Tadi pagi saat aku sedang menyetir, kepalaku melayang dan berimajinasi. Seperti biasa, saya mendapatkan tesis yang sederhana "betapa tidak amannya menjadi perempuan". Tesis ini saya dapatkan ketika saya tengah berbicara dengan ibu saya . Ibu saya memberikan wejangan maut yang membuat saya terkaget-kaget, yang membuat saya akhirnya menarik tesis betapa tidak amannya menjadi perempuan. Kisah hidupnya menjadi contoh betapa perempuan tak pernah aman dalam jejaring aman di masyarakat maupun secara individual.
Nabi Saw bersabda; “aku dibuat mencintai”, cinta disini adalah anak rohani. Jika cinta harus ditempuh dengan nilai-nilai praktis, ketahuilah itu bukan cinta, tapi kehendak. Cinta berbeda dengan kehendak. [Ibnu Arabi, Fushusul al-Hikam; 4/259, 2/189 dan Dzakha’ir al-A’laq)
Senin, 18 Februari 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Rindu
Duniaku runtuh setelah almarhum ibuku pergi. Hidupku tertatih. Menjalani hidup tanpamu, Ibu. Rasanya berat Berat sekali. Aku rindu ingin me...
-
Banyak orang yang bertanya kepadaku secara pribadi bagaimana ceritanya aku bisa remisi dari depresi dan anxiety. Sejujurnya, aku akan bilang...
-
Aku sangat berterima kasih kepada suamiku. Bersamanya aku serasa memiliki teman hidup dan kekasih yang kucintai setiap hari. Tidak hentinya...
-
Setelah kurasa-rasakan, aku selalu meminta tolong kepadanya saat membutuhkan sesuatu. Sepertinya dia hadir dalam hidupku untuk menolongku. B...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar