ada rasa semi-semi tak rela dan itu alamiah sebagai seorang anak melepaskan ia pergi. Tapi, ia sudah pulang dan kadang yang menyakitkan adalah ia harus pergi tapi yang melegakan, semakin cepat aku mengikhlaskan ia akan pergi dengan baik. Dilema ya, ya kadang  hidup tak memberi pilihan yang enak. Termasuk ketika aku akhirnya belajar menerima bahwa melepas itu juga belajar membahagiakan :)

Selasa, 05 Januari 2021

Allah Penyelamatku, Muhammad Penerangku

Hari -hari ini aku merasa dihantui oleh rasa kesedihan dan ketakutan. Rasa ini tak pernah aku bisa pahami sepenuhnya terutama semenjak aku melakukan terapi psikologis karena kepergian Ibu. Aku sempat jatuh sakit ISK tapi efek psikologisnya sangat berasa. Mungkin ini juga diperparah dengan pandemi. Hormonalku berantakan. Mens ku sedikit. Aku menjadi kalut dengan tubuhku sendiri. Aku tidak relaks dan santai. Ini mungkin efek beruntun dari semuanya.

Aku merasakan kegelisahan dan trauma mendalam atas apa yang terjadi didalam hidupku. Melihat Bapakku jatuh sakit stroke, kakak perempuan yang mengalami KDRT, kesendirian yang bertahun-tahun kuterima sebagai sebuah takdir. Ibu yang harus menanggung beban psikis. Hingga aku menjadi mendendam pada banyak hal yang mengecewakanku. 

Semuanya hanya akan bisa kulalui ketika bisa memaafkan diri sendiri, memaafkan orang yang menghancurkan semuanya. 

Malam ini aku berusaha istighfar dan memahami semua kekalutan yang kuhadapi pasca kematian Ibu. Semalam aku menangis. Suamiku mencoba menenangkanku tapi aku acuh. Aku tak sempat merasakan kedukaan karena sibuk dengan bekerja karena deadline yang bertubi-tubi. Tak kusangka,efeknya baru hari ini kurasakan. Aku sejujurnya amat lelah dengan segala rutinitas dan tekanan kedukaan ini. Akan tetapi semua harus aku hadapi dan tak boleh aku berlari. Ibu nyatanya juga tak bisa kembali. Ia sudah bersama Bapak. Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa Ibu bahagia dan tenang disana. Meski itu juga butuh waktu.

Makin kesini, aku makin memahami bahwa kedukaan hanya bisa selesai bersama dengan waktu. Bersama dengan doa, keikhlasan dan kesabaran. Kuncinya sama seperti apa yang selama ini Ibu lakukan untukku yaitu dengan cinta. 

Air mataku benar-benar meleleh ketika mengingat segala perjalanan berat yang kulalui sebagai seorang manusia. Takdirku keras. Segala yang kucapai tak pernah mudah didapat. Aku tahu itu. Dalam banyak tangisan, aku diberi jalan terang untuk selalu meminta pertolongan hanya kepada Allah dan kepada Rasulnya Muhammad. Entah, mungkin itulah kekuatan murni yang ada di lubuk hatiku yang paling mendalam. Saat-saat perih dan ketakutan itu datang menghampiri, aku hanya minta satu pertolongan hanya ke Allah dan Rasulnya. Hingga hari ini, aku hanya bertahan dengan itu. Allah-Allah dan Allah. Muhammad-Muhammad-Muhammad. Yang aku percaya, hanya dengan cahaya dan cinta dari Merekalah aku bisa selamat dan bertahan hingga hari ini.

Minggu, 03 Januari 2021

Al Fatihah

Ada banyak kesedihan yang harus terjadi di hidup.

Rasa-rasanya tak habis ia menghampiri di tahun yang berat ini.

Ingin rasanya aku menangis tapi tangis hanya meredakan beban sesaat.

Aku hanya ingin mengingat Ibu.

Mengingat pelukannya dikala aku benar-benar gundah tentang dunia.

Dunia terasa berat ya Bu.

Tanpa Ibu, semua sepi, senyap dan hening.

Hanya rapalan doa yang mampu ku ucap dari mulutku.

Al Fatihah

Minggu, 06 Desember 2020

Jalan Terang

 Allah ku yang Maha Baik, Maha Pemberi, Penyayang.

Selama dua hari, entah apa yang Engkau bawa kepada hamba. Hujan tangis yang tak henti-hentinya ditengah sakit menstruasi. Malam-malam yang tak kumengerti dan penuh kepedihan. Teringat almarhum Ibu.

Ditengah kesakitan di perut, sepertinya Engkau memintaku untuk mengingatMu, Ya Rabb ku. Malam mendung tanpa bintang kuhabiskan untuk memahami kegundahan yang kau berikan kepada hamba. Kepada hamba yang kecil dan kerap tak berdaya menghadapi cobaan-cobaan yang Engkau beri.

Dalam kesedihan berlindang air mata dengan sakitnya perutku, pikiran yang entah bagaimana membayangkan tentang sakit dan kematian. Aku hanya meminta kepadaMu ya Rabb, beri aku tanda-tandaMu.

Sejurus kemudian Engkau memberikan penjelasan dengan tulisan di KalamMu. 

"Berprasangka baiklah"

Sekujur tubuhku merinding dan menangis. Mengingat betapa hamba hanya makhluk kecil, yang seringkali berharap keajaiban dari Engkau. Berharap syafaat dari Rasul. Meminta perlindungan dan pertolongan hanya kepadaMu.

Kini satu langkah Engkau berikan kemurahan ilmu kepada hamba untuk berprasangka baik atas segala yang terjadi pada hidup hamba. Untuk menyerahkan sepenuhnya kehendak Engkau terhadap hamba. 

Kematian Ibu, seharusnya hamba rasakan sebagai cara Engkau menyayangi beliau. Beliau sekarang dekat dengan Engkau. Betapa banyak kehangatan dan cahaya yang Engkau pancarkan kepada Ibu. Sementara disini aku lebih banyak menangis menahan rindu. 

"Engkau mengajari bahwa segalanya tak perlu Engkau khawatirkan. Seluruh hidupmu, seluruh takdir, dan kehidupan serta akhiratnya sudah Aku atur, engkau tak perlu khawatir. Tak sejengkal pun Aku tak menjaga apapun yang sudah menjadi kuasaKu atas makhluk"

Semenjak 30 tahun dilahirkan di dunia, hamba kerap kekanak-kanakan dan berbuat yang tak baik. Izinkan aku menjadi manusia yang baik. Memelihara kehidupan dengan kebaikan. Memelihara diri dengan berpuasa. Hamba ingin dan kuatkan hamba. Jaga hamba dan lindungi hamba. Mungkin ini hanya kecil dibandingkan dengan segala nikmat dan kebaikan yang Engkau beri kepada hamba. Tapi izinkan hamba mengabdi kepada Engkau dengan menjadi khalifah yang baik ya Rabb, Ya Allah SWT.

Bismillahirohmanirohim...

Selasa, 01 Desember 2020

Surat Kebahagiaan untuk Ibu

Hai Ibu

Saat aku menulis surat ini, aku masih kebingungan kemana alamat surat Ibu. Sampai ada sesuatu yang berbisik ke telingaku, "Ibu ada di darahmu, tak kemana-mana"

Aku hanya menghela nafas dan mengusap air mata. Ibu, dulu aku siap untuk menulis surat untuk Bapak. Tapi rasa-rasanya jemari ini tak kuat menuliskan kata-kata, meyakini bahwa Ibu telah tiada dan aku berkirim surat tanpa tujuan.

Ibu, aku mau bilang, hari ini Nduk sudah mewujudkan salah satu mimpi Ibu. Ibu, hari ini aku sudah menyelesaikan tanda jadi untuk membeli tanah di Bantul. Aku beli tanah Bu di daerah Bangunjiwo. Dekat Tugu Gentong Bu. Alhamdulillah uangnya juga cukup. Gak nyangka ya Bu, bulan Juni saat ibu pergi, aku masih kebingungan mencari uang buat beli tanah dan sekejap setelah Ibu pergi, semua jalan rezeki terbuka. Ibu bilang ya sama Allah untuk melancarkan keinginanku? Ya, Ibu kan sekarang dekat sekali sama Allah.

Aku jadi ingat ya Bu. Dulu waktu swargi Bapak meninggal, aku justru bisa keluar negeri. Terbang tinggi sesuai mimpi Bapak.

Oh ya Ibu, doain ya 7 Desember nanti AJB dan Balik Nama tanah. Ukuran tanahnya lumayan untuk bangun rumah, 118 meter Bu. Rencanaku semoga dalam 1 tahun ini segera bisa membangun ya Bu. Aku minta doa Ibu agar bisa memohon juga sama Allah agar dimudahkan rezekimu. Aku pengen mewujudkan mimpi Ibu agar kami punya rumah tanpa hutang, sesuai dengan pesan Ibu dulu.

Saat 3 tahun lalu mungkin Ibu takut, aku akan kenapa-kenapa karena suamiku difabel. Saat membeli tanah pertama di Kulonprogo, justru suamikulah yang minta persetujuan Ibu. Saat beli mobil jazz dulu,ibu hanya lihat secara virtual aja. Meski didalam mimpi akhirnya Ibu datang ngajak Budhe lagi naik mobilku umpek-umpekan di jok belakang. Betapa bahagianya Bu diriku, meski hanya dalam mimpi.

Hari ini, aku pulang dengan mata sembab, berangan andai ibu masih ada. Tapi lagi-lagi sahabatku Didi mengingatkanku

"Lakukan ritual yang sama dengan cara yang berbeda. Tetap kabari Ibuk dengan cara ternyamanmu sekarang. Yakini ibuk menerima kabarmu"

Makanya aku langsung menulis ini untuk Ibu. Hatiku terasa lebih ringan Bu. Ada lautan doa yang akan selalu kucurahkan ke Ibu dan Bapak disana. Ada banyak hal yang akan selalu kutuliskan untuk melepaskan rinduku kepadamu Ibu.

Sembah Pangabektiku Kagem Ibu lan Bapak.

Gusti pemilik Jagad, doa kulo kagem Ibu Sudarmi kalian Bapak Juri Suharto. Swargi kanthi tentrem lan langgeng. Al Fatihah

Kamis, 19 November 2020

Long Journey of Trauma

Menerima diri sendiri itu ternyata jauh lebih sulit dari yang kukira. Memaafkan masa lalu juga ternyata tidak mudah. Setelah kepergiaan Ibu secara mendadak, ada trigger besar yang membuat saya memiliki kontrol emosi yang rendah dan mood swing yang hebat. Selama berbulan-bulan saya menahan diri dan mengenali kembali apa yang terjadi didalam diriku. Ada masa-masa dimana aku sangat mudah untuk menangis dan terpukul sendiri atas apa yang aku perbuat.

Kesedihan-kesedihan itu telah banyak merundung kehidupanku selama ini. Hingga ada suatu keberanian besar yang akhirnya aku ambil untuk kembali lagi mendatangi psikolog. Ini adalah satu langkah yang akhirnya kuputuskan aku ambil karena aku ingin makin yakin bahwa ada hal yang tidak beres menghantuiku. 

Oh ya, sebelum ke psikolog, selain mood swing dan kontrol emosi yang buruk, aku sering terbangun ditengah malam dan dalam sekali waktu menangis entah disebabkan oleh apa, tak jelas.

Sejujurnya kedatanganku ke psikolog sudah cukup mantap atas diskusi dengan suamiku. Ia pasti lelah juga mendapati diriku yang kontrol emosinya makin parah. Hanya diawal kepergianku ke psikolog, ia tak kuberi tahu. Ketika pulang baru aku cerita segalanya.

Di psikolog, aku melakukan analisa mendalam atas masa lalu yang aku alami. Aku berkata kepada psikolog bahwa yang tidak beres bukan orang lain tapi diriku. Masalahnya ada didalam diriku. Aku membutuhkan penegasan dan bantuan untk melakukan pemetaan atas apa yang terjadi didalam diriku sendiri.

Satu per satu, menggunakan alat bantu papan catur, aku diajak menengok kembali segala masalah yang pernah terjadi didalam hidupku. Titik goncangan awal kuterima tahun 1995, saat seluruh tatanan kehidupan keluarga berubah. Dimana kakakku perempuan menikah dengan laki-laki yang tak bertanggungjawab hingga hari ini dan ia masih terjebak didalam kekerasan dalam rumah tangga. Ibu tak menyetujui pernikahannya sedangkan bapak melunak karena tidak tega dengan anak yang tengah dimabuk cinta. Aku sendiri setelah dewasa mengira keputusan kakak perempuanku menikah adalah murni karena kekerasan seksual. 

Setelah ia menikah, ibu lebih banyak menjadi pribadi yang tak kuat mengontrol emosi. Pelampiasannya adalah kepadaku. Selama puluhan tahun, aku menyimpan kedukaan yang panjang. Selama bertahun-tahun itu pula, sosok yang selalu kujadikan tumpuan adalah Bapakku. Ia yang kuanggap sosok yang menjadi malaikat penyelamatku. Hanya saja, itu tak berlangsung lama. Ketika tragedi kembali terjadi tahun 2000 ketika kakak perempuan dengan laki-laki yang tak bertanggungjawab itu terjerembab kedalam hutang hingga ratusan juta dan mengguncang keluarga kami. Bapak shock, menjual seluruh aseetnya dan kemudian terkena serangan stroke.

Kondisi bapak stroke membuatku hidup dalam kerentanan secara psikis. Diusia 12 tahun aku menahan benar tekanan untuk sekolah tapi disaat yang sama mendapati orang tua yang sakit. Di tahun-tahun setelahnya bapak berkali-kali terkena serangan stroke. Ini membuatku lebih banyak berdiam diri dan mengurung diri. Secara sosial aku sangat mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial meski terpaan masalah keluarga sangat bertububi-tubi. Aku menyalurkan segala kemarahan dan kekecewaan yang ada didalam keluarga dengan segala tragedinya dengan belajar dan berjuang terus meraih mimpi-mimpiku. 

Kehidupan makin tambah pelik ketika kakak laki-lakiku justru menganggap perbuatanku untuk mandiri dianggap melawan ibuku. Aku memutuskan bekerja karena tahu bahwa biaya pengobatan bapak akan menguras kantong perekonomian keluarga. Hingga aku mengambil alih sepenuhnya hidupku dengan bekerja sebelum aku lulus kuliah meski akhirnya skripsiku kedodoran. Aku membiarkan semua pelampiasan, judgement yang muncul dari ibu dan kakak laki-lakiku sebagai omongan lalu. Mungkin saat bapak yang sudah tak bisa bicara tahu bahwa aku memanggul teralu banyak pelampiasan dan rasa marah dari Ibu dan kakakku atas konflik yang terjadi dari pernikahan kakak perempuanku. Tapi suasana Jogja membuatku tertolong, aku merasa inilah rumah, kebebasan sekaligus kegelisahanku tentang apa yang disebut kehangatan keluarga. Dengan segala gemblengan itu, di kota pelajar ini aku menjadi sangat mandiri untuk mengerjakan banyak hal, menghidupi kehidupanku sendiri, dan berdiri diatas kakiku sendiri meski kadang goyah dengan goncangan-goncangan yang ada. 

Saat bapak meninggal, itulah masa paling hitam didalam hidupku. Tahun 2012 adalah titik paling nadir didalam hidupku. Ia yang kusebut malaikat telah pergi, mangkat setelah menungguku pulang. Ia menungguku. Ikatan batin yang kuat membuatku paham untuk segera mengikhlaskannya. Pergi untuk selamanya.

Saat ia pergi, aku merasa benar-benar tak punya lagi orang yang bisa memahamiku tanpa kata. Aku kehilangan pegangan kuat untuk hidup. Tidak ada orang yang mengenalku betul diriku selain Bapakku. Di saat genting itulah aku bertemu dengan suamiku sekarang, Ryan. Ia teman baik yang mau mendengar segala keluh kesahku. Tentang keputusasaanku untuk bisa bergairah lagi meraih apa yang sudah kurancang sebagai bagian masa depan karierku. 

Saat bapak pergi, aku dirundung duka yang cukup dalam hingga aku pergi ke psikiater. Aku merasakan ketidaknyamanan. Disaat yang sama relasiku setelah bapak meninggal dengan orang-orang rumah memburuk. Ini bentuk kekecewaan mendalam yang tak pernah aku ungkapkan, betapa hidupku akhirnya penuh dengan peluh dan kesedihan karena keputusan-keputusan sembrono, yang berakibat fatal pada mentalku. Apa aku kemudian marah? Reaksiku lebih banyak diam. Aku banyak menumpahkan semua ke Ryan, meski ada pula yang kusimpan dalam tangis pada malam-malam panjang. Dan sejak bapak pergi, aku gak pernah mau menikah. Kosong. Saat itu setelah 8 bulan bapak pergi, hubungan percintaanku juga kandas. Aku sendirian.

Dimasa-masa inilah aku benar-benar merasa terasing dari keluarga. Aku hingga hari ini tidak tahu benar apa yang membuatku bisa bertahan kala itu. Disamping itu, saat itu ada beberapa laki-laki yang mendekati dan mengajakku serius. Tapi lebih banyak aku juga urung. Aku paham, banyak hal yang tidak beres didalam diriku. Direntan juni 2013, setahun setelah bapak pergi, aku memutuskan lebih banyak menyepi, sendiri dan menikmati waktu untuk diriku sendiri.

Mungkin fase-fase juni-november 2013 ini lah aku merasakan keterasingan dari keluarga tetapi juga mengalami kegembiraan bahwa aku bisa menerima diriku sendiri. Jujur, pada malam-malam selama beberapa bulan itu, aku mulai belajar mengikhlaskan Bapak, mulai belajar menerima bahwa diriku sendiri adalah orang yang kesepian. Bahwa kesepian itu juga tak apa-apa. Aku juga makin dekat dengan Allah. Dalam satu momen, aku merelakan dan mengikhlaskan pelan-pelan segala kesendirian, ketakutan dan keterasingan itu dengan sadar bahwa memang itu takdir yang harus kujalani. Tak perlu lagi dihindari.

Tanggal 4 November, segala kepasrahanku dikejutkan Tuhan dengan menerima Ryan sebagai pacarku. Aku nyaman dengannya sebagai sosok laki-laki yang dewasa. Tapi sejujurnya aku tak sungguh-sungguh berniat berpacaran dengannya. Waktu itu, aku hanya berpikir, mungkin hubungan ini hanya akan bertahan maksimal 1-2 bulan saja. Lagi pula aku juga tahu, ia baru saja putus. Tak mungkin ia benar-benar mencintaiku. Namun, keisengan ini ternyata membuatku justru bertaruh banyak hal didalam kehidupanku.

Saat Ibu tahu Ryan pacaraku itu difabel, ibu menolak dengan keras. Hal ini membuat konflikku dengan seluruh keluarga meruncing. Aku tetap kukuh dengan pendirianku untuk tetap mendampinginya, berpacaran walau tanpa persetujuan. Sejujurnya aku juga tidak tahu mengapa alasan aku memilihnya dan mengapa aku berani bertaruh masa depan dengan menjadi pasangannya. Dasarku hanya keyakinan bahwa ia laki-laki baik dan mimpi. Mimpi beberapa hari sebelum ia melamarku secara personal, ada sosok yang mengatakan bahwa itu dia jodohmu. Dalam itu aku menatap punggungnya, ia memakai baju merah. Baju yang kukenal betul, ia menengok dan itu adalah Ryan.Sejak mimpi itu, aku hanya memiliki keyakinan yang cukup bahwa ia layak kuperjuangkan.

Butuh 3 tahun sampai akhirnya kami menikah. Menikah juga bukan hal yang gampang. Keluargaku penuh keraguan untuk percaya pada pernikahanku. Saat ryan melamar didepan ibuku, ia tak segera mengiyakan. Butuh beberapa bulan sampai akhirnya ibuku setuju. Penerimaan ibu untuk setuju mungkin juga erat kaitannya dengan dunia batinku sebagai orang Jawa. 

Saat itu, di hari kelahiran Nabi Muhammad, aku datang ke sebuah makam yang kuhafal betul sebagai tempat yang paling teduh selain Imogiri dan Giriloyo. Malam itu dari Condongcatur aku berangkat kesana. Ditanya oleh abdi dalem, aku hanya bilang ingin disini. Hingga ada rombongan peziarah datang dan mengajakku masuk ke dalam makam. Disana aku hanya mendoakan mereka yang telah pergi, dan merestui apapun yang aku lakukan, karena aku percaya mereka yang dimasa lalu selalu menangungi kita sebagai bagian dari masa depan. Setelah itu aku pulang ke rumah dan bertemu Ibu, entah kenapa ia tiba-tiba setuju.

Pada malam itu, saat ibu setuju untuk aku segera lamaran, aku naik motor sendirian. Melewati sawah dan memandang bulan. Begitu banyak jalan yang kulalui untuk bisa mendapatkan kebahagiaan. Aku tak pernah mudah mendapatkan apa yang menjadi pilihan-pilihanku. Tak jarang aku lebih banyak dicemooh atas pilihan-pilihanku. Aku banyak mengambil garis komando hidupku meski kadang terbentur tidak karuan. Aku ingin dunia paham, bahwa seorang perempuan harus menghidupi mimpi-mimpi yang ia percayai, meski dunia akan remeh terhadap pilihannya.

Pernikahan ini menjadi pernikahan yang membahagiakan bukan hanya untuk kami tapi juga keluarga. Sejujurnya, kedatangan Ryan didalam hidupuku adalah anugrah, cinta dan cahaya indah atas segala penantian, penderitaan, pendaman kesedihan dan kegelisahan atas segala yang kuhadapi dari usia 5 hingga 27 tahun. Aku tak pernah sebahagia ini didalam hidupku setelah usia 5 tahun. 

Riak-riak didalam pernikahan kami tak begitu banyak. Pernikahan ini berjalan sangat santai dan penuh dengan adaptasi. Goncangan sempat datang ketika akhirnya aku menumpahkan segala amaraku kepada laki-laki yang jadi suami kakakku karena kakakku kembali mengalami KDRT dan tinggal di rumah ibu selama 1 bulan. 

Emosi hampir 22 tahun itu aku tumpahkan dan amarah itu tak kuasa ku keluarkan. Aku sebenarnya ingin menahannya tapi tak bisa. Kakak laki-laki dan ibukku sangat terkaget, aku yang tak pernah marah menjadi seperti kesehatan dengan mengatakan laki-laki itu pembunuh bapakku dan hancurnya keluargaku. 

Aku sejujurnya takut ibu akan ambruk secara mental karena kakakku kembali mengalami KDRT. Seluruh keluarga kami menginginkan ia segera bercerai tapi ia memutuskan tidak demi anak. Ia kembali dan kami masih was-was sampai hari ini karena mereka ternyata juga memiliki persoalan pelik terkait keuangan dan kekerasan. 

Hingga 11 Juni 2020, pagi hari aku ditelepon bahwa ibu tak sadar diri dikamarku. Aku terkaget, temenung. Aura itu datang, suasana itu kembali menjelma seperti 14 Februari 2012. Ibu akan pergi, aku meyakini itu. Tepat 13 Juni 2020, pukul 16.40 Ibu pergi.

Jelas itu memukulku. Sampai saat aku menuliskan ini, mulutku masih kelu, mataku masih menahan air mata. Terbayang-bayang ibu, yang merindukanku tanpa pernah aku menemuinya. Ada rasa tersayat di batin. Meski disaat yang sama aku bersyukur, ibu tak mengalami sakit yang lama. 

Setelah kepergiaanya, ada ruang kosong didalam batinku yang tak pernah terisi lagi. Suatu malam, aku pernah duduk di pojok perpus rumah dan menangis karena aku merindukannya. Ibu tahu betapa aku bahagia sekali mendapatkan Ryan dan betapa ia bangga memiliki menantu seperti dia. Menantu yang selalu ia banggakan karena tak pernah ia mendapatkan perlakuan yang begitu baik dari menantu laki-laki yang perhatian terhadapnya. 

Ibu percaya benar kepada suamiku, termasuk urusan warisan, menengahi konflik keluarga kami, hingga menemani ibu operasi. Saat ini aku meyakini benar ia sangat bahagia melihatku, hanya tinggal aku harus mengikhlaskan beliau.

Dari psikolog aku paham, aku harus pelan-pelan memaafkan seluruh dendam, amarah, kesedihan terhadap semua, apalagi dengan laki-laki suami kakakku. Biarkan Tuhan membalas dengan caraNya. 

Aku harus bisa menata kembali seluruh mimpi. Membuat kembali peta hidup. Melakukan afirmasi dan relaksasi. Psikologku berkata bahwa aku sungguh-sungguh pribadi sangat kuat bisa bertahan dengan kondisi seperti ini dari usia 5 tahun. 

Segala kemarahan dan mood swing ini akan selesai jika aku melepaskan dan memaafkan semua hal yang pernah kualami. Masa lalu yang kujadikan pelajaran hidup.

Pelan-pelan, aku ingin bahagia dengan suamiku. Pelan-pelan membangun mental yang lebih sehat. Keluarga yang lebih assertif, kehidupan yang lebih santai. Aku juga berdoa jika Tuhan, Allah SWT berkenan memberikan kami keturunan, aku ingin anak-anak hidup dengan mental yang lebih sehat dan bahagia. Seperti kelakarku, kalau bapaknya ryansiip harusnya istrinya harus juga siip hehehehe

I hope ini akan jadi satu langkah awal. Oh ya selain afirmasi, psikolog juga memintaku mengalihkan segala emosi dengan afirmasi ke kegiatan positif. Jika mood swing dan kemarahan keluar, segera bergerak dan bernafas panjang karena itu sangat membantu. 

Ini jelas buka hal yang mudah tapi aku mau berubah. Aku ingin lebih sehat. Aku ingin suamiku makin sayang kepadaku, agar keluarga kami akan jauh-jauh lebih bahagia setelahnya. Beruntung, aku mendapatkan support luar biasa darinya setelah aku pulang dari psikolog.

Hari ini 19 November 2020, selang 7 tahun setelah aku mengiyakan lamarannya, aku ingin hidup jauh lebih bahagia dunia dan akhirnya bersamanya :)

Manusia Siput

Aku makin menyukai kelambatan. Sering bahkan terlambat dalam banyak hal di hidup. Ternyata Tuhan menuntunku makin pelan menjalani kehidupan....