Jumat, 17 Juli 2026

Orang Tua Yang Menjadi Anak-Anak

Bapak ku bukanlah bapak yang sempurna. Dia manusia biasa. Ia orang yang baik dan ramah. Untuk ukuran laki-laki ia lumayan ganteng, Ganteng banget malah. Ia berasal dari keluarga yang berada. Sebagai anak bungsu, ia mendapat banyak previllge. Bapak tipe orang yang provider, memberi semua kepada anaknya tanpa pandang bulu. Ia sangat mudah memahami perasaan orang lain, sangat sabar, tidak pernah membalas atas hal-hal buruk yang pernah dilakukan oleh orang yang menyakitinya.

Bapakku tentu punya kesalahan yang mungkin sampai hari ini sulit ku mengerti. Ia mau menikahkan kakak ku perempuan pada laki-laki anak orang kaya yang goblok itu. Yang kemudian menyeret keluarga kami pada sekian banyak hutang, sekian banyak cerita dramatis, dan penyakit yang ia derita hingga akhir hidupnya. Mungkin hal itu yang perlu dijalani oleh beliau. 

Sekian lama, aku mencoba memahami apa konsekuensi dari yang dilakukan oleh alm Bapak atas pernikahan kakak perempuanku. Aku sering melihat bahwa pasca kakak perempuanku menikah, Bapak seperti tidak akur dengan ibu. Ada debat sengit diantara mereka secara batin tentang keputusan itu. Meski tentu saja, mereka tetap terlihat akur didepan publik, tapi aku melihat mereka bertengkar. Ada hal yang tidak selesai dari percakapan mereka dimana ibu mungkin menyalahkan bapak atas keputusan ini.

Apa yang kurasakan. Aku jujur sangat tidak nyaman sekali berada di rumah, dimana dua orang dewasa tidak sepakat atas keputusan dalam pernikahan, hanya akn menimbulkan luka satu sama lain. Aku harus menghadapi keduanya yang setiap hari saling marah, satu diam. Pola berulang dan itu ku copy tanpa sadar, namun beruntung aku mulai memahaminya. Tidak ada percakapan yang hangat diantara keduanya paska kejadian 1995 itu. 

Sebagai perempuan, peristiwa perselingkuhan bapak juga menimbulkan kesulitan. Ia berupaya mempertahankan bapak, Mungkin ia juga ketakutan untuk menjalani hidup tanpa bapak, tapi melakukan hal-hal yang konyol dengan cara berdandan. Tidak ada pernah ada penyelesaian keluarga dengan dialog. Yang ada hanya caplok mencaplok satu sama lain. Menang satu dengan menang yang lain, yang menimbulkan rasa salah.

Sampai akhir hidupnya, mungkin ibu menyesalinya dan bapak pun juga.

Tapi akulah yang menanggung traumanya. Sepertinya aku benar-benar lelah, dua orang dewasa tidak bersikap dewasa. Bersikap kekanak-kanakan. Tapi aku menyadari kekanak-kanakan itu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Orang Tua Yang Menjadi Anak-Anak

Bapak ku bukanlah bapak yang sempurna. Dia manusia biasa. Ia orang yang baik dan ramah. Untuk ukuran laki-laki ia lumayan ganteng, Ganteng b...