Minggu, 05 Juli 2026

Deactive Sosial Media

Seorang kawan menanyakan kepadaku, apa yang menyeabkan aku mendeactive beberapa sosial media, bakan instgaram sering tidak aktif pada periode tertentu?

Well, bisa dibilang, aku memang sengaja memutuskan untuk diet bahkan kadang-kadang bisa dibilang hiatus ya dari sosial media. Ini juga menurutku salah satu detox mental yang kulakukan agar tidak terpapar banyak informasi yang kerapkali membuatku merasa menghabiskan energi.

Pertama-tama, aku memang menggunakan sosial media secara aktif sebelum depresi. Facebook aku gunakan untuk menulis atau mengunggah pikiran yang selama ini mengganggu. Twitter atau X pernah sangat aktif aku gunakan, terutama berbalas atau meretweet banyak hal yang kusuka. Namun, keduanya juga akhirnya tidak aku aktifkan lagi. Meski akunnya masih ada. Eh tidak denk, akun X yang dulu aktif kugunakan, pernah hilang. Aku mencoba membuat baru tapi aku tidak menggunakannya lagi karena sangat short sekali untuk otak.

Sementara instragam sudah sejak 2012 aku gunakan. Awalnya hanya iseng aku buat saat aku di Bangkok saat itu. Tapi lama-lama, aku menggunakan instagram untuk menjadi tempat menyimpan artefak traveling dan riset di luar negeri maupun dalam negeri. Namun sejak depresi kualami sejak 2020, aku mendeactive instagram cukup panjang. Mungkin pernah 1 tahun. Dan ternyata aku merasa lebih fokus setelahnya. Sesekali aku mengaktifkan instagram jika aku merasa butuh untuk mengabadikan momen traveling. Itu pun biasanya setelah beberapa hari aku pulang dari traveling. Terakhir, aku ke Raja Ampat, momen itu banyak kuabadikan di instagram untuk bisa kusimpan. 

Aku sebenarnya mulai agak tidak tertarik instagram beberapa waktu belakangan. Entah kenapa, terasa begitu berisik. Terutama sejak rezim presiden baru. Rasanya instgaram mirip dengan pasar yang tidak ada habis-habisnya. Orang protes, caci maki dan itu menggangu mental. Belum lagi, beberapa orang kaya yang makin flexing ditengah situasi ekonomi yang gak baik-baik saja. Rasa-rasanya tidak elok memamerkan sesuatu dimana banyak orang sedang kesulitan dengan badai ekonomi. 

Ada satu waktu, aku ingin menuliskan caption atau membagikan gambar, apa yang kulakukan. Namun, akhirnya berakhir dengan menyadari diri, tidak semua hal perlu dibagikan. Aku merasa jika hidup privat jauh-jauh sangat baik dan melakukan sesuatu tanpa orang lain tahu itu adalah kemewahan. Sesekali aku mengintip sosial media untuk mengupdate pekerjaan konsultan. Di waktu yang lain, aku membuka linkend untuk mendapatkan update ilmu baru.

Beberapa waktu kedepan, mungkin aku akan mulai sibuk dengan berbagai les bahasa. Sejak depresi, otakku agak lolak mencerna bahasa, jadi aku memutuskan masuk ke kelas bahasa inggris lagi. Siapa tahu, bisa keluar negeri lagi seperti dulu. We will see. Right. Happy weekend and focus on your real life :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Deactive Sosial Media

Seorang kawan menanyakan kepadaku, apa yang menyeabkan aku mendeactive beberapa sosial media, bakan instgaram sering tidak aktif pada period...