Jumat, 21 Agustus 2026

Bismillah-Bismillah-Bismillah

Pengalamanku mengalami depresi membuatku tersadar dan tersentak, betapa agungnya kuasa Allah SWT atas hidup manusia. Dari manusia yang sombong dan merasa kuat, lalu diluluh lantakan dengan perasaan yang berantakan. Untuk memberiku kasih sayang, bahwa hanya Allah SWT lah yang menyayangiku tanpa syarat.

Aku selalu mengingat hal paling intim sebagai manusia, ketika tidak ada manusia lain yang bisa menolong, doa adalah penolong terakhir. Penyerahan total ini betul-betul aku syukuri. Aku memohon dan merengek untuk pertama kalinya sebagai manusia, karena tak ada lagi tangan manusia yang menolong. Kelak suatu hari, aku tahu itu bagian kesombongan manusia. Aku manusia yang kerapkali hanya mengandalkan logika, kemudian secara terang-terangan dibantah olehNya. 

Aku ingin sembuh tapi Allah justru memperjalankan diriku pada situasi yang bahkan tidak aku bayangkan. Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang itu mengajakku untuk menguji banyak hal yang jauh-jauh dari nalarku. Untuk apa? Agar logikaku tidak selalu bermain melebih kepercayaan kepadaNya. Banyak sekali aku ditegur dan mengubah banyak hal untuk mengatur nafsu dan karepku sendiri. Perang itu berada di diriku. Kesadaran-kesadaran itu terbangun tidak instan, perlahan tapi membuatku belajar. Tidak seperti di sekolah, aku merasakan kesadaranku dibangun dari puing-puing rasa sakit tak bertepi. Pernahkah kalian merasa ingin menyerah dan jalan satu-satunya adalah pasrah. Itu yang kujalani berkali-kali. Ini perjalanan tentang percaya. Penderitaan hanya bisa dilalui dengan tidak melampaui waktu, perlahan, menjadi jejeg dan kuat karena menjalani prosesnya.

Aku dulu, yang khawatir soal penghasilan, lalu dicabut ketakutannya perlahan untuk tidak menghitung apa yang seharusnya berhak di hitung olehNya, setelah aku berjuang. Tugas kita adalah berjuang, seperti kata Cak Nun. Lama-lama, aku menjadi tersadar untuk kembali, aku juga harus berjuang, agar kelak kalau balik ke Gusti Allah, aku gak malu-maluin sekali untuk pulang. Setidaknya sudah berguna, ditengah banyak usaha yang kuupayakan dengan segala keterbatasanku. Allah menemaniku, dengan percaya jika aku pasti akan selamat. Aku tidak meragukanNya. Meski dihantam berkali-kali. Allah melihatku berjuang, dan aku tidak meragukannya. Ia tahu, aku bukan manusia yang tidak berusaha. Aku manusia yang berusaha untuk menghadapi hidup yang perih. Meski gagal, aku mencoba lagi. Aku hanya hamba, dan itu yang Ia minta kepada manusia. 

Aku sering merasa, apakah menuliskan ini diperbolehkan Ya Allah. Ia memintaku tetap menulis sebagai bakat, tapi gunakan itu untuk orang banyak. Bermanfaat karena itu telah diberikan, maka bacalah dan belajarlah. Tidak hanya untuk bekerja tapi bermanfaat. Bukan hanya untuk kebutuhan tapi sebagai bentuk rasa syukur. Syukur dengan alhamdulillah. Hati yang selalu bersyukur, adalah hati yang dekat dengan Tuhannya. Bismillah-bismillah-bismillah, semoga proses ini selalu berjalan dengan tatag dan tabah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bismillah-Bismillah-Bismillah

Pengalamanku mengalami depresi membuatku tersadar dan tersentak, betapa agungnya kuasa Allah SWT atas hidup manusia. Dari manusia yang sombo...