Sore ini, aku mampir ke sebuah toko es krim. Entah kenapa, setiap kali merasa kangen dengan ayahku, aku selalu memakan es krim. Teringat dulu setiap kali aku menangis, ayah selalu membelikanku es krim. Hingga kemudian, es krim bukan semata terasa dingin dimulutku tetapi juga menenangkan hatiku. Es krim adalah lambang manis ditengah kehidupan yang rasa-rasanya lebih berasa pahit getir ketimbang sesuatu yang menyenangkan.
Nabi Saw bersabda; “aku dibuat mencintai”, cinta disini adalah anak rohani. Jika cinta harus ditempuh dengan nilai-nilai praktis, ketahuilah itu bukan cinta, tapi kehendak. Cinta berbeda dengan kehendak. [Ibnu Arabi, Fushusul al-Hikam; 4/259, 2/189 dan Dzakha’ir al-A’laq)
Kamis, 05 Januari 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
2009
Dunia rasanya berhenti, saat aku melepaskan dan menumpahkan cerita itu. Dada sunyi dan terasa sakit saat ada cerita diam-diam di bagi Bagia...
-
Aku makin menyukai kelambatan. Sering bahkan terlambat dalam banyak hal di hidup. Ternyata Tuhan menuntunku makin pelan menjalani kehidupan....
-
Mungkin akan selalu ada pertanyaan, mengapa aku bersedia menghabiskan waktu sisa hidupku dengan suami yang memiliki difabel kaki. Yang mungk...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar