Hari ini aku banyak berbicara kepada inner childku. Bagi yang sering mengikuti blogku pasti tahu, namanya adalah Ann. Dia adalah versi kecilku yang tetap ajaib kulihat hingga saat ini. Aku sampai detik ini masih sangat belajar tentang anak ini. Anak ini sangat terbuka, jujur dan kadang nyeplos tanpa filter jika melihat sesuatu. Dia anak yang sangat cerdas. Saking cerdasnya, aku sering kelabakan untuk memahami cara berpikir dan merasakan apa yang ia rasakan.
Ia kadang memiliki tatapan mata penuh rasa sinis, tapi didalamnya ada rasa perih dan kesedihan yang dalam. Ia bilang kepadaku, hari ini, tidak perlu menanggung derita orang yang gak mengerti penderitaan kita. Jangan terlalu baik pada orang. Katanya, buat apa peduli sama orang-orang yang bahkan tidak peduli akan diri kita. Ia juga bilang, kalau ia akan merasakan luka-luka yang ditinggalkan orang-orang yang pernah menyakiti dirinya. Ia sadar betul satu per satu. Tapi kadang aku tidak memahami, bagaimana anak ini bisa sangat sulit ditebak emosinya. Sepertinya lukanya lebih dalam dari yang kukira.
Sungguh, anak ini kerap membuatku tertegun. Ia bertanya, aku sudah berbuat baik, tapi kenapa orang lain semena-mena. Kujawab lah, kita berbuat baik untuk diri kita sendiri. Lalu dijawab sama dia, "dunia ini kebanyakan orang baik, tapi bodoh. Aku mau jadi pintar dan kadang-kadang baik saja, ketimbang ikut-ikutan bodoh". Astaga! wkwkwkwkwk. K.O aku dengan jawabannya.
Kadang jawabannya out of the box. Aku pernah tanya, otak kita ini terbuat dari apa sih Ann? Dia jawab dengan perkataan dengan kunci SRP. Apa itu? Katanya saraaaaapppppp... Wkakakakakaka..
Aku mulai banyak mencair dengan humor ketika berbicara dengannya. Sungguh anak ini anak paling ajaib yang pernah kutemui. Sekarang ia bilang, mau belajar merasakan emosi. Ada emosi dasar yang menurutnya menyebalkan. Dia tidak bisa berbicara apa yang ia rasakan dan mau. Ia mau jujur. Dan sepertinya aku harus siap-siap dengan celetukannya yang kadang ga kenal tempat. Tapi ya dengan kesadaran. Anak ini, adalah anak kesepian, pintar dan mulai sadar trantum itu perlu untuk mencari apa yang terjadi. Anak ini sungguh hebat. Hari ini pun ia berkata hal yang sangat membuatku berpikir
"Mba pikir, aku datang setelah kematian ibu, bukan tanpa alasan? Aku menolongmu. Kamu terlalu menjaga perasaan dan menanggung beban orang lain. Aku akan bantu melepaskannya"
Ku tanya? Bagaimana?
Dengan berdoa...
Aku bilang "Amin"
👧💞😀😃
Tidak ada komentar:
Posting Komentar